Serigala berbulu domba

Keluarga Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Serigala berbulu domba
Serigala berbulu domba © Photodynamx | Dreamstime.com

Buya Hamka pernah berujar:

“Cinta itu laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah kedurjanaan dan kedustaan. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh keikhlasan dan kesetiaan setia.”

Serigala berbulu domba

Hasad jahat saudara seayah lagi serumah Nabi Yusuf a.s telah beranjak jauh. Bibit prasangka keliru berkembang menjadi makar jahat terhadap Yusuf. Sangkaan keliru terhadap ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s, mengawali titik noda prasangka di hati.

Maksud hati ingin mengalihkan sayang ayahanda: dari Yusuf a.s ke mereka. Maka, jalan dusta pun dirintis saksama lagi bersama. Lobi tingkat tinggi pun dijalankan bersama, agar buruk hati seakan baik budi terhormat. Niat jahat ditutup topeng wajah tak berdosa. Sungguh serigala berbulu domba.

“Ia (Ya’qub) berkata: Sesungguhnya kepergian kalian bersama ia (Yusuf) sangat menyedihkanku dan aku khawatir ia dimakan serigala, sedang kalian lengah darinya.”

(Quran surah Yusuf, 12:13)

Seakan muncul firasat buruk di pikiran Nabi Ya’qub a.s. Membaca sesuatu di balik argumentasi cerdik yang diajukan sepuluh anaknya. Bukan izin yang mereka pinta, melainkan keraguan yang berujung pengakuan adanya pembedaan sang ayah dalam bersikap terhadap anak-anaknya.

“Sesungguhnya mereka berkata: Jika dia dimakan serigala, padahal kami golongan (yang kuat), kalau demikian tentu kami orang-orang yang rugi.”

(Surah Yusuf, 12:14)

Kebohongan bertaut mengikuti kedustaan. Bohong saudara seayah lagi serumah. Jika sudah sekali lakukan kebohongan, hati dan diri akan tertarik terbawa ke dalam arus kebohongan berikutnya. Bohong dan dusta adalah dosa. Kecil atau besar tetaplah dosa.

“Mereka berkata: Wahai Ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami sekalipun kami berkata benar.”

(Surah Yusuf, 12:17)

Bohong dan dusta, istighfar dan tobat

Makar jahat telah dijalankan sesuai rencana. Persiapan sebelum dan sesudah telah dimatangkan bersama. Alasan sebelum dan alasan sesudah telah dimufakatkan sepuluh bersaudara.

Dulu, sebelum pergi, dihadapan ayah mereka akui bahwa diri mereka kuat lagi banyak jumlah. Alhasil, itu sudah cukup buat menampik kegundahan hati seorang ayah lagi nabi.

“Jikalau pun terjadi, tentu kami semua adalah orang-orang merugi.” Ini adalah ungkapan pembenaran diri. Begitulah alibi sepuluh bersaudara seayah lagi serumah menutup rapat makar jahat di hati.

Orang yang bersalah tetap mencari beribu alasan pembenaran diri. Tangan kotor mereka yang mencelakai, serigala pula menjadi kambing hitam. Sudah Nabi Yusuf a.s mereka celakai, ayahnya sendiri yang diberatkan kesalahan.

‘Cuci tangan’, kata orang kita. Mereka beralasan: “Jikalau kami semuanya berkata dan berbuat benar, engkau wahai Ayah tetap takkan pernah percaya terhadap kami.” Padahal, hakikat dusta sedang dipertontonkan. Ibaratnya, sudah terang masih bersikukuh, sudah salah masih bersikukuh.

Tak cukup serigala dijadikan alat kebohongan makar jahat mereka. Guna meningkatkan rasa percaya diri dalam kedustaan, darah domba mereka lumurkan ke baju Yusuf a.s. Kebohongan berikutnya, dosa selanjutnya.

Jadi, kebohongan dan kedustaan berawal dari diri yang hitam hati dan keras kepala. Ketika bohong pertama dianggap biasa, yakinlah akan terdorong hati dan diri melangkah ke bohong kedua, dan begitu seterusnya. Jika tak mau terjebak dalam kondisi itu, sudah selayaknya kita menyegerakan dan memperbanyak beristighfar dan bertobat.