Setia anak tunas pisang dengan induknya

Kehidupan Roni Haldi Alimi 23-Sep-2020
dreamstime_s_194599541
Kesetiaan tunas pisang © Gheorghe Mindru | Dreamstime.com

Melihat mengamati alam sekeliling terkadang membawa pengetahuan memahamkan diri akan arti sebuah kehidupan. Apa saja yang telah dicipta ada di dunia ini, sungguh tiada yang tak bernilai tak berharga. Setiap ciptaan-Nya menyimpan memendam hikmah bagi siapa saja yang mau membaca mentadabburinya.

Tujulah arah pandangan mata kita kepada rumpun pisang yang banyak kita temui hidup beranak pinak di lingkungan. Batang pisang hidup tumbuh besar bahkan sampai berbuah tak keluar dari rumpunnya. Anak tunas pisang tumbuh besar melingkar mengelilingi induk membesarkan rumpunnya.

Seakan anak tunas pisang berdiri berjejer mengelilingi induknya sebagai tameng penahan bagi induknya dari ancaman yang datang menghampiri. Mereka anak tunas ingin mengatakan, ‘jika kalian ingin mengganggu merusak rumpun kami, hadapi kami dulu.’ Induk dijaga dilindungi hingga sampai berputik bernuah dengan tandan besarnya.

Begitulah manusia dilahirkan dibesarkan, diusaha dididik oleh ayah bunda dalam rumpun keluarganya. Namun, tatkala manusia bernama anak sudah tumbuh dewasa menjadi orang besar dikenal punya nama, si anak akan pergi jauh meninggalkan keluarga bahan berpisah dari ayah bunda yang telah berjasa melahirkan membesarkannya.

Bahkan, tak sedikit yang tak kembali ke kampung halamannya guna membesuk menyenangkan ayah bunda serta sanak familinya. Sederet alasan bisa dicari, dijadikan sandaran tempat berlindung untuk membenarkan kelakuan keakuan oleh seorang anak.

Sibuk dengan pekerjaan, tak cukup waktu ada tersedia, tak tepat masa untuk hanya sekedar bertanya kondisi orang tua, banyak meeting janjian dengan rekan kerja, jadwal mengajar padat, kewajiban dinas tugas yang selalu ada tak kunjung berhenti, tanggung jawab besar sebagai pimpinan suatu instansi juga masuk dalam lis alasan, pokoknya tak cukup tak ada waktu untuk orang tuanya, walau hanya sekedar bertanya, ‘Apa kabar di sana?’

Bergurulah pada anak tunas pisang yang mengelilingi menjaga induknya dari segala kemungkinan terburuk terhadap keluarga mereka. Kesetiaan anak tunas pisang terhadap induknya tak hanya memadai melindunginya saja, tapi menjaga menjamin induknya hingga sampai masa jantung berubah menjadi buah sampai masa panen tiba.

Sudah seharusnya seorang anak dari orang tuanya berbakti berbuat baik kepada ayah bundanya tak bermasa berbatas waktu dan ruang. Karena kasih sayang kedua ayah bunda yang berbanding dengan balsana bakti anaknya.

Kesetiaan kepada ayah bunda tak butuh banyak besar biaya, cukup menyenangkan hati keduanya, itulah setia sebenarnya. Bukan kiriman transferan uang biaya hidup saja yang diharap diingin mereka, bukan harta banyak melimpah sebagai balas jasa bagi mereka, cukup tampak hadirkan wajah setia anak tunas di hadapan induk; ayah bunda.

Ingatlah, hati pisang berada dalam batang pisang sedangkan jantung pisang berada terpisah di luar batangnya. Namun demikian batang pisang tidak pernah keluar dari rumpunnya. Begitulah seharusnya anak manusia yang hati dan jantungnya berada dalam batang tubuhnya. Pantaskah seorang anak manusia tak setia pada induk; ayah bundanya?