Buletin SalamWebToday
Daftar untuk mendapatkan artikel SalamWeb Today mingguan!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Shibgah atau celupan imaniah

Islam 24 Des 2020
Opini oleh Tholhah Nuhin
Shibgah atau celupan imaniah
Shibgah atau celupan imaniah © Odua | Dreamstime.com

Iman itu bukan hiasan bibir dan pemanis kata apalagi sekedar keyakinan hampa. Tapi sebuah keyakinan yang menghunjam dalam hati, diungkapkan dengan lisan dan  dibuktikan dengan tindak nyata.

Shibgah atau celupan imaniah

Pengakuan seorang mukmin akan keimanannya yang tidak disertai dengan bukti amal saleh, bisa dikategorikan sebagai pengakuan tanpa makna dan tidak berdasar. Di sini Allah SWT menjelaskan kepada kita tentang senyawa keimanan dan amal saleh dalam surat al-Ashr;

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati agar mentaati kebenaran dan nasehat menasehati agar tetap sabar.”

(Surah al-Asr, 103:1-3)

Ayat-ayat quraniah tentang hal ini banyak sekali, bahkan setiap ‘khitab ilahi’ (panggilan Allah) yang ditujukan kepada mukminin selalu disertai dengan perintah untuk mengerjakan amal saleh yang berkaitan dengan ibadah dan larangan untuk meninggalkan hal-hal yang diharamkan Allah SWT.

Iman yang menshibghah (mencelup atau mewarnai) akal, hati dan jasad seorang mukmin, ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan maka niscaya pilihannya itu pasti jatuh pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.

Ia senantiasa memutuskan sesuatu dengan haq dan menghindari hal-hal yang menjurus kepada kebatilan. Jadi seorang yang telah tershibghah imannya, ia akan menjadi cahaya bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya.

Allah SWT menghidupkan manusia dengan cahaya Islam dan ilmu

Allah SWT berfirman:

“Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian ia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat ke luar dari padanya?…”

(Surah al-An’aam, 6:122)

Demikianlah Allah SWT menghidupkan manusia dengan cahaya Islam dan keilmuan. Sehingga hal itu memberikan manfaat dan kontribusi real tidak saja bagi lingkungannya bahkan sampai pada sekala ‘alamiah (internasional).

Rasulullah SAW menganalogikan seorang mukmin yang benar-benar memahami keislaman dan keimanannya seperti lebah. Lebah itu mempunyai sifat tidak pernah melakukan kerusakan.

Lihatlah ketika hinggap di dahan-dahan pepohonan atau tangkai-tangkai bunga, tidak pernah merusaknya. Lebah selalu mengkonsumsi makanan yang terbaik yaitu sari bunga. Dan menghasilkan sesuatu yang paling bermanfaat yaitu madu. Maka makhluk hidup yang berada di sekitarnya merasa aman dan nyaman.

Begitulah seharusnya muslim dan mukmin, dia harus mampu menebar pesona Islam. Melukiskan tinta emas kebaikan dalam kanvas kehidupan secara individu dalam semangat kebersamaan.

Semangat kebersamaan inilah yang seharusnya dimiliki sertiap mukmin. Kepekaan terhadap apa saja yang sedang menimpa masyarakat harus menjadi bagian kehidupannya. Jangan berpuas diri dengan urusannya sendiri tanpa memperhatikan dan mempedulikan masyarakat sekitarnya.