Si kaya dan si miskin: pemilik dua kebun memandang dunia

dreamstime_s_55814371
Si kaya dan si miskin: pemilik dua kebun memandang dunia © - Dreamstime.com

Surah al-Kahfi secara umum bermuatan kisah-kisah hikmah dalam al-Quran. Setidaknya ada empat kisah besar yang nampak dalam surah ini. Pertama, kisah tentang Ashabul Kahfi dan kedua kisah pemilik dua kebun (yang kita akan ceritakan pelajarannya ini).

Sementara yang ketiga adalah kisah Nabi Musa a.s, dan keempat kisah tentang Dzul Qarnain. Keempat kisah ini akan sangat sarat pelajaran hidup yang bisa dipetik.

Kisah pemilik dua kebun dalam al-Kahfi, 32-44

Dalam artikel ini mengajak pembaca untuk memasuki muatan faedah kisah pemilik dua kebun yang tercantum dalam al-Quran surah al-Kahfi, ayat 32 hingga 44.

Orang yang beriman dan orang yang ingkar. Dua orang yang berteman, teman yang beriman Allah SWT uji dengan kesempitan hidup. Rezeki yang sedikit, harta dan barang-barang yang ia miliki. Namun, Allah SWT memberinya nikmat berupa nikmat iman, kepercayaan, rida dengan takdir Allah.

Sementara sebaliknya, temannya yang ingkar itu Allah SWT uji dengan kelapangan rezeki. Kemudahan duniawi, harta yang banyak, materi yang berlimpah. Allah mengujinya, apakah ia akan termasuk orang yang bersyukur atau kufur, rendah hati atau sombong.

Ayat 32-33 diceritakan tentang kisah teman yang ingkar memiliki dua kebun anggur. Pohon-pohon kurma mengelilingi ladangnya. Di antara keduanya, ada ladang yang Allah SWT alirkan air ke kebun itu sehingga kebun itu tumbuh segar, saat panen melimpah dan membuatnya kaya dari hasil panen itu.

Dengan penataan kebun yang hebat ini, ia memiliki ilmu pengetahuan dalam mengatur dan mengelola lahan. Ia mampu menggabungkan tanaman yang berbeda dengan susunan rapi serta irigasi yang baik.

Pada ayat 34-36 ia merasa bangga diri, sombong dan angkuh. Ia berkata kepada temannya: “Hartaku lebih banyak dari hartamu dan pengikutku lebih kuat.” Demikianlah kebun dan kekayaan membuatnya lupa kepada Sang Pemilik sesungguhnya.

Ia tidak menyadari kalau itu hanya ujian semata. Sampai ia melanjutkan kalimatnya: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku kira kiamat tidak akan datang.” Perasaan bangga kerap kali melupakan seseorang.

Harta dunia hanya titipan dan ujian hidup di dunia

Selanjutnya, ayat 37-39. Sebagai sahabat yang baik temannya mengingatkan kepadanya, bahwa: “Engkau diciptakan dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan engkau laki-laki yang sempurna.” Diingatkan tentang asal mula penciptaan manusia. Teman yang baik melanjutkan: “Kenapa engkau tidak menyebut nama Allah saat engkau memasuki kebunmu dengan berkata ‘Sungguh dengan kehendak Allah semua ini terwujud’  tidak ada kekuatan kecuali Allah.”

Ayat 40-44 menceritakan proses kehancuran kebun teman yang ingkar. Dimulai dengan air yang tidak mengalir lagi, pohon anggur yang roboh, dan penyanggah yang tidak berfungsi lagi. Penyesalan selalu datang di akhir, namun semua sudah berakhir. Dan Allah SWT memberi balasan dan pahala yang baik kepada manusia.

Demikianlah kisah yang penuh makna ini, kisah nyata yang terjadi. Agar kita tidak meniru yang salah. Harta dunia hanya titipan dan ujian semata dalam hidup di dunia ini, jangan sampai lupa dari mana berasal dan tujuan akhir kembali kepada Allah SWT.

“Sesungguhnya Allah memberi dunia kepada siapa yang Dia cinta dan juga pada yang Dia benci. Tapi Dia tidak memberi nikmat agama ini (Islam dan iman), kecuali hanya pada orang yang Dia cintai.”

(Hadis riwayat al-Hakim)