Siapa menanam akan menuai

Filsafat Komiruddin
Pilihan
Siapa menanam akan menuai
Siapa menanam akan menuai © Muhammad Annurmal | Dreamstime.com

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

(Quran surah al-Zalzalah: 7-8)

Siapa menanam akan menuai

Setiap manusia pasti memiliki mimpi yang ingin diwujudkan, rencana yang akan diupayakan, serta doa yang terus dipanjatkan. Dan dalam ranah duniawi, nantinya ketiga hal tersebut – Mimpi, Rencana dan Doa – akan dipertemukan oleh dua hal, yaitu Peluang dan Tantangan.

Mimpi seseorang akan sangat dipengaruhi oleh daya dan jangkauan imajinasinya. Baik imajinasinya, maka baik pula mimpinya. Rencana seseorang akan sangat dipengaruhi oleh seberapa luas informasi dan pengetahuan yang dimilikinya.

Semakin luas informasi dan pengetahuan yang dimiliki, maka akan semakin jelas tahapan demi tahapan yang ada dalam rencana yang dibuatnya. Doa yang dipanjatkan akan sangat dipengaruhi oleh seberapa dalam pemahaman dan keyakinannya. Semakin dalam pemahamannya, maka akan semakin kuat keyakinannya

Bila hal di atas sudah jelas dan melekat, maka dalam kaidah ikhtiar kita tinggal membutuhkan kecerdikan dalam memanfaatkan setiap peluang. Serta keberanian dalam menghadapi segala tantangan.

Perjalanan hidup manusia memang berliku – liku dan penuh dengan tantangan serta cobaan. Kehidupan manusia idealnya dimulai dari perbaikan diri sendiri, kemudian perbaikan keluarga, masyarakat yang berbangsa dan bernegara.

Siapa yang menanam kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan pula. Ketika seorang ibu atau ayah menginginkan anaknya menjadi baik, menjadi hebat dan sukses, maka asupan kebaikan harus lebih dominan kita berikan.

Bila di kehidupan keluarga sebagai orang tua kita menasehati anak tetapi orang tuanya tidak mencontohkan apa yang dinasehati, maka jangan harap anak-anak kita akan mengikuti apa yang kita nasehatkan tersebut.

Pilihan menjadi terpuji atau tercela

Hidup adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk menjadi seseorang yang terpuji atau tercela. Pilihan untuk menjadi seseorang yang besar atau kerdil.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.”

(Quran surah al-Isra’, ayat 7)

Ayat ini ingin memberi ketenangan pada setiap hati yang gelisah. Ingatlah selalu bahwa tidak ada ikhtiar kebaikan kita yang sia-sia. Pahala atas kebaikan itu terjaga rapi disisi-Nya, walau tidak ada seorang pun yang berucap terima kasih atas jasa kita.

Tugas kita didunia hanyalah berdoa dan berusaha. Bila segala doa dan ikhtiar yang kita lakukan berhasil, maka kita akan mendapatkan ibroh berupa ‘Tambahan pengalaman akan keselarasan target dan rencana usaha dan hasil’, serta pembelajaran sikap syukur dan rendah hati.

Namun, apabila yang kita doakan dan ikhtiarkan ternyata belum berhasil, maka kita pun mendapatkan ibroh lainnya yaitu, ‘Tambahan ilmu dan pengalaman akan ketidakselarasan target, rencana, usaha dan hasil’, serta pembelajaran akan sikap sabar dan semangat tak gampang putus asa.

Tidak ada yang sia-sia di sisi Allah SWT. Maka, tanamlah biji atau bibit yang ada di tanganmu meskipun esok kiamat. Teruslah berbuat baik meskipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok.

Teruslah berbuat baik meskipun perbuatan kita tidak terlihat oleh orang lain tetapi biarlah Allah Taala yang menilainya.

“Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

(Quran surah at-Taubah, ayat 105)

 

“Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.”

(Quran surah al-Baqarah, ayat 197)