Sikap dan risiko yang ada dengan mereka

Jiwa Komiruddin 18-Sep-2020
dreamstime_s_107012934
Sikap dan risiko yang ada © | Dreamstime.com

Hidup ini adalah perjalanan panjang sepanjang usia yang ditetapkan. Dalam perjalanan yang panjang akan banyak tikungan-tikungan yang kadang tajam, curam dan di sana sini lobang. Tapi tak sedikit juga taman-taman yang penuh semerbak bunga bunga yang menggoda. Atau oasis yang menghilang dahaga dan membuat betah.

Seorang kesatria (Rijal) itu dapat dilihat dari caranya menentukan sikap (Mawaqif) terhadap pilihan pilihan hidup. Dalam pribahasa arab terkenal ungkapan ‘Arrijaalu Mawaaqif’. Jika hal itu menjadi prinsip, maka bertahan dalam prinsip tersebut adalah tuntutan apapun risikonya. Tak perduli harta akan melayang atau jabatan harus hilang. Tak akan pernah ada tawar menawar, ragu atau menjualnya dengan harga yang murah.

Ketika kaum kafir Quraisy kehabisan akal untuk menghentikan lajunya dakwah pada periode Makkah, mereka mendatangi pamanNabi Muhammad SAW, Abu Thalib r.a. Mereka menawarkan harta yang banyak, jabatan yang menggiurkan dan wanita wanita yang jelita. Semuanya beliau tolak dengan mengatakan perkataannya yang lantang dan mengguncang tanpa ragu sedikitpun.

“Wahai pamanku, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, supaya aku meninggalkan urusan ini, saya tidak akan meninggalkan nanya walaupun saya harus binasa”.

Inilah Shuhaib Arrumi, meninggalkan seluruh harta kekayaannya di Makkah, dan menyerahkannya dengan suka rela kepada orang kafir Quraisy yang mengejarnya agar ia bisa hijrah menyusul Rasulullah SAW di kota Madinah. Mau tahu berapa banyak kekayaannya? Kekayaannya sebanyak delapan kali lipat kekayaan seseorang yang terkaya dari kafir Quraisy.

Ketika sampai di Madinah, Rasulullah SAW langsung menyambutnya dengan perkataan yang jika ditimbang dengan seluruh isi dunia lebih ia sukai. “Beruntunglah perniagaanmu wahai Shuhaib…”

Inilah Mush’ab bin Umair, seorang pemuda yang parlente, ganteng dan tajir disenang para wanita wanita Mekkah. Ketika masuk Islam, seluruh fasilitas hidup yang disediakan untuknya ditarik dan dilucuti oleh ibunya. Tidak ada lagi pakaian licin, minyak wangi yang harum semerbak, uang di dompet dan kendaraan kuda yang bagus. Semua risiko tersebut ia terima dengan lapang dada. Ia menyadari inilah konsekuinsi atas sikapnya. Tak ada penyesalan sedikitpun.

Sampai akhirnya ia meninggal pada Perang Uhud, di mana hartanya tidak cukup hanya untuk membeli kain kafan. Dan masih banyak lagi contoh dari para sahabat yang teguh memegang prinsip dan berani mengambil risiko.

Ketika tukang sihir Fir’aun mengetahui hakikat yang sebenarnya, mereka langsung menyatakan keimanannya terhadap Nabi Musa a.s di depan Firaun. Mereka diancam untuk disalib dengan memotong kaki dan tangan mereka.

“Demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya”.(Surah al-A’raf, ayat 124). Namun mereka tidak pernah takut akan risiko yang akan menimpa mereka akibat sikap yang melukai Firaun.

“Ahli-ahli sihir itu menjawab: “Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali.” (Surah al-A’raf, ayat 125). “Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami”. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (Surah al-A’raf, ayat 126)

Begitulah sejarah bercerita kepada kita bahwa setiap sikap dan keputusan pasti ada risiko dan harga. Maka ketika sesuatu itu sudah kita yakini kebenarannya dan diri kita tenang dengannya, maka sikap yang terbaik adalah bertahan apapun risikonya. Sebab di situ ada kebahagian hakiki yang tak dapat ditukar dengan sebesar apapun harta dunia.