Sikap seorang Muslim terhadap musibah dan bala

Islam 29 Des 2020 Tholhah Nuhin
Opini oleh Tholhah Nuhin
Sikap seorang Muslim terhadap musibah dan bala
Sikap seorang Muslim terhadap musibah dan bala © Motortion | Dreamstime.com

Karena ujian dan musibah merupakan sebuah kepastian, maka tak seorangpun yang luput darinya. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin berat pula ujiannya. Karena itu, Rasulullah SAW pernah mengajarkan jurus jitu kepada umat Islam dalam menjalani ujian hidup ini.

Terutama untuk menghadapi musibahnya, sekaligus sebagai pujian bagi seorang mukmin yang telah berhasil mendapatkan manisnya keimanan.

Bagaimana sikap seorang Muslim terhadap musibah dan bala?

Rasulullah SAW mengatakan:

“Orang mukmin itu memiliki keunikan, sehingga suluruh urusannya menjadi baik untuknya, dan keunikan ini tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang yang mukmin. Yaitu; apabila ia mendapatkan kenikmatan, ia pandai bersyukur, hal ini baik baginya, dan apabila ia mendapatkan musibah, ia tegar bersabar, hal ini juga baik baginya.”

(Hadis riwayat Muslim, dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan r.a)

Bahkan di dalam hadis qudsi, Rasulullah SAW menerangkan, bahwa Allah SWT berfirman:

“Tidak ada balasan  bagi hamba-Ku yang mukmin dari penduduk dunia, ketika Aku mengambil kesenangannya lalu ia merelakannya, kecuali Surga.”

(HR Bukhari, riwayat dari Abu Hurairah r.a)

Sehingga seorang muslim dengan keimanan yang ia miliki dapat melihat ujian atau bala sebagai hal yang menyenangkan. Allah SWT berfirman:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Aku akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah. Dan hanya kepada Akulah kamu dikembalikan.”

(Quran surah al-Anbiya, 21 ayat 35)

Nikmat sebagai ujian, kabar gembira bagi orang sabar

Nabi Sulaiman a.s misalnya, yang diberi aneka kuasa dan kenikmatan, menyadari fungsi nikmat sebagai ujian sehingga beliau berkata sebagimana diabadikan Al-Quran:

“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmatnya)?”

(Surah al-Naml, 27:40)

Maka cukuplah sebagai solusi terapi mental yang paling manjur bagi orang-orang yang beriman ketika musibah dunia mengguncangnya. Pesan Allah SWT berikut ini:

“… Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un’ (sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali). Mereka itulah orang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

(Surah al-Baqarah, 2:155-157)

Dengan ingat dan sadar, dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup dan kemana kita akan kembali? Seseorang akan mendapatkan kembali kekuatan dan staminanya untuk terus bertahan dan melanjutkan sisa perjalanan hidupnya untuk menjadi lebih baik.

Sementara ajaran ideologi selain Islam tidak sanggup menyelamatkan pemeluknya dari keterpurukan moral dan mental. Bahkan bunuh diri, di saat peristiwa dunia menghimpitnya dan musibah mengguncang kehidupannya. Maha Suci Engkau ya Allah, yang seluruh penghuni langit dan bumi selalu bertasbih kepada-Mu.