Sosok romantis itu bernama Muhammad SAW

Pernikahan 03 Feb 2021 Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Sosok romantis itu bernama Muhammad SAW
Sosok romantis itu bernama Muhammad SAW © Apartura | Dreamstime.com

Islam adalah agama yang universal dan komprehensif. Islam tidak melulu soal ibadah atau pembahasan halal-haram saja. Sebaliknya, Islam juga mencakup seluruh aspek dalam kehidupan, dan menikah salah satunya.

Menikah tidaklah hanya dipahami sebagai ajang ‘pakai-memakai’ atau serah terima. Menikah itu punya seni mengarungi menjalani bahteranya.

Dan menikah itu unik. Hingga dalam al-Quran ditemukan sebanyak 70 ayat yang secara spesifik mengulas membahas tentang keluarga. Begitu menurut pakar hukum Islam, Prof. Abdul Wahhab Khallaf.

Begitu romantisnya Rasulullah SAW

Romantis dalam sebuah hubungan, khususnya dalam berumah tangga, sangatlah penting. Dan hal itu semua telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam kehidupan rumah tangganya. Di antaranya adalah:

Pertama, Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat romantis yang dibuktikan dengan tutur katanya. Baginda memanggil Aisyah dengan panggilan yang disukainya: ‘Aisy.

Imam Bukhari memaparkan dalam Shahih-nya. Aisyah radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwasanya pada suatu hari Rasulullah SAW memanggil Aisyah dengan panggilan ‘Aisy, yang artinya adalah ‘Kehidupan’.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam juga pernah memanggil Aisyah dengan julukan ‘Humaira’. Humaira artinya wanita yang berkulit putih, menurut Ibnul Atsir rahimahullah dalam kitab an-Nihayah.

Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam membantu istri-istrinya dalam menjalankan pekerjaan rumah tangga. Padahal, Rasulullah memiliki kesibukan dan mobilitas yang sangat tinggi sehari-hari.

Imam Bukhari dalam dua bab pada kitab Shahih, yaitu bab ‘Muamalah Seorang suami dengan Istrinya’ dan bab ‘Seorang Suami Membantu Istrinya.’ mencantumkan kisah berikut:

Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apa yang diperbuat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam jika ia bersamamu di rumah?” Aisyah menjawab, “Ia melakukan seperti yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya; ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.”

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Syarah Shahih Bukhari menerangkan riwayat di atas ini dengan mengatakan, “Hadis ini menganjurkan untuk bersikap rendah hati dan meninggalkan kesombongan dan hendaklah seorang suami membantu istrinya.”

Ketiga, Rasulullah SAW juga sering mengajak pasangannya, untuk jalan-jalan romantis di malam hari. Sambil berbincang-bincang. Sebagaimana diterangkan di hadis riwayat Imam Bukhari:

“Ketika datang waktu malam, Baginda shallallahu ‘alayhi wa sallam berjalan bersama dengan Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, dan berbincang-bincang.”

Rasulullah SAW saja romantis, bagaimana dengan kita?

Cinta adalah kunci keharmonisan hubungan berumah tangga. Salah satu aspek penting dalam cinta adalah romantis. Cinta tanpa keromantisan bagaikan kopi tanpa gula. Adanya cinta dan keromantisan dalam sebuah hubungan atau rumah tangga akanlah menjauhkan dari adanya benih pertengkaran.

Cinta yang berbalut keromantisan akan menghadirkan sakinah untuk meneguhkan keharmonisan. Romantis itu bukan aib, karena tak perlu diumbar dipertontonkan. Dan romantis itu tidak mahal, karena cukup dengan hal sederhana tapi berkesan dalam.

Romantis itu bukan basa-basi pemanis di bibir, namun datang dari lubuk hatimu yang paling dalam. Romantis itu juga kesalingan antara suami istri, bukan bertepuk sebelah tangan.