Spirit pengorbanan dalam kehidupan

Sejarah Tholhah Nuhin
Tholhah Nuhin
Spirit pengorbanan dalam kehidupan
Spirit pengorbanan dalam kehidupan © Garudeya | Dreamstime.com

Semangat berkorban adalah tradisi kenabian. Tidak ada seorang nabi melainkan mereka memiliki sifat keluhuran yaitu spirit pengorbanan.

Spirit pengorbanan dalam kehidupan

Nabi Nuh a.s memiliki jiwa pengorbanan dalam menegakkan agama tauhid ketika lebih dari sembilan abad  berdakwah terhadap kaumnya, walaupun hanya mendapatkan belasan pengikut.

Nabi Ibrahim a.s yang disebut sebagai bapak teologi internasional memiliki spirit pengorbanan yang sangat luar biasa. Walau harus menerima tribulasi dakwah dengan tuduhan melakukan subversi terhadap rezim Namrud sang penguasa tiran.

Nabi Ibrahim a.s mendapatkan hukuman berat, yaitu di bakar, yang dengan kekuasaan Allah Taala, Baginda diselamatkan dari nyala api yang sangat panas. Bahkan, spirit pengorbanan itulah yang menghantarkan Baginda merelakan anaknya untuk dikorbankan.

Manakala Allah memerintahkannya untuk menyembelih putra tercintanya Nabi Ismail a.s, yang kemudian diganti dengan seekor kambing kibas. Spirit pengorbanan inilah terus mengalir kepada nabi-nabi Allah SWT setelah mereka.

Nabi Musa a.s memiliki spirit pengorbanan dalam menegakkan al haq walau harus berhadapan rezim Firaun sang penguasa sombong, tiran dan melegetimasi dirinya sebagai Tuhan, yang kemudian Allah hukum dengan ditenggelamkan di Laut Merah.

Air mata pengorbanan itu terus mengalir dengan jernih kepada sang nabi agung Rasullullah SAW yang mengorbankan waktunya selama dua puluh dua tahun lebih menegakkan agama Allah Taala, yang dengannya tersebar kedamaian hidup di seantero dunia.

Perjuangan Rasulullah SAW sarat dengan pengorbanan luar biasa

Mereka diabadikan Al-Quran sebagai ‘Ulul Azmi’ (Rasul yang memiliki tekad). Allah SWT berfirman:

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.”

(Quran surah al-Ahqaf, 46:35)

Perjuangan Rasulullah SAW bersama para sahabat, sarat dengan nilai pengorbanan yang luar biasa. Lebih-lebih saat di marhalah (fase) Makkah. Mereka selalu menghadapi tekanan, kezaliman dan penyiksaan Kuffar Quraisy.

Gugurnya Sahabiah Sumayyah r.a, disiksanya Bilal r.a, peristiwa embargo selama tiga tahun dan perintah hijrah ke Habsyah (Ethiopia) adalah bentuk spirit berkorban para sahabat bersama Rasulullah SAW. Meskipun bentuk ujian dan pengorbanan manusia itu sama, para Nabi dan Rasul sangat berat ujiannya.

Sebagaimana digambarkan Rasullulah SAW dalam sabdanya:

“Aku berkata: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya? Baginda menjawab: Para nabi, kemudian yang sepertinya, kemudian yang sepertinya.

 

Sungguh seseorang itu diuji berdasarkan agamanya, bila agamanya kuat, ujiannya pun berat, sebaliknya bila agamanya lemah, ia diuji berdasarkan agamanya, ujian tidak akan berhenti menimpa seorang hamba hingga ia berjalan dimuka bumi dengan tidak mempunyai kesalahan.”

(Hadis riwayat at-Tirmidzi, dari Sa’ad bin Abi Waqos r.a)