Strategi setan memasuki wilayah jiwa

Iman Tholhah Nuhin 09-Nov-2020
dreamstime_s_147927148
Strategi setan memasuki wilayah jiwa © Liia Galimzianova | Dreamstime.com

Ibnu Qayyim mengajak kita mengenal lebih jauh cara setan mendekati manusia. Memasuki wilayah kepribadiannya, kemudian menyulapnya menjadi ‘manusia baru’ yang berperan sebagai pengikut, tentara, bahkan komandan partai setan.

Ada tiga dimensi kepribadian manusia yang dimasuki setan secara bertahap atau secara simultan: akal, jiwa, dan fisik.

Akal

Setan memasuki akal manusia dengan cara menghiasi kebatilan dan kejahatan agar tampak dalam pandangan akal manusia sebagai kebenaran dan kebaikan. Hiasan yang menyesatkan ini menjadikan manusia bingung dan kehilangan kemampuan untuk membedakan kebenaran dan kebaikan dari kebatilan dan kejahatan.

Bentuk penyesatan ini disebut para ulama dengan sebutan ‘talbis’ (pembiasan kebenaran dengan kebatilan). Orang yang terkena hiasan talbis ini disebut menderita penyakit ‘syubhat’.

Setan memasuki wilayah akal manusia melalui lintasan pikiran (khawaathir) dan kemudian secara perlahan membangun suatu struktur logika baru dalam bangunan pemikirannya, yang membingkai persepsi atau fikrahnya. Persepsi baru inilah yang menjadi semacam frame of reference atau rule of thinking.

Firman Allah SWT:

“…Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)-Nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.”

(Surah an-Najm, 53: 23)

Jiwa

Selanjutnya, setan memasuki wilayah jiwa manusia dengan cara mencairkan keyakinannya kepada kebenaran dan membisikkan (waswasah) sesuatu ke dalamnya, lalu mengubahnya menjadi keragu-raguan. Dengan begitu, maka kebenaran itu tidak pernah sanggup melampui wilayah hati untuk turun menjadi tindakan dan perilaku.

Allah SWT berfirman:

 “Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

(Surah al-Humazah, 104:5-6)

Selain menciptakan keragu-raguan, setan juga memasuki wilayah jiwa manusia dengan cara menghidupkan syahwat yang ada dalam dirinya. Syahwat adalah kekuatan insting dalam diri manusia yang selalu mendorongnya melakukan semua perbuatan yang membuatnya mirip dengan binatang ternak.

Dari syahwat perut, misalnya, lahir sifat jiwa yang negatif berupa rakus, tamak, dan kikir, serta tindak kriminal berupa pencurian dan perampokan. Dari syahwat seks lahir dosa perselingkuhan dan perzinaan.

Fisik

 Selanjutnya, menjadi lebih mudah bagi setan untuk membentuk dan mengarahkan perbuatan-perbuatan manusia. Tetapi, setan tidak akan pernah puas hanya mendorong manusia melakukan tindak kejahatan. Ia akan terus mendorong manusia untuk mengulangi kemaksiatan dan kejahatan sampai akhirnya menjadi suatu kebiasaan.

Kemudian, ia akan mengukuhkan kebiasaan-kebiasaan buruk dan dosa-dosa itu menjadi tabiat manusia. Tabiat buruk ini menjadi bagian organik dari manusia, di mana ia merasakan ketergantungan. Akhirnya, ia sampai pada titik ini: tidak ada lagi kenikmatan selain dosa dan kejahatan itu sendiri. Allah SWT berfirman:

 “Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.”

(Surah an-Nisaa, 4:120)

 “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

(Surah al-Baqarah, 2:268)