Sudah mabrurkah Haji kita?

Sudah mabrurkah Haji kita? © Laarow | Dreamstime.com

Jika kondisi normal, biasanya saat ini para jemaah haji dari berbagai negara termasuk Indonesia tengah sibuk dalam proses kepulangan mereka dari tanah suci Mekkah.

Namun dengan kondisi dunia saat ini yang dihadapkan dengan wabah virus corona, membuat impian jutaan calon jemaah haji dari seluruh dunia harus tertunda satu tahun ke depan. Karena keputusan Kerajaan Arab Saudi tidak menerima calon jemaah haji dari luar negaranya guna menghindari penyebaran wabah virus corona.

Sudah mabrurkah Haji kita?

Setiap orang yang menunaikan ibadah haji, selain ingin menjalankan kewajiban rukun Islam, juga berharap agar bisa mendapatkan haji yang mabrur. Karena haji yang mabrur ganjarannya adalah Surga.

Upaya untuk menggapai Haji Mabrur harus diawali dengan meluruskan niat, menyiapkan bekal yang baik yang terjaga kehalalannya serta menyiapkan ruhiyah.

Selanjutnya ketika menjalankan ibadah haji dan umrah harus sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, seperti menjaga lisan dari ucapan-ucapan buruk, tidak melakukan perbuatan dosa dan menghindari perselisihan atau perkelahian.

Hal yang paling penting dalam menggapai predikat haji mabrur adalah setelah pulang menunaikan ibadah haji. Senantiasa menjaga kebiasaan positif dengan ibadah yang berkualitas dan kontinyu. Membangun rasa peduli dengan sekitar dan ringan membantu, serta menjadi sosok teladan dalam lingkungan masyarakat.

Pendek kata, seorang haji mabrur terus berupaya memantaskan diri menjadi ‘Ahli Surga meskipun belum meninggal dunia.’ Selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran, surah az-Dzaariaat, ayat 56:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu.”

Menjaga perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya

Namun predikat haji makmur bisa saja hilang jika ia tidak menjaganya dengan kataatan. Maka tidak heran kita menyaksikan disekitar kita banyak alumni haji yang tidak bisa diambil keteladanannya.

Bisa jadi, dalam berhaji ia tidak mempertimbangkan kehalalan rezeki yang diperoleh untuk berangkat haji, atau niat yang tidak terjaga keikhlasan serta faktor duniawi lainnya seperti ingin dipuji, ingin dipanggil dengan sebutan haji dan penyakit hati lainnya yang menyertai kehidupannya setelah berhaji.

Proses menjadi haji mabrur sama halnya dengan proses ketakwaan yang ada dalam diri kita masing-masing. Semakin kuat kesadaran menjaga perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, semakin terjagalah predikat haji mabrur dalam kehidupan sehari-hari. Haji mabrur merupakan proses panjang dalam kehidupan.

Semoga semakin banyak alumni haji mabrur semakin banyak pula kebaikan dan keberkahan bertebaran dimuka bumi ini. Sehingga amar ma’ruf dalam kehidupan masyarakat akan terus terjaga dan semakin diminati, karena masyarakat mudah mendapatkan keteladanan, terutama dari para alumni haji. Insya Allah.