Pendapat 12-Agu-2020

Sudah mabrurkah Haji kita?

Bayu RI
Kolumnis
Sudah mabrurkah Haji kita? © Laarow | Dreamstime.com

Jika kondisi normal, biasanya saat ini para jemaah haji dari berbagai negara termasuk Indonesia tengah sibuk dalam proses kepulangan mereka dari tanah suci Mekkah. Namun dengan kondisi dunia saat ini yang dihadapkan dengan wabah virus corona, membuat impian jutaan calon jemaah haji dari seluruh dunia harus tertunda satu tahun ke depan. Karena keputusan Kerajaan Arab Saudi tidak menerima calon jemaah haji dari luar negaranya guna menghindari penyebaran wabah virus corona.

Setiap orang yang menunaikan ibadah haji, selain ingin menjalankan kewajiban rukun Islam, juga berharap agar bisa mendapatkan haji yang mabrur. Karena haji yang mabrur ganjarannya adalah Surga. Upaya untuk menggapai Haji Mabrur harus diawali dengan meluruskan niat, menyiapkan bekal yang baik yang terjaga kehalalannya serta menyiapkan ruhiyah.

Selanjutnya ketika menjalankan ibadah haji dan umrah harus sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, seperti menjaga lisan dari ucapan-ucapan buruk, tidak melakukan perbuatan dosa dan menghindari perselisihan atau perkelahian.

Hal yang paling penting dalam menggapai predikat haji mabrur adalah setelah pulang menunaikan ibadah haji. Senantiasa menjaga kebiasaan positif dengan ibadah yang berkualitas dan kontinyu. Membangun rasa peduli dengan sekitar dan ringan membantu, serta menjadi sosok teladan dalam lingkungan masyarakat.

Pendek kata, seorang haji mabrur terus berupaya memantaskan diri menjadi ‘Ahli Surga meskipun belum meninggal dunia.’ Selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran, surah az-Dzaariaat, ayat 56: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu.”

Namun predikat haji makmur bisa saja hilang jika ia tidak menjaganya dengan kataatan. Maka tidak heran kita menyaksikan disekitar kita banyak alumni haji yang tidak bisa diambil keteladanannya. Bisa jadi, dalam berhaji ia tidak mempertimbangkan kehalalan rezeki yang diperoleh untuk berangkat haji, atau niat yang tidak terjaga keikhlasan serta faktor duniawi lainnya seperti ingin dipuji, ingin dipanggil dengan sebutan haji dan penyakit hati lainnya yang menyertai kehidupannya setelah berhaji.

Proses menjadi haji mabrur sama halnya dengan proses ketakwaan yang ada dalam diri kita masing-masing. Semakin kuat kesadaran menjaga perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, semakin terjagalah predikat haji mabrur dalam kehidupan sehari-hari. Haji mabrur merupakan proses panjang dalam kehidupan.

Semoga semakin banyak alumni haji mabrur semakin banyak pula kebaikan dan keberkahan bertebaran dimuka bumi ini. Sehingga amar ma’ruf dalam kehidupan masyarakat akan terus terjaga dan semakin diminati, karena masyarakat mudah mendapatkan keteladanan, terutama dari para alumni haji. Insya Allah.

Artikel terkait
Pendapat
Pendapat 06-Jul-2020
Muhammad Aslam
Kolumnis

Dalam agama Islam, siwak memang kaya manfaat. Bahkan menurut beberapa penelitian biji siwak bisa diolah menjadi minyak esensial pereda nyeri reumatik. Batang pohonnya juga bisa dimanfaatkan dalam pembuatan lilin aromaterapi dan sabun mandi.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 01-Jul-2020
Taufiq Sugeng
Kolumnis

Memiliki badan yang sehat tentunya harapan bagi setiap orang. Hal ini dikarenakan kesehatan sangatlah memiliki peran penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, menjaga setiap manusia wajib menjaga kesehatannya, baik anak-anak, remaja, atau dewasa. Sama seperti dengan Rasulullah SAW yang selalu menerapkan gaya hidup sehat.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 25-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Terhadap fenomena ini penulis teringat hadis Nabi Muhammad SAW bahwa persaudaraan muslim itu ibarat satu tubuh, bila satu anggota sakit, maka seluruh badan juga turut merasa sakit. Bila pandemi kita anggap sebagai ujian iman, kita harus melipatgandakan potensi rahmah terhadap sesama yang kita coba bangun selama ini.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 22-Jun-2020
Muhammad Nassar
Kolumnis

Inilah yang menyebabkan Islam begitu menekankan untuk mengisi kegiatan politik para Muslim, dengan akhlakul mahmudah, atau akhlak yang baik dan arif.

Terus Terus