Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Suka dan tidak suka: Ada apa dengan like dan dislike?

Psikologi 09 Feb 2021
Opini oleh Komiruddin
Suka dan tidak suka: Ada apa dengan like dan dislike?
Suka dan tidak suka: Ada apa dengan like dan dislike? © Sunwards | Dreamstime.com

“Yang terpenting itu apa konten yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan.”

Kalimat ini mungkin saja sudah lazim kita dengar di beberapa forum dan diskusi. Beberapa orang, atau bisa jadi itu mayoritas, memaknai hal tersebut sebagai sebuah idiom. Bahwa sebuah kebenaran harus kita terima, hatta itu disampaikan oleh orang yang mungkin saja tidak kita sukai.

Tapi apakah hal itu sepenuhnya benar? Menarik memang untuk di kaji lebih mendalam.

Suka dan tidak suka: Ada apa dengan like dan dislike?

Dalam teori suka dan tidak suka, kebanyakan orang akan terjebak pada logika person dibandingkan dengan logika konten. Dan itu juga tidak bisa disalahkan. Karena memang setiap orang memiliki hak, dia memilih suka dan tidak suka kepada siapa.

Sebuah konten kebenaran, meskipun substansinya sama, tapi disampaikan oleh dua orang yang berbeda, penerimaan dan proporsi keyakinannya pun akan berbeda pula.

Hal tersebut bisa terjadi, biasanya karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pengalaman interaksi dan kedekatan emosional.

“Saya lebih percaya jika si-anu yang ngomong, dibandingkan si-itu, meskipun apa yang disampaikan substansinya sama.”

Mungkin ini kalimat singkat yang mewakili bahwa pengalaman interaksi dan kedekatan emosional itu ternyata menjadi faktor utama dalam kita menerima dan meyakini sebuah konten kebenaran.

Ternyata logika like and dislike, ini pun berlaku dalam hal lain.

Like and dislike menjadi hal dan faktor penentu utama

Dalam bab candaan misalnya. Kadang sebuah candaan yang isinya membahas tema X disampaikan oleh A, dapat membuat suasana makin asyik dan ramai. Hatta itu tema-tema yang ada sisipan bullyan kepada salah satu person.

Tapi beda bila tema X itu disampaikan oleh B, bisa jadi bukan keceriaan yang timbul. Yang ada malah ketersinggungan yang mungkin saja berujung pada pertengkaran.

Saya jadi ingat sebuah teori tentang komunikasi. Meskipun konten yang akan disampaikan itu baik. Kita harus memperhatikan beberapa hal. Dari mulai cara menyampaikan, pemilihan waktu yang pas, hingga sampai kepada penujukan siapa yang ditunjuk untuk menyampaikan konten tersebut.

Bagaimanapun, goal dari komunikasi itu muaranya adalah hasil. Karenanya kita tidak boleh gegabah dan serampangan dalam merumuskan proses menuju ke sana.

Yang pasti, kita tidak bisa memaksakan semua orang menyepakati, mendukung setiap konten yang kita sampaikan. Meskipun substansinya baik, tetap saja ada yang pro dan kontra.

Dan lagi-lagi, logika like and dislike menjadi hal yang tidak bisa kita pungkiri saat ini menjadi faktor penentu utama. Jadi, kadang kita menerima kebenaran dari sesorang yang terlanjur sudah kita tidak suka, menjadi tantangan tersendiri.