Sumpah Palapa yang ditertawakan

Kepercayaan Sanak 05-Agu-2020
Masjid di Universitas Gajah Mada (UGM), Jogjakarta © Rizka Anhar | Dreamstime.com

Hidup tidaklah sekedar menghabiskan waktu atau pun hanya makan dan minum saja. Semua  orang tentu memiliki tujuan  dan impian yang ingin diwujudkan. Maka untuk meraihnya, ujian dan cobaan adalah suatu keniscayaan.

Adalah Gajah Mada, ketika baru diangkat menjadi Patih Amangku Bumi di kerajaan Majapahit, ia mengikrarkan sumpah yang dicatat dalam sejarah. Teks asli dalam kitab Pararaton tertulis, “Sira Gajah Mada Patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.”

Terjemahannya: “Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, Jika telah menundukkan seluruh Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa.”

Istana gempar. Para menteri Majapahit kaget, tak percaya. Mereka mengungkapkannya melalui celaan, ejekan, makian, dan tertawaan. Petinggi istana itu merasa perkataan Patih yang baru diangkat ini hanyalah bualan untuk menarik perhatian Ratu Bhre Kahuripan. Kenyataannya, ia benar-benar melaksanakan.

Gajah Mada memiliki mimpi besar untuk membawa majapahit di garis depan. Sang Ratu pun sebagai pimpinan Majapahit mempercayakan secara penuh arah politik yang dijalankan oleh patihnya itu.

Langkah pertama yang dilakukan Gajah Mada adalah menyingkirkan secara halus orang-orang  yang menertawakannya. Inilah konsekuensi jika tidak sehati. Selanjutnya memadamkan pemberontakan-pemberontakan  yang merongrong stabilitas kekuasaan. Setelah kerajaan kondusif, barulah dimulai ekspansi besar-besaran.

Selama 21 tahun memangku jabatan sebagai patih, Gajah Mada telah berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan di luar Majapahit.  Sebagaimana yang ia sebut dalam sumpahnya yaitu Gurun (Lombok), Seram (Maluku), Tanjung Pura (Kalimantan), Haru (Sumatera Utara), Pahang (Malaya), Dompo (Sumbawa), Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik (Singapura). Hebatnya, ia telah mengekspansi lebih banyak dari itu semua.

Itulah Patih Amangku Bumi, Gajah Mada. Namanya dikenang dan diabadikan menjadi nama salah satu universitas terbesar di pulau Jawa. Palapa menjadi nama satelit negara Indonesia yang mempersatukan Nusantara.

Sejarah membuktikan bahwa puasa dapat dijadikan sarana bagi kesuksesan masa depan seseorang. Beranilah bermimpi besar, semakin banyak yang menertawakan, impian itu akan segera menjadi kenyataan.