Sunah-sunah ketika berhaji

Agama Kkartika Sustry 01-Agu-2020
Melakukan simbolis merajam setan © Samet Guler | Dreamstime.com

Sunah-sunah Haji jika ditinggalkan maka dia tidak dibebankan denda apapun dan hajinya dianggap sah dan sempurna. Tetapi, tentunya kita ingin mendapatkan Haji yang berlipat pahalanya, maka perbanyaklah ibadah sunah Haji untuk melengkapi wajib Haji.

Banyak sekali hal-hal yang baik yang bisa kita lakukan selama di tanah suci tetapi banyak pula hal-hal yang harus kita hindari di sana seperti perbuatan keji dan tetap menjaga lisan untuk menghindari kata-kata kotor dan selalu berbicara yang baik.

Berikut sunah-sunah yang bisa kita lakukan ketika sedang berhaji:

  • Mandi saat Ihram – Berdasarkan hadis Zaid bin Tsabit r.a, beliau melihat Rasulullah SAW mengganti pakaiannya untuk ihram lalu mandi. Setelah itu memakai wangi-wangian dan disunahkan memakai dari bunga kasturi.
  • Berihram memakai dua lembar kain putih satu dijadikan selendang dan yang satu dijadikan sarung.
  • Melantunkan Talbiyah sambil mengeraskan suara – Tanah suci tempat mustajab untuk berdoa maka manfaatkan kesempatan untuk terus melantunkan zikir kepada Allah SWT, amalan-amalan sebanyak-banyaknya dan membaca al-Quran juga bertaubat. Insya Allah, rangkaian ibadah yang kita jalankan mendapat keridaan-Nya.
  • Idhtibaa (membuka bahu kanan, menutup bahu kiri dengan kain Ihram), yaitu dengan menampakkan pundak sebelah kanan pada saat Tawaf Qudum atau Umrah.
  • Bermalam di Mina di malam Hari Arafah – Tarwiyah merupakan amalan sunah dalam berhaji yang dilakukan pada 8 Zulhijah yakni menginap di Mina sebelum wukuf di Arafah. Di tempat tersebut jamaah mengerjakan salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Subuh juga melakukan amalan-amalan lainnya.
  • Berlari-lari kecil di tiga putaran pertama Tawaf Qudum – Ketika melakukan Tawaf lakukan dengan berjalan kaki, dengan posisi menghadap kiblat. Membaca doa-doa ma’tsur, berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama. Kemudian, mengusap Rukun Yamani atau cukup dengan melambaikan tangan tanpa dikecup.
  • Mencium Hajar Aswad – Hajar Aswad salah satu keinginan umat Muslim yang datang ke tanah suci untuk menciumnya atau sekedar mengusapnya. Dalam buku Yusuf al-Qardhawi, ‘100 Tanya-Jawab Haji & Umrah’ mengatakan apabila seseorang tidak bisa mencium atau mengusap Hajar Aswad, maka hal tersebut tidak menjadi masalah dan ibadahnya selama di tanah suci itu tetap diterima. Hal itu karena mencium Hajar Aswad hukumnya sunah. Namun, tetap dianjurkan dengan tidak menyakiti diri.
  • Minum air Zamzam – Ketika kita sudah melakukan Rukun Haji maka sunahnya untuk minum air Zamzam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim r.a dari Jabir bin Abdillah r.a tentang sifat Haji Nabi Muhammad SAW, bahwasanya setelah melaksanakan Tawaf beliau mendatangi keturunan Abdul Muthalib yang sedang minum air Zamzam seraya berkata: “Terus, wahai Bani Abdul Muthalib, seandainya manusia tidak berbondong -bondong melakukan pemberian minum tersebut, maka aku akan ikut memberikan minum bersama kalian.” Maka mereka memberikan kepada beliau seember air Zamzam, lalu beliau meminumnya. (Hadis riwayat Muslim, kitab al-Hajj, lihat II/167)
  • Menjamak salat Maghrib dan Isya di Muzdalifah dengan Jamak Taqdim – Ketika sudah di Muzdalifah mulailah mengambil kerikil untuk melempar jamrah (ritual Haji akhir dengan simbolis ‘merejam setan’), sepanjang waktu memperbanyak takbir dan Talbiyah, dan berdoa di Masjidil Haram.
  • Bermalam di Muzdalifah dekat Masy’aril Haram mulai dari terbit fajar hingga waktu Syuruk jika memungkinkan. Jika tidak, maka semua tempat di Muzdalifah bisa digunakan untuk bermalam.