Sunan Drajat: Wali yang berjiwa sosial tinggi

Asia Asna Marsono
Pilihan oleh Asna Marsono
Sunan Drajat: Wali yang berjiwa sosial tinggi
Sunan Drajat: Wali yang berjiwa sosial tinggi © PWMU

Sunan Drajat merupakan salah satu putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila, yang dilahirkan sekitar tahun 1445 Masehi. Beliau juga merupakan saudara dari Sunan Bonang, yang biografinya sudah diceritakan di kesempatan lain.

Sama seperti saudara-saudaranya, Sunan Drajat dengan nama lain Raden Qasim dibesarkan di lingkungan pesantren Ampel Denta, dan sejak kecil telah dibekali oleh ajaran Islam dari ayahnya yang merupakan Kyai termasyhur di Pulau Jawa saat itu.

Mulai berdakwah

Setelah beranjak dewasa, Sunan Drajat diperintahkan oleh Sunan Ampel untuk pergi berdakwah di daerah pesisir utara Pulau Jawa. Sunan Drajat pun menuruti perintah Sunan Ampel dan pergi berlayar dari Surabaya menuju daerah yang sekarang ini disebut Paciran, Jawa Timur.

Metode dakwah beliau fokus dalam memberikan contoh yang baik (bi al-hikmah) kepada masyarakat. Sama seperti kebanyakan wali, dakwah Sunan Drajat juga mudah diterima oleh masyarakat awam dengan menggunakan media seperti kesenian yang dapat membaur dengan kebudayaan masyarakat setempat saat itu.

Catur Piwulang

Pada intinya semua ajaran Sunan Drajat mengacu kepada pedoman hidup agar manusia mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Salah satu ajaran beliau yang dikenal adalah Catur Piwulang. Empat poin ajaran tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Wenehono teken marang wong kang wuto (Berilah tongkat pada orang yang buta)
  2. Wenohono pangan marang wong kang kaliren (Berilah makan pada orang yang kelaparan)
  3. Wenohono sandang marang wong kang wudo (Berilah payung pada orang yang kehujanan)
  4. Wenohono payung mereng wong kang kawudanan (Berilah pakaian pada orang yang telanjang)

Sepanjang hidupnya beliau dikenal suka membantu orang fakir dan miskin. Hal inilah yang membuat Sunan Drajat dikenal sebagai salah satu Wali yang berjiwa sosial tinggi. Beliau memberi makan orang kelaparan dan mengobati orang-orang sakit dengan ramuan herbal.

Sunan Drajat juga menjaga kawasan desa dari marabahaya dengan selalu berkeliling desa saat malam hari sembari berzikir, serta mengingatkan orang untuk melaksanakan solat dengan Bahasa yang halus dan tidak memaksa. Dengan menjunjung tinggi rasa persatuan di dalam masyarakat, orang-orang tertarik dengan ajaran beliau.

Sapto Pewiling

Intisari dari ajaran tasawuf yang diterapkan oleh Sunan Drajat juga terangkum dalam filosofi Sapto Pewiling. Isinya adalah sebagai berikut.

  • Mamangun resep tyasing sasama (Membuat hati orang lain senang)
  • Jroning suka kudu eling lan waspada (Ketika senang harus ingat dan waspada)
  • Laksitaning subrata tan nyipta mring pringgabayaning lampah (Waspada tatkala menghadapi kesulitan agar tidak terjerumus ke dalam perilaku yang membahayakan)
  • Meper hardening panca driya (Menahan nafsu)
  • Mulya guna panca waktu (Menjadilah orang mulia dengan melaksanakan sholat lima waktu)

Hikmah ajaran Catur Piwulang

Dari ajaran-ajaran beliau kita dapat belajar untuk menjadi mulia dengan menjadikan filosofi ajaran Sunan Drajat sebagai pedoman hidup. Hikmah yang dapat kita petik dari ajaran Catur Piwulang adalah bahwa kesejahteraan akan dicapai ketika masyarakat dengan ikhlas memberi kepada yang membutuhkan.

Dan barang pemberian tersebut bukan hanya berupa harta, namun ilmu yang bermanfaat, dan perlindungan bagi orang-orang yang membutuhkan.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.