Surah Yasin dan membacanya bagi orang sakit?

Kepercayaan Iman Terimo 10-Jun-2020
Surah Yasin - membacanya bagi orang sakit? © Gigisomplak | Dreamstime.com

Fenomena dari sebagian masyarakat Islam saat ini, yang dapat kita lihat adalah adanya kebiasaan membacakan surah Yasin kepada orang sakit dan terlebih pada yang sakit parah, atau diperkirakan sudah mendekati ajal. Hal ini dilakukan secara turun menurun dan tanpa dalil yang benar.

Ada baiknya setiap amalan yang akan kita lakukan hendaknya memiliki landasan akan Al-Quran dan hadis. Atau amalan tersebut tidak akan diterima disisi Allah Azza Wajalla, karena dilakukan tidak sesuai dengan yang disyariatkan atau yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, seperti halnya membacakan surah Yasin pada orang yang sakaratul maut.

Maka perlu adanya informasi yang benar perihal dari mana sumber ilmu tentang sebuah amalan tersebut. Apakah karena dilakukan turun temurun tanpa kita ketahui dalilnya, atau memang ilmu tentang sebuah amalan tersebut, ada landasan hadis yang sahih. Bahkan, seorang murid  berhak menanyakan sumber ilmu yang didapat dari seorang guru, karena pentingnya bagi seorang  Muslim untuk mengetahui landasan dalil dalam setiap amalan yang dilakukan.

Kandungan yang terdapat dalam surah Yasin membahas beberapa hal, seperti yang tersebut dibawah ini. Semoga kita dapat merenunginya dan dapat mengambil pelajaran darinya.

  • Rasulullah SAW merupakan Nabi terakhir yang diutus oleh Allah SWT membawa agama yang sangat benar. Dan kita diwajibkan mengikuti jejak dan mengambil pelajaran dari orang terdahulu.
  • Islam adalah agama yang benar, yang memiliki syariat yang lurus dan jika mengikutinya maka akan benar kecuali yang mengikuti selainnya, yang dianggap sebagai penyimpangan dan sebuah perpecahan.
  • Menyimpang dari ajaran yang benar maka akan sulit baginya untuk melakukan amalan kebaikan dan juga sulit untuk menerima kebenaran. Maka dari itu wajib untuk mengikuti Al-Quran serta dalam menyampaikan dakwah diwajibkan menyampaikannya dengan benar.
  • Allah SWT akan melakukan hisab atau menghitung setiap amalan dan perbuatan yang dilakukan selama hidup di dunia. Dan kebahagiaan hakiki seseorang yang meninggal adalah akan diperlihatkan Surga padanya. Apalagi bagi mereka yang meninggal dalam syahid.
  • Wajib bagi kita untuk mengimani hari kebangkitan dan pembalasan guna sebagai semangat dalam mengerjakan amalan dan menjauhi segala laranganNya. Maka hendaknya syukuri segala nikmat dan gunakan untuk mendekatkan diri padaNya.

Adapun perihal membacakan surah Yasin bagi mereka yang sakit parah atau sakaratul maut, berikut ulasannya. Sebagian dari kita mentalqinkan orang yang sakaratul maut dengan surah Yasin. Namun hadis akan hal ini adalah tergolong hadis yang daif atau lemah. Berikut penilaian alasan kenapa hadis yang menganjurkan pembacaan Yasin pada orang sakaratul maut tersebut tergolong hadis yang lemah, bahwa hadis khusus ini mengalami kegoncangan (idhthirab) dalam sanadnya.

Diketahui jika hadis ini diriwayatkan oleh Abu Utsman, lalu dari bapaknya dan dari Ma’qil dengan sifat hadis (marfu’) yang dikaitkan hingga pada Rasullullah SAW. Di sisi lain juga ada yang menyebutkan bahwa hadis tersebut dari Abu Utsman, lalu dari Ma’qil dengan sifat hadis dan tanpa menyebutkan akan bapak dari Abu Utsman tersebut. Juga terdapat riwayat yang mengatakan hadis tersebut dari seseorang dengan tidak menyebutkan namanya. Dan juga riwayat dari Ma’qil dengan cara mawquf, yaitu mengacu pada narasi riwayat yang dikaitkan atau hanya sampai pada sahabat Nabi saja (artinya itu menjadi perkataan dari Ma’qil).

Imam Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa Abu Utsman serta bapaknya merupakan perawi hadis yang tidak dikenal, bahkan tidak diketahui akan siapakah mereka. Namun, ditegaskan bahwa yang dimaksud Abu Utsman bukanlah Abu Utsman an-Nahdi seperti yang biasanya Sulaiman at-Taimi memiliki riwayat darinya. Karena ia memiliki nama asli yaitu Abdurrahman bin Mall.

Dan diketahui jika Abu Utsman an-Nahdi sendiri adalah seorang yang dipercaya dan ahli dalam beribadah sebagaimana disebut di dalam  At Taqrib al-Hafizh ibnu Hajar (at-Talkhish 2:10), yang menukilkan dari Ibnu Arabi serta dari Ad-Daruquthni, mengatakan bahwa hadis tersebut di atas merupakan hadis yang daif karena naskah asli atau matannya tidak diketahui (majhul). Sehingga tidak ada hadis sahih yang mengatakan anjuran membacakan surah Yasin pada orang yang sakaratul maut dan tidak disyariatkan dalam syariat agama. Hal ini dapat dilihat pada Minhah Al ‘Alam 4:241-242.

Adapun anjuran dan tuntunan yang tertera dalam agama kita adalah bahwa dalam mentalqinkan orang yang akan sakaratul maut, hanya cukup dengan mengatakan kalimat Laa ilaha illallaah saja. Karena hal ini sesuai dengan yang Nabi SAW sabdakan. Imam Nawawi juga menegaskan bahwa agar mengingatkan orang yang sakaratul maut di antara kita yaitu dengan Laa ilaha illallah supaya hal itu menjadi hal yang terakhir baginya atau bagi si mayat. Hal ini tentu saja selaras dengan sabda Rasul SAW lainnya yang ada.

Imam Nawawi pun mengatakan jika talqin dalam hal ini adalah bersifat sunah atau anjuran untuk menuntun calon mayat yang sedang berjuang menghadapi sakaratul maut agar akhir hidupnya dapat menyebutkan nama Allah SWT. Namun perihal mentalqinkan atau menuntun calon mayat ini para ulama memakruhkan talqin yang diperbanyak serta dibaca secara terus menerus dan berturut-turut. Hal ini dikarenakan proses sakaratul maut yang sangat berat dan juga agar orang yang ditalqinkan tersebut tidak merasa bosan. Juga hukumnya makruh jika talqin hanya didalam hati saja atau berkata yang tidak pantas saat dalam kondisi sakaratul maut tersebut.

Ditambahkan juga jika orang yang sedang sakaratul maut tersebut sudah mengucapkan kalimat Laailaaha illallaah setelah ditalqinkan, maka agar jangan mengulangnya lagi, kecuali orang tersebut masih mengatakan hal yang lain maka ulangi mentalqinkannya. Hal ini agar kalimat Laailaaha illallaah dapat menjadi kalimat akhir dari ucapannya. Hal ini diungkap dalam Syarah Shahih Muslim 6:197.