Surga itu butuh iman, tak cukup cinta semata

Agama Sanak 18-Agu-2020
Surga itu butuh iman, tak cukup cinta semata © Apartura | Dreamstime.com

Tanpa ayah ketika lahir, kehilangan ibu sewaktu umur enam tahun, dua tahun setelah itu giliran kakek yang disayangi pergi dipanggil Ilahi Rabbi. Itulah kehidupan sang Nabi Muhammad SAW, berturut-turut kehilangan cinta di umur masih belia.

Sebelum meninggal sang kakek, Abdul Muthalib r.a mengamanahi Abu Thalib r.a untuk menjaga Nabi Muhammad SAW. Paman kandung Baginda ini memberikan perawatan dan kasih sayang yang teramat sangat bahkan melebihi kecintaan kepada anak-anaknya sendiri.

Abu Thalib r.a hidup dalam keadaan fakir sedangkan anak-anaknya seperti tidak pernah kenyang dengan makanan. Keberkahan pun datang ketika Nabi Muhammad SAW kecil ikut makan bersama keluarga ini, kenyang yang selalu dirindukan menjadi kenyataan. Sehingga ketika ingin makan siang dan makan malam, Abu Thalib r.a selalu berpesan agar menunggu Rasulullah datang.

Ketika akan minum susu, yang pertama sekali mencicipinya adalah Rasulullah SAW, kemudian dari wadah yang sama semua anak Abu Thalib r.a bisa menikmati sepuasnya. Kejadian berbeda jika anak lain yang meminum pertama kali, minuman tersebut akan habis tak bersisa.

“Sungguh engkau seorang yang diberkahi,” ucap Abu Thalib r.a di suatu ketika. Di saat anak-anaknya bangun pagi dalam keadaan kumal dan penuh kotoran di antara bulu mata, sedangkan Rasulullah SAW berbeda, rambut Baginda telah berminyak dan bercelak mata.

Cinta yang sama juga diberikan oleh istri Abu Thalib r.a, Fatimah binti Asad r.a. Setiap hari dia melihat keberkahan-keberkahan yang masuk di rumahnya dan hampir tak percaya. Sehingga kecintaannya kepada Rasulullah SAW selalu bertambah dari hari ke hari. Dialah yang menjaga, memberikan perhatian, dan penghormatan khusus semenjak Baginda masih muda hingga menikah dengan Khadijah r.a.

Sama-sama mencintai bukan berarti akan selalu di sisi Rasulullah SAW. Abu Thalib r.a yang telah merawat Rasulullah dan melindungi dakwah, lebih memilih mati bersama kemusyrikannya. Sungguh pilihan yang menyesakkan dada. Sedangkan Fatimah binti Asad r.a memutuskan memeluk agama Islam setelah suaminya meninggal kemudian ikut berhijrah bersama anak-anaknya.

Dari cerita ini bisa kita simpulkan bahwa cinta yang besar kepada Baginda Rasul SAW yang mulia tidaklah cukup mengantarkan seseorang ke Surga. Tiket masuknya adalah iman. Mudah-mudahan saudara kita yang belum  mendapat hidayah bisa merasakan manisnya iman ini. Semoga.