Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi: maha gurunya ulama Indonesia

Asia Sanak
Pilihan oleh Sanak
Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi: maha gurunya ulama Indonesia
Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi: maha gurunya ulama Indonesia © TokohMuslim

Lokasinya berada tengah persawahan. Tepatnya di pinggir jalan antara simpang Biaro dan Simpang Lasi, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Di tengah-tengah bangunan sederhana itu tertulis, Pondok Pesantren Tahfiz Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

Siapakah beliau, sehingga namanya pantas dikenang dan diabadikan.

Mengenal Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi

Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkawi seorang imam besar di Masjidil Haram yang bermazahab Syafi’i. Ialah guru dari banyak ulama besar dari Indonesia dan Malaysia.

Ahmad Khatib lahir di Koto Tuo Balai Gurah, Ampek Angkek, Luhak Agam, pada 6 Zulhijjah 1276 Hijriah, bertepatan dengan 26 Juni 1860 Masehi.

Ayahnya Abdul Latif Khatib Nagari sedangkan ibunya Limbak Urai. Sebelum usia 11 tahun, Ahmad kecil belajar di sekolah rendah yang berada di kampung halamannya hingga tamat. Setelah itu, beliau berangkat naik haji bersama ayahnya sekaligus menetap untuk mendalami ilmu agama langsung ke sumbernya.

Di Kota Mekah, Ahmad Khatib berguru pada Zaid Ahmad Zain Dahlan, Said Bakri Syatta dan Syekh Yahya Kabli. Dari guru-gurunya itu beliau mempelajari dan mendalami pemikiran mazhab Syafi’i.

Dalam waktu yang relatif singkat, banyak ilmu yang ia dapat. Hal ini dikarenakan anugerah kecerdasan yang diberikan Allah. Keuletannya dalam belajar agama mengundang simpati dari pemilik toko kitab, Saleh Kurdi. Tanpa ragu, orang kaya di kota mekah itu menikahkan Ahmad dengan putrinya.

Buku adalah harta paling berharga bagi penggila ilmu. Itulah yang dialami Ahmad Khatib. Toko buku mertuanya seolah santapan lezat yang ia nikmati setiap saat. Keilmuannya pun diakui dan banyak orang yang berguru. Hingga dibuat halaqah yang memberikan kesempatan untuknya mengajar di dalam Masjidil Haram.

Nama Ahmad Khatib kian masyhur sehingga diangkat menjadi imam dan khatib dalam Mazhab Syafii di Masjidil Haram. Ia kemudian dikenal sebagai Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Nama Al-Minangkabawi beliau sandang, sebagai identitas leluhurnya yang berasal dari Ranah Minang.

Peninggalan untuk kampung halaman

Meskipun tidak pernah pulang ke kampung halaman, Syekh Ahmad Khatib tetap menjaga hubungan baik dengan saudara se tanah air. Hubungan itu selalu terjalin melalui silaturrahmi ketika sanak familnya beribadah haji dan murid-murid yang datang langsung untuk belajar.

Murid-murid Syekh Ahmad Khatib yang kembali ke Indonesia, banyak yang menjadi ulama terkemuka. Mereka antara lain, Syekh Ibrahim Musa Parabek (Pendiri Sumatera Thawalib Parabek), Syekh Dr. Abdul Karim Amrullah (Ayah Hamka), Syekh Sulaiman Ar Rasuli (pendiri Tarbiyah), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU).

Dalam buku “Al Manhaj Al Masyru” Syekh Ahmad Khatib mengkritisi sistem pewarisan dalam adat Minangkabau yang  menyalahi hukum waris dalam ketentuan Islam (faraidh). Pendapat beliau ini bergulir bagai bola panas di kampung halamannya. Bukan saja dari kaum adat, beberapa ulama pun menentang.

Meskipun begitu Syekh Ahmad Khatib tak bosan-bosannya mengingatkan dengan membawakan dalil shahih yang jelas dan tegas. Nasehat dari ulama besar sekaligus guru yang sangat dihormati itu, didengar.

Para ulama dan tokoh adat mengadakan Kongres Badan Permusyawartaan Alim Ulama, Ninik Mamak dan Cerdik Pandai Minangkabau pada 4 – 5 Mei 1952. Dalam kongres tersebut disepakati, bahwa untuk harta pusaka tinggi (turun temurun) berlaku hukum adat. sedangkan harta pencaharian bersama berlaku hukum faraidh.

Syekh Ahmad Khatib telah memberikan sumbangsih berarti bagi ibu pertiwi meski beliau berada jauh di seberang negeri. Sehingga sangat pantas nama beliau diabadikan.