Tabligh dan transparan

Psikologi Komiruddin
Pilihan oleh Komiruddin
Tabligh dan transparan
Tabligh dan transparan © Vichaya Kiatyingangsulee | Dreamstime.com

Para Rasul a.s adalah panutan umat sepanjang zaman. Mereka adalah pemberi petunjuk yang menerangi jalan dan membimbing umat kepada kebenaran.

Di antara sifat para Rasul a.s adalah tabligh. Tabligh artinya menyampaikan apa-apa yang diamanahkan kepada mereka apa adanya. Transparan dan tidak ditambah atau dikurangi sedikitpun.

Tabligh dan transparan

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

(Quran surah al-Maaida, 5 ayat 67)

Tabligh juga bermakna tidak menyembunyikan amanah yang dia diamanahkan untuk menyampaikannya, apalagi hal tersebut menyangkut hak orang lain. Demikian prilaku para rasul AS. Dan kita adalah pengikut para rasul tersebut, khususnya rasul akhir zaman lebih berhak melakukan itu.

Memang tabligh ini berat apalagi bila menyangkut masalah harta yang diamanahkan kepada kita untuk mengelola atau menyampaikannya. Terlalu banyak godaan. Apalagi yang tahu hanya dia dan Allah SWT. Kadang dia lupa bahwa titipan itu adalah beban, jika ia tidak sampaikan, apalagi dimakan sendiri, maka namanya ghulul.

Nah, orang yang memakan harta ghulul ini kelak akan memikul dosa ghulul tersebut.

 “Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.”

(Quran surah al-i Imran, 3 ayat 161)

Dari Ubadah ibnus Samit yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW mencabut sehelai bulu dari punggung unta hasil ganimah, kemudian bersabda: “Tiada hak bagiku dalam harta ini kecuali seperti hak yang diperoleh seseorang di antara kalian. Waspadalah kalian terhadap gulul (pengkhianatan dalam harta rampasan), karena sesungguhnya gulul itu merupakan kehinaan bagi pelakunya kelak di hari kiamat.

Transparansi dalam pengelolaan

Dari Abu Mas’ud Al-Ansari yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah mengutusnya sebagai amil zakat, kemudian beliau berpesan melalui sabdanya:

“Berangkatlah engkau, hai Abu Mas’ud. Semoga aku tidak menjumpai engkau di hari kiamat nanti datang, sedangkan di atas punggungmu terdapat seekor unta dari ternak unta zakat yang mengeluarkan suaranya hasil dari penggelapanmu. Ibnu Mas’ud berkata, “Kalau demikian, aku tidak akan berangkat.” Nabi SAW bersabda, “Kalau demikian, maumu aku tidak memaksamu.”

(Hadis riwayat Imam Abu Daud)

Ini juga peringatan bagi mereka yang mengurus dana umat, agar dana tersebut tidak dibelanjakan menurut kemauannya. Tapi hendaklah sesuai dengan peruntukannya.

Jika ia termasuk orang yang mampu, maka menahan diri dari mengambilnya adalah tuntunan Allah Taala. Namun jika ia tergolong orang yang susah dan tidak mampu hendaknya ia mengambil bil ma’ruf, atau sesuai dengan kebiasaan yang berlaku. Ini diqiyaskan dengan cara mengelola harta anak yatim.

“Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut.”

(Quran surahan-Nisaa, 4 ayat 6)

Janganlah ia membelanjakan uang tersebut seperti sudah menjadi miliknya. Apalagi menjadikannya sebagai mata pencaharian.

Lembaga-lembaga atau individu-individu yang dipercaya mengelola dana umat lalu tidak transparan dalam pengelolahannya akan berlaku sunatullah. Bahwa ia akan ditinggalkan orang dan tak akan pernah dipercaya.

Jadi, transparansi dalam pengelolaan akan menghilangkan prasangka buruk, menambah kepercayaan dan melindungi pelakunya dari perbuatan yang tidak patut.