Tali kokoh yang mempersatukan

Masyarakat 13 Jan 2021 Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Tali kokoh yang mempersatukan
Tali kokoh yang mempersatukan © Distinctiveimages | Dreamstime.com

Tak salah sang ayah telanjur sayang lagi cinta. Dijaga ketatlah bujang kepalang. Hingga api sekam hasad membara biru di hati sepuluh bersaudara seayah lagi serumah. Rupanya Allah ta’ala juga telah menjatuhkan pilihan agung lagi mulia.

Sebagai pelanjut risalah kenabian bukanlah kesenangan membayang, melainkan justru beban tanggung jawab berat di pundak Nabi Yusuf a.s.

Tali kokoh yang mempersatukan

Pilihan telah dijatuhkan Allah ta’ala kepada Nabi Yusuf a.s. Menjawab tegas takwil dari mimpi kenabian. Yang telah dipilih tentu bukan orang sembarang. Sebab, yang memilih juga bukan sembarang, yaitu Allah.

Benarlah apa yang dirasa hati sang ayah Nabi Ya’qub a.s: kebahagiaan bercampur duka. Bahagia Yusuf a.s dipilih Allah SWT sebagai penerus tugas penyeru; duka lagi khawatir akan berbagai cabaran hidup telah menanti mengisi hari-hari Yusuf.

Hanya saja, kegundahan hati sang ayah berangsur kurang disebabkan keyakinan dirinya akan penjagaan serta perlindungan Yang Maha Memilih.

“Dan demikianlah, Tuhan memilih engkau (untuk menjadi Nabi) dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi dan menyempurnakan (nikmat-Nya) kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang kakekmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sungguh, Tuhanmu Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”

(Surah Yusuf, 12:6)

Kesempurnaan nikmat hidup telah ada pada diri Yusuf a.s dan keluarga Nabi Ya’qub ‘alaihis-salam. Kesempurnaan nikmat bertali-tali. Mimpi mengawali, penetapan diri Yusuf sebagai Nabi menjadi jawaban penentuan. Penerus penyeru mulia menauhidkan Allah SWT semata.

Tugas para nabi dan rasul sebelumnya, yaitu misi mendakwahkan akidah sebagai ikatan pemersatu umat. Suatu ikatan abadi nan mulia. Ikatan tak terikat aturan administratif. Juga ikatan tanpa berbatas waktu, tempat, maupun bahasa, yang tiada membeda asal muasal suku bangsa apalagi warna kulit.

Ikatan itu memiliki satu tali bukan rapuh tapi kuat kokoh, itulah aqidah Islamiyyah. Pondasi pemersatu umat adalah aqidah Islamiyah.

Bersatu dalam ikatan akidah Islam

“Dan aku mengikuti agama nenek moyangku Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (semuanya), tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”

(Surah Yusuf, 12:38)

Pesan persaudaraan dalam persatuan dinyatakan terang oleh Nabi Yusuf a.s, yakni dalam ikatan akidah islam. Rentetan rantai kenabian sambung-menyambung mengusung misi menauhidkan Allah ta’ala. Mensucikan Allah dari kesyirikan serta persekutuan dalam bentuk apa pun.

Tugas yang sama telah dituntaskan oleh Nabi Ibrahim terhadap Namrud, Nabi Musa dan Harun terhadap Firaun. Menandakan hubungan keterkaitan tugas kenabian menyeru umat dalam satu kesatuan: ikatan akidah islam.

Pola dakwah dilakoni oleh Nabi Yusuf ‘alaihis-salam dalam kondisi tersulit lagi diimpit. Di hadapan kedua temannya dalam penjara penguasa, ia mengajarkan pesan Allah SWT tentang akidah sebagai pemersatu umat.

Pesan persatuan bukan mengikis habis perbedaan, namun menata serta mengelola perbedaan demi menjaga keutuhan persatuan. Karena perbedaan dan keberagaman itu sunnatullah.

Takkan hilang seiring kehidupan terus terbentang. Perselisihan itu kehinaan dan ketercelaan;adapun pertikaian itu kelemahan dan kerugian. Akan tetapi, perselisihan dan pertikaian tidaklah sama – atau identik – dengan perbedaan dan keberagaman. Perpecahan yang disebabkan kesalahan mengelola perbedaan dan keberagaman adalah penderitaan dan kehancuran.

Pilihan mulia telah dijatuhkan pada Yusuf a.s. Pilihan dari Dzat yang Maha Kuasa. Risalah para nabi dan rasul adalah seruan kepada umat agar bersatu dalam ikatan akidah Islam. Dilandasi kekuatan iman, bukan keterpaksaan beriman; dibingkai kebebasan berpikir, bukan tekanan tiada pilihan.