Tangga kontribusi kesempurnaan berislam

Iman Tholhah Nuhin 15-Nov-2020
dreamstime_s_168339056
Tangga kontribusi kesempurnaan berislam © Noname3132 | Dreamstime.com

Maka untuk melengkapi peran seorang muslim yang terjun dalam bidang dakwah, ia harus senantiasa memiliki zaad (bekal) atau kontribusi-kontribusi positif yang selalu dibutuhkan dalam masyarakatnya.

Oleh karena itu, ia harus melangkah menuju tangga kontribusi.

Tangga-tangga kontribusi

Dalam tangga ini, seorang muslim harus memiliki kontribusi-kontribusi positif yang bisa disumbangkan kepada masyarakatnya. Karena ia tidak bisa menjadi segalanya, dan tidak akan pernah sanggup melakukan segalanya, maka ia harus tahu di mana letak strength point untuk mulai memberi karya yang berarti bagi Islam dan umatnya.

Ada empat bidang kontribusi yang memungkinkan seorang muslim memiliki poin kekuatan. Empat bidang kontribusi itu adalah:

Kontribusi ilmiah – menjadi pemikir atau ulama

“….niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(Surah al-Mujaadila, 58:11)

Kontribusi managerial – menjadi pemimpin

“Hai Daud,   sesungguhnya  Kami  menjadikan  kamu   khalifah (penguasa)  di muka bumi,  maka  berilah keputusan  (perkara)  di antara  manusia dengan  adil dan  janganlah  kamu mengikuti  hawa nafsu,   karena  ia  akan  menyesatkan  kamu  dari  jalan  Allah. Sesungguhnya  orang-orang  yang  sesat  darin  jalan  Allah  akan mendapat  azab   yang  berat,    karena  mereka   melupakan  hari perhitungan.”

(Surah Saad, 38:26)

Kontribusi finansial – menjadi entrepreneur

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

(Surah al-Baqarah, 2:195)

Kontribusi amaliah – menjadi profesional

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

(Surah at-Taubah, 9:105)

Di sini seorang muslim menjadi mujahid dalam sepanjang hidupnya. Dan setelah manusia muslim meniti tiga tangga afiliasi, partisipasi dan kontribusi ini, ia benar-benar menjadi cahaya yang senantiasa memberikan pencerahan pada dirinya dan bermanfaat bagi masyarakatnya.

Ia benar-benar telah mengkristalkan nilai-nilai Islam dalam seluruh ruang kehidupannya. Ia saleh untuk dirinya, mushih bagi orang lain dan mujahid untuk menegagakkan ajaran agamanya. Di tangga terakhir inilah, ia menjadi model muslim yang ideal dan mempesona.

Mempesona di hadapan Raab-Nya dan di tengah-tengah masyarakatnya. Perhatikan ayat di bawah ini:

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.”

(Surah al-Anfal, 8:74)