Tanggungjawab dan harapan

dreamstime_s_194155808
Tanggungjawab dan harapan © Irfanmnur | Dreamstime.com

“Apa untungnya berceramah di depan orang-orang yang selama ini dikenal penjahat. Sulit berharap dari mereka kesadaran.”

“Malas saya kalau ceramah di walimahan. Eh habis ceramah yang tampil biduan yang pakaiannya serba ketat. Sepertinya ceramah hanya serimonial dan larut memuai ketika pesta dimulai.”

“Sudahlah, ngapain kita repot-repot. enggak akan sadar. Sudah susah diperbaiki. Enggak ada guna kita kasih ceramah.”

“Bosan ngajak mereka ke masjid. Dari dulu masjid kita ini isinya segini gini aja. Enggak tambah tambah.”

Menghadapi realitas di lapangan

Itulah beberapa celetukan-celetukan yang sering kita dengar saat menghadapi realitas di lapangan. Celetukan yang bisa jadi menggambarkan keputus-asaan dan menyerah pada keadaan yang sepertinya mustahil berubah.

Sebab, bertahun-tahun sudah menyeru, tapi sepertinya tak ada perubahan. Berkali-kali sudah mengajak tapi tak ada tanggapan. Benarkah sikap itu? Mari kita buka surah Al A’raf ayat yang berbunyi:

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.”

(Surah al-A’raaf, 7:164)

Ayat ini menjelaskan konsistenisasi seorang dai. Bagaimanapun keadaan yang diseru dia tak akan pernah berhenti berdakwah, bahkan siap menanggung setiap resiko karenanya.

Tidak ada kata henti, sebab yang selalu terngiang ngiang di telinganya adalah kata ‘ini adalah tanggung jawab yang wajib dipikul’ dan harapan yang tak pernah putus. Tidak ada kata mustahil, sebab peluang hidayah selalu terbuka selama matahari belum terbit dari arah barat atau nafas di tenggorokan.

Tanggung jawab dan harapan

Bisa jadi saat ini yang diseru belum mendapatkan hidayah Allah SWT, tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat Allah bukakan hatinya untuk bertaubat. Tidak ada yang mengira bahwa Abu Sufyan, Ikrimah bin Abu Jahal  Khalid bin walid, Amru bin Ash dan penduduk Mekah lainnya akan masuk Islam.

Mereka berjuang untuk Islam mengingat permusuhan mereka yang sengit terhadap Islam dan kaum muslimin sebelumnya. Tapi itulah kehendak Allah SWT. Mereka menjadi para pejuang yang memperjuangkan Islam di garis depan.

Itulah sebabnya mengapa Rasulullah SAW menolak tawaran malaikat penjaga gunung untuk membalikkan gunung terhadap masyarakat perkampungan Thaif. Saat Rasulullah mengajak mereka kepada Islam dan mereka menolak dengan mencederai Rasulullah.

Rasulullah SAW berkata: ‘Aku berharap dari keturunan mereka muncul orang-orang yang berjuang untuk agama ini.” Begitulah jalan yang ditempuh para rasul sepanjang sejarah, tak hendak berhenti walau sedikit pengikut dan panjangnya masa serta di tengah intimidasi dan provokasi.

Dan inilah rahasia dari kekonsistenan mereka; tanggung jawab dan harapan. Tanggung jawab di hadapan Allah SWT (ma’ziratan ilaa rabbikum) dan harapan mendapat hidayah (wa la’allahum yattaquun).