Taufiq al-Hakim, peletek dasar drama Mesir modern

Dunia Arab Muhammad Walidin 17-Nov-2020
389px-Tawfiq_al-Hakim
Taufiq al-Hakim © By Alriyadh Public Domain, Link

Taufiq al-Hakim  lahir di Alexandria, Mesir pada tahun 1898. Pada usia 7 tahun, Taufiq memulia pendidikan dasarnya di Damanhur. Setamat sekolah dasar, ia dikirim ayahnya ke Kairo untuk melanjutkan sekolah menengah.

Beliau tinggal bersama dua orang pamannya, yang menjadi guru sekolah dasar dan dosen pada Fakultas Teknik. Di sela-sela kegiatan menyelesaikan sekolah menengahnya, ia mendalami seni suara dan musik yang mengantarkannya pada seni teater.

Taufiq peletek dasar drama Mesir modern

Lulus dari sekolah menengah, Taufiq melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Hukum. Sementara bakat seni dan sastranya mulai tumbuh dalam hati dan fikirannya. Iapun kemudian bergabung dengan para seniman muda sebayanya, di antaranya dengan Mahmud Taimur.

Pada tahun 1922, ia sudah mulai menyusun beberapa naskah drama yang dipentaskan oleh grup teater Ukasyah di gedung teater al-Azbekiyah. Naskah drama yang dipentaskan di antaranya adalah al-Mar’ah al-Jadidah, al-‘Arisy, dan Khatam Sulaiman.

Naskah tersebut tidak diterbitkan, sehingga ia berkesimpulan bahwa naskah tersebut belum sempurna. Walaupun demikian, ia dianggap sebagai peletek dasar drama Mesir modern. Dialah yang menjadikan drama sebagai genre sastra di dunia Arab.

Pada tahun 1924, Taufiq menyelesaikan studinya di sekolah tinggi Hukum. Ia meminta kepada ayahnya agar diizinkan pergi ke Paris dengan alasan untuk melanjutkan studi hukum. Ayahnya sangat senang dan menyetujui keinginannya. Akan tetapi, selama empat tahun keberadaannya di  Paris, ia tidak sedikitpun menyentuh masalah hukum.

Di Paris, ia gunakan waktu untuk membaca novel sebanyak-banyaknya dan mendalami masalah sastra dan teater, baik di Perancis maupun di luar Perancis. Ia juga sangat suka dengan musik Barat.

Seluruh waktunya dihabiskan di gedung-gedung opera dan konser-konser musik. Selain itu, ia juga menghabiskan waktunya untuk membaca sebanyak-banyaknya budaya intelektualitas dari masa klasik dan masa modern.

Karya bernuansa Islam yang lebih dominan

Pada tahun 1928, Taufiq kembali ke Mesir dan bekerja sebagai anggota DPR (s.d 1934), Direktur Pelaksana pada Departemen Pendidikan dan Pengajaran (s.d 1939), lalu direktur pada Departemen Pelayanan Sosial.

Meskipun sibuk dengan kegiatan yang berkaitan jabatannya, ia tetap aktif  menulis, baik cerpen, novel, ataupun naskah drama.  Pekerjaannya sebagai anggota senat dan seringnya mengunjungi daerah-daerah dan perkampungan-perkampungan melahirkan karya tulis berupa catatan harian berjudul Yaumiyyat an-naib fi al-Aryaf.

Penerima Nobel 1988, Najib Mahfuz sangat mengapresiasi karya-karya Taufiq. Menurutnya, karya Taufiq amat relijius, bahkan ada yang terinspiasi dari al-Quran. Nuansa Islam dalam karya-karya Taufiq lebih dominan dibanding dengan sastrawan Mesir lainnya. Oleh karena itu, ia menilai bahwa Taufiq-lah yang sebenarnya berhak mendapat anugerah Nobel tersebut.

Taufiq pensiun dari jabatan-jabatan resmi di pemerintah pada tahun 1943. Kemudian ia mencurahkan hidupnya untuk seni, sampai ia wafat tahun 1987 di Kairo. Mau tau karya dramanya?

Inilah dia: ad-Dlaif ats-Tsaqil, Ahl al-Kahf (1933), Usfhur min asy-Syarq (1938), Ahl al-Fann, sebuah kumpulan dari tiga fragmen naskah drama: Sulaiman al-Hakim, Isis (1955) Ash-Shufqah (1956).