Tentang kebaikan dan keburukan: buruk dipaksa baik

Masyarakat Roni Haldi Alimi 13-Nov-2020
dreamstime_s_145646523
Tentang kebaikan dan keburukan: buruk dipaksa baik © Eptian Savero Fitrahnsa | Dreamstime.c

Apa logis seseorang yang mencelakai saudaranya sendiri dinobatkan sebagai pahlawan super? Tentu jauh dari akal sehat, bukan? Pelaku kejahatan berencana melibatkan pelaku yang tidak sedikit dan memiliki hubungan darah. Aneh tapi nyata.

Sepuluh bersaudara seayah lagi serumah bermufakat jahat. Mereka berdiskusi alot diboncengi pihak ketiga nan berbahaya. Salah seorang dari mereka berkata dengan nada tegas,“Bunuhlah Yusuf!”

Kejinya mufakat jahat

Perhatikan: si pengujar bukan berkata dengan kalimat “Ayo kita bunuh Yusuf!” atau “Aku akan bunuh Yusuf!” Inilah sebentuk upaya mengalihkan ide keji kepada saudara-saudaranya yang lain. Seakan-akan ide bersama, bukan ide dari dirinya. Inilah bukti kejinya mufakat jahat.

Ketakutan yang sangat melanda hati dan diri sepuluh saudara. Begitu muncul ide bunuhlah Nabi  Yusuf a.s ternyata sekongkol jahat belumlah nyaman lagi aman. Jika Yusuf dibunuh, alasan apa yang mereka punya buat meyakinkan ayah mereka? Lahirlah ide jahat berikutnya, “Buanglah Yusuf di suatu tempat.”

Kedua ide tersebut memang berbeda dipermukaan. Namun, misi yang diusung tetaplah setali. Ibarat handphone, casing memang diganti tapi konten masih itu-itu juga. Galau tingkat tinggi berhasil menguasai diri mereka. Dibantu bisikan busuk dari setan durhaka. Ketakutan sangat melanda tak mampu ditaklukkan.

Wajah Nabi Yusuf a.s membawa efek trauma terhadap sepuluh saudaranya. Hasrat agar dicintai lagi dikasihi akan sirna seketika jika Yusuf masih serumah dengan sang ayah tercinta. Buang jauh Yusuf dari wajhu – perhatian dan kasih sayang – sang ayah. Agar monopoli di rumah segera berakhir.

“Bunuhlah Yusuf atau buanglah ia ke suatu tempat agar perhatian ayah tertumpah kepadamu, dan setelah itu kamu menjadi orang yang baik.”

(Surah Yusuf, 12: 9)

Bilal Ibnu Sa’ad mengingatkan, “Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat tapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.” Disangka maksiat dan dosa menenangkan hati, ternyata diri ini selalu dihantui sesal. Padahal, kebaikanlah yang sebenarnya membawa ketenangan; yang tak membuat hati ini was-was.

Tentang kebaikan dan keburukan

An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam tentang kebaikan dan dosa (keburukan). Baginda pun bersabda:

“Kebaikan adalah bagusnya perangai, sedangkan dosa (keburukan) adalah apa yang mengganjal di dadamu dan engkau pun tidak suka diketahui oleh orang lain.”

(Hadis riwayat Muslim)

Syeikh Ahmad Hijazi dalam Syarah al-Arba’in berkata, “Al-itsm (dosa) adalah hal yang meninggalkan bekas (yang tidak nyaman) di dalam dada, yang membuat hati menjadi sempit dan gelisah, sehingga tidak merasa nyaman dengannya. Ditambah lagi bahwa hal tersebut adalah hal yang diingkari orang-orang, yang mereka tidak suka ketika melihat hal tersebut ada padanya. Adapun kebaikan mengarahkan pelakunya ke arah ketenangan.”

Yakinlah, ketakutan demi ketakutan silih berganti tiba meneror pelaku kejahatan. Tak peduli apakah pelakunya tunggal sendirian ataukah hasil sekongkol terencana. Apabila kejahatan itu tampak baik, maka sang pendosa lazim untuk terus mengulang dosanya.

Tidak ada sedikit pun ganjalan di hatinya. Ditambah lagi terasa dan dipaksa baik. Sekongkol sepuluh bersaudara seayah lagi serumah mengajak kita waspada: perhatikanlah betapa perilaku keburukan dipaksakan berwujud kebaikan.