Tentang rotasi kehidupan

Masyarakat Komiruddin
Komiruddin
Tentang rotasi kehidupan
Tentang rotasi kehidupan © Abdulaz99 | Dreamstime.com

Waktu terus berlalu. Roda zaman terus berputar. Musim silih berganti dan kehidupan terus berjalan. Tak ada yang dapat menghentikan sunatullah yang berlaku.

Tak ada yang abadi, semua akan sirna dan kembali kepada asalnya. Dari tanah. Hidup di atas tanah dan kembali ke tanah.

Tentang rotasi kehidupan

Begitulah sunatullah berlaku. Semua akan mengalami rotasi dan perputaran. Dari lemah menjadi kuat dan dari kuat kembali ke lemah lagi. Anak-anak menjadi remaja. Remaja menjadi dewasa. Dewasa menjadi tua dan akhirnya berkalang tanah.

 “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”

(Quran surah Ar-Rum, ayat 54)

Kekuasan yang diagung-agungkan, dikejar dan dipertahankan akan sirna. Waktu dan usia yang membatasinya. Di manakah Namrud dan Firaun yang keduanya pernah mengaku tuhan yang berkuasa?

Di manakah kaum Aad pembuat hunian yang kokoh menjulang dan pencipta peradaban yang sebelumnya belum pernah ada? Atau kaum Tsamud yang memahat gunung-gunung untuk dijadikan hunian dan tempat perlindungan.

Secuil kekuasaan dunia yang mereka kendalikan kini tinggal cerita. Cerita buruk yang dibaca dari generasi ke generasi sebagai pelajaran bahwa sebesar apapun kekuasaan akan sirna.

Secuil kekuasaan dunia yang mereka kendalikan kini tinggal cerita. Cerita buruk yang dibaca dari generasi ke generasi sebagai pelajaran bahwa sebesar apapun kekuasaan dan sehebat apapun dia akan sirna dan tak akan mampu berhadapan dengan sunatullah.

Kekayaan itu tidak dapat menyelamatkan

Kekayaan yang dibangga-banggakan, dicintai sepenuh hati dan didapatkan dengan susah payah. Bila sudah tiba ajalnya akan ditinggal.

“Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan, dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah, dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya, demikianlah. Dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.”

(Quran surah Ad-Dukhan, ayat 25-29)

Tak satupun yang dibawa bersama. Tinggalah mayat seorang diri menyesali dirinya seraya memohon: “Duhai andai bisa ditangguhkan barang sejenak, niscaya aku akan bersedekah dan menjadi orang baik”

Kurang kaya apa orang seperti Qarun. Saking banyaknya gudang harta miliknya tergambar dari banyaknya kunci gudang tersebut, di mana sembilan orang dewasa merasa kepayahan untuk memikulnya. Namun, kekayaannya itu tidak dapat menyelamatkannya. Bahkan tenggelam bersamanya ke dasar bumi.

“Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).”

(Quran surah Al-Qashash, ayat 81)

Jadi, ketika kita sedang berkuasa, ingat-ingatlah bahwa apapun bentuknya kekuasaan pasti akan berakhir. Ketika kita sedang berjaya, ingat-ingatlah bahwa betapapun banyaknya kekayaan kita, pasti akan berpisah dengannya, baik ditinggalkan atau meninggalkan.