Tiga amalan yang timbangannya berat di Akhirat

Tiga amalan yang timbangannya berat di Akhirat © Grafoo | Dreamstime.com

Hari Kiamat adalah sesuatu yang pasti akan datang. Ianya termaktub dalam Al-Quran dan hadis-hadis Rasulullah SAW. Hanya saja waktunya tidak ada manusia yang tahu, bahkan Rasulullah sekalipun tidak mengetahui kapan datangnya Kiamat. Meyakini datangnya hari Kiamat adalah salah satu pondasi rukun iman dalam agama Islam. di antara rangkaian hari Kiamat adalah yang disebut dengan yaumil hisab yaitu hari penghitungan dan yaumil mizan yaitu hari penimbangan amal manusia.

Di hari penimbangan amal, manusia tidak lagi bisa menghindar dari kenyataan akan amal dan perbuatannya ketika di dunia. Bila amal kebaikan yang lebih berat dalam timbangan Akhirat, maka ia akan mendapatkan keberuntungan dan menyenangkan. Karena pertanda awal akan dimasukkan kedalam surga. Adapun apabila timbangan kebaikan lebih ringan dari keburukan, maka itu merupakan kerugian yang panjang, karena ia akan menjadi penghuni neraka.

Allah SWT berfirman: “Dan adapun orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka hawiyah itu? Yaitu api yang sangat panas.” (Surah al-Qariah 6, ayat 11)

Agar timbangan kebaikan kita berat dalam hitungan Akhirat, berikut tiga hal yang harus dilakukan dalam kehidupan:

Akhlak yang mulia

Rasulullah SAW diutus kemuka bumi adalah dalam rangka  menyempurnakan akhlak manusia. Dari pribadi Bagindalah kita memperoleh keteladanan akan akhlak dan prilaku yang mulia dalam kehidupan. Akhlak dikatakan mulia apabila terbangun hubungan baik dengan Allah SWT dan juga hubungan baik sesama makhluk Allah, baik sesama manusia, dengan hewan maupun alam semesta.

Ketika akhlak mulia telah kita jalani dan menjadi kepribadian dalam hidup, maka timbangan amal saleh kita menjadi sangat berat. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Yang paling berat di atas neraca amal (pada hari Kiamat) adalah akhlak yang baik.” (Hadis riwayat at-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Maka yang harus diwaspadai adalah begitu masifnya upaya merusak akhlak umat Islam saat ini dengan berbagai cara, baik melalui televisi, radio, film, majalah, dunia hiburan, bahkan dunia internet yang tidak lagi mengenal batas dalam berinteraksi. Untuk itu menguatkan pondasi keimanan dan tauhid harus menjadi prioritas agar menjadi benteng mencegah perbuatan keji dan munkar.

Berzikir

Secara harfiyah, zikir artinya mengingat, menyebut, menuturkan, menjaga, mengerti dan perbuatan baik. Orang yang berzikir adalah orang yang selalu mengingat Allah SWT baik dalam keadaan sempit maupun lapang. Berzikir bukan sekedar mengingat atau menyebut nama Allah saja, tapi yang lebih penting adalah menghadirkannya kedalam jiwa sehingga muncul sikap ihsan, yakni meyakini bahwa Allah selalu mengawasi kehidupan kita dan tidak luput sedikitpun.

Di antara bentuk zikir itu adalah mengucapkan kalimat tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan sebagainya. Apabila kita telah berzikir kepada Allah SWT, maka kita akan mendapatkan pahala sebagaimana nilai pahala sedekah. Sehingga ketika kita tidak memiliki kelebihan dari sisi harta, maka tidak perlu berkecil hati.

Karena dengan berzikir akan mendapatkan nilai pahala seperti pahala bersedekah, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Pada tiap pagi ada kewajiban untuk tiap-tiap persendian bersedekah. Dan tiap tasbih itu sedekah, tiap tahlil itu sedekah, tiap tahmid itu sedekah, tiap takbir itu sedekah, menganjurkan kebaikan itu sedekah dan mencegah kemunkaran itu sedekah. Dan cukup menggantikan semua itu dengan dua rakaat sunat dhuha.” (HR Muslim)

Mengurus jenazah

Kegiatan penyelenggaran jenazah, mulai dari memandikan, mengkafani, mensalatkan hingga menguburkan merupakan amalan yang berat timbangan pahalanya. Rasulullah SAW menyampaikan pahalanya sebesar bukit uhud. Sebagaimana termaktub dalam sabdanya:

“Barangsiapa mengantar jenazah seorang muslim karena iman dan mengharapkan pahala, dan terus mengikutinya hingga disalatkan dan selesai menguburkannya, maka ia akan kembali membawa pahal dua qirath, tiap satu qirath sebesar bukit uhud. Dan siapa yang mensalatkannya kemudian kembali sebelum dikuburkan, maka ia kembali hanya membawa satu qirath.’ (HR Bukhari dan Abu Hurairah)

Dari hadis di atas, tergambar oleh kita betapa besar pahalanya ketika ikut dalam kegiatan penyelenggaran jenazah, yaitu sebesar bukit uhud yang kalau ditimbang tentulah sangat berat. Sementara salat jenazah termasuk dalam ibadah yang mudah dikerjakan karena tanpa rukuk dan sujud. Ikut mengantarkan kekuburan juga tidaklah berat, karena bisa berjalan kaki atau berkendaraan. Tapi pahalanya disisi Allah SWT sangatlah besar dan berat.