Tiga gamis – kesedihan, fitnah dan kebahagiaan

Kehidupan Roni Haldi Alimi 01-Nov-2020
dreamstime_s_69667011
Tiga gamis - kesedihan, fitnah dan kebahagiaan © Jezwim | Dreamstime.com

Kisah Nabi Yusuf a.s adalah narasi. Kisah utuh berkarakter. Gamis dijadikan sebagai wasilah forecasting. Gamis yang dianggap biasa saja ternyata berperan mengatur alur cerita sejak awal hingga akhir.

Menariknya, tiga gamis ada pada tiga peristiwa sehingga Syeikh asy-Sya’bi dalam Fa bi Hudahum mengatakan, “Kisah Yusuf itu seputar baju gamis Baginda.”

Baju kesedihan, baju fitnah, baju kebahagiaan

Baju pertama adalah baju kesedihan. Penguat kedustaan makar busuk saudara-saudaranya seayah lagi serumah agar wajah Yusuf a.s yang disayang tak tampak di hadapan ayahnya, Nabi Ya’qub a.s.

“Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Ya’qub) berkata, “Sebenarnya hanya diri kalian sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.”

(Surah Yusuf, 12 : 18)

Baju kedua adalah baju fitnah. Pelepas diri Nabi Yusuf a.s dari gelapnya penjara akibat fitnah tipu daya istri sang Aziz Mesir.

“Dan jika baju gamisnya koyak di bagian belakang, maka perempuan itulah yang dusta, dan dia (Yusuf) termasuk orang yang benar.”

(Surah Yusuf, 12 : 27)

Baju ketiga adalah baju kebahagiaan. Pembawa kabar gembira sekaligus wasilah penyembuh mata diri jua mata hati, yakni sang ayah tercinta.

“Pergilah kalian dengan membawa bajuku ini, lalu usapkan ke wajah ayahku, nanti dia akan melihat kembali; dan bawalah seluruh keluargamu kepadaku.”

(Surah Yusuf, 12 : 93)

Sabar menyertai nilai takwa; takwa tak bisa diceraikan dari kesabaran

Kisah tiga baju dilakoni oleh satu diri yang tertanam takwa berbalut sabar. Ketulusan hati melewati makar saudara sendiri, serumah dan seayah, telah menajamkan akal mengasah diri. Selama 40 tahun bahkan 80 tahun cukup bagi Allah SWT menjadi bukti kekuatan jiwa dan ketegaran diri Nabi Yusuf a.s.

“Sesungguhnya barangsiapa bertakwa  dan bersabar, maka sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”

(Surah Yusuf, 12 : 90)

Sebuah pelajaran berharga dalam hidup manusia. Bahwa sifat sabar selalu menyertai nilai takwa. Seakan takwa tak bisa dipisah diceraikan dari kesabaran. Seakan ingin disampaikan kesabaran itu adalah akhlaknya orang yang bertakwa.

Tirulah kesabaran Nabi Yusuf alaihi salam yang tabah melewati rangkaian tahapan episode kehidupannya. Kesedihan hasil dari makar saudara-saudara serumah seayah ia lewati dengan sabar, Tuduhan fitnah oleh perempuan yang dilindungi tangan kekuasaan ia jalani dengan penuh kesabaran.

Karena Nabi Yusuf a.s  yakin akan janji Tuhannya yang tak akan mengingkari janji-Nya terhadapa hamba yang sabar dalam takwa. Bersabarlah karena Yusuf telah lebih dulu diuji oleh Tuhannya jauh sebelum kita.