Tiga mimpi: Keimanan dan realitas

Sejarah Roni Haldi Alimi
Pilihan oleh Roni Haldi Alimi
Tiga mimpi: Keimanan dan realitas
Tiga mimpi: Keimanan dan realitas © Tomert | Dreamstime.com

Mimpi insan bertakwa didapati pada kisah Nabi Yusuf ‘alaihis-salam. Suatu malam Yusuf bermimpi, melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan, semuanya sujud kepadanya.

Peristiwa mimpi disampaikan kepada sang ayah, Nabi Ya’qub a.s.

Bekal ilmu dan hikmah Allah Taala

Bahagia memenuhi hati ayahanda. Firasat benar, dan mimpi dipahami sebagai pertanda nikmat kemuliaan: Allah SWT tetapkan kenabian pada keturunannya. Bahagia sudah terasa didekap.

Namun, kegundahan akan keburukan menimpa cukup mengurangi bahagia di depan mata. Seakaan membenarkan firasat buruk ayahanda.

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: Wahai Ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

(Quran surah Yusuf, 12:4)

Mimpi kali pertama itu telah mengubah nasib Nabi Yusuf a.s. Baginda makin disayang lagi dijaga oleh ayahnya. Namun, api kebencian kadung lama membara dalam sekam di hati saudara-saudaranya. Bahagia mereka berdua – Ya’qub dan Yusuf – kelak berakibat perpisahan oleh makar jahat saudara seayah lagi serumah.

Berikutnya mimpi kali kedua. Inilah fase ujian keteguhan hati dan kesabaran diri Yusuf. Ujian yangkian pelik. Sakitnya disingkirkan jauh dari rumah kasih sayang belum habis terobati, ia dianggap budak yang pantas dijual-beli.

Disangka keluar dari kegelapan sumur akan mendapati bahagia, namun kepahitan fitnah wanita yang dirasa. Diangkat dari gelapnya sumur, masuk ke dalam istana dunia berhiaskan fitnah durjana. Lepas dari mulut harimau jatuh ke mulut buaya. Fitnah jahat wanita di istana telah membawa Yusuf a.s terdampar di penjara

“Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka.”

(Quran surah Yusuf, 12:33)

Bekal ilmu dan hikmah yang Allah Taala anugerahkan rupanya semakin mengokohkan nilai kenabian Nabi Yusuf a.s. Mukjizat paham akan takwil mimpi telah mempertemukannya dengan dua orang pemuda.

Bersebab takwil mimpi oleh kedua pemuda penghuni penjara, kian akrablah mereka dengan Nabi Yusuf a.s. Hingga mengantarkan Yusuf di hadapan Raja guna menakwilkan mimpi pembawa kegundahannya.

Tiga mimpi: Keimanan dan realitas

Benarlah apa yang diucapkan oleh Buya Hamka,‘Emas tak setara dengan loyang;sutra tak sebangsa dengan benang.’ Orang baik tetaplah tampak baik di mana pun ia berada.

“Dan bersama ia masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara. Salah satunya berkata: Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur, dan yang lainnya berkata: Aku bermimpi, membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung. Berikanlah kepada kami takwilnya. Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang yang berbuat baik.”

(Quran surah Yusuf, 12:36)

Mimpi kedua mengangkat Nabi Yusuf a.s dari keterasingan sumur penyingkiran menuju istana penuh dengan hasrat dan fitnah jahat yang mengantarkannya mendekam dalam penjara. Mimpi kedua bersambung dengan mimpi ketiga.

Ada saja jalan keluar. Jika Allah SWT berkehendak, maka tak satupun jua mampu menghalangi terjadi. Mimpi ketiga mengeluarkan Nabi Yusuf a.s dari belenggu penjara. Dibersihkan harga dirinya dari tuduhan fitnah wanita, dan dipercayakan kedudukan tinggi di istana raja.

Mimpi semua orang tentu tak sama. Nabi Yusuf a.s bermimpi, dua pemuda bermimpi, dan raja Mesir juga bermimpi. Akan tetapi, mimpi-mimpi mereka berbeda. Hanya yang kuat akan bermimpi, keimanan dan realitas pembuktian keteguhannya.

Sebagian orang beranggapan, nilai iman sering terbentur dengan realitas keteguhannya. Iman tidak mungkin terwujud kalau tak diiringi realitas pembuktian keteguhan. Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang bisa menyatukan antara keimanan dan realitas pembuktian keteguhannya.

Iman di hati selalu tunduk pada bimbingan Ilahi, bukan condong tunduk takluk pada bisikan busuk setan. Jika dua hal ini – yakni iman dan pembuktiannya – mampu menyatu, maka mimpi pun menjadi kenyataan.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.