Timbuktu, Mali: Bukti dari sejarah kejayaan Afrika

Sejarah 06 Mar 2021 Asna Marsono
Pilihan oleh Asna Marsono
Timbuktu: Bukti dari sejarah kejayaan Afrika
Timbuktu: Bukti dari sejarah kejayaan Afrika (foto: Masjid Agung atau Djinguereber Mosque) © britannica.com

Timbuktu di Mali, untuk jangka waktu yang lama dikenal sebagai kota legendaris. Bahkan, keberadaannya yang sebenarnya membuat beberapa orang tercengang karena keajaiban kota tersebut.

Pikirkan kota abad ke-16 yang kaya dengan ide-ide terbaru dalam Sains, Matematika dan Kedokteran. Kota ini berada di tengah gurun yang terik. Kota ini penuh dengan buku dan budaya yang tak terhitung jumlahnya.

Fakta uniknya, Timbuktu menjadi terkenal karena kekayaannya setelah ditaklukkan oleh muslim. Terletak di Mali, Afrika Barat, kota ini dikenal dengan kekayaan budayanya. Dari abad ke-12 hingga ke-17, kota ini menumbuhkan reputasi sebagai modal intelektual dan spiritual. Kota ini juga mengalami Era Keemasan pada abad ke-15 dan ke-16.

Sejarah Timbuktu didirikan

Sejarah lisan mengatakan bahwa ada seorang wanita Tuareg bernama Buktu  yang mendirikan pemukiman kecil pada abad ke-11 di gurun Sahara. Pemukiman ini terletak sekitar 12 kilometer di utara dataran sungai Niger sejalan dengan tepi selatan gurun.

Tempat itu adalah tempat istirahat dan makan untuk penggembala Tuareg nomaden. Mereka biasa berkeliaran di padang pasir di musim hujan. Tapi mereka membutuhkan tempat berlindung di musim panas.

Pemukiman Buktu memiliki sumur air tawar. Dengan demikian, tempat ini dikenal sebagai ‘Tin-Buktu’ atau Sumur Buktu. Waktu ke waktu, daerah kecil ini tumbuh menjadi kota Timbuktu yang semarak.

Perluasan kota Timbuktu di Mali

Sejak awal, Timbuktu berada dalam posisi unik untuk melayani semua orang di Afrika Barat. Kota ini adalah tempat pertemuan alami bagi para penggembala seperti Tuareg, Arab, Wangara dan Fulani.

Pedagang Wangara Islam adalah pemukim permanen pertama. Mereka perlahan-lahan berteman dengan Tuareg. Kemudian, masjid-masjid pertama dibangun dan Islam melangkah di kota tersebut.

Mansa Musa dan keputusannya

Pada tahun 1325, Mansa Musa yang merupakan sultan kekaisaran Mali kembali dari ziarahnya ke Makkah. Baginda memiliki begitu banyak kekayaan sehingga ia mengubah ekonomi setiap tanah yang disentuhnya.

Sultan Mansa bahkan membangun masjid di setiap tempat dia beristirahat. Ketika ia mencapai Timbuktu, ia memerintahkan arsiteknya Abu Ishaq As-Saheli untuk membangun masjid terbesar di Afrika Barat.

Masjid ini bernama Al-Masjid Al-Kabir atau Masjid Agung (Djinguereber Mosque atau Masjid Jingerebir, korupsi dari bahasa Arab, Jami ‘al-Kabir). Tempat ini masih menjadi tempat utama untuk salat  Jumat di Timbuktu hingga saat ini.

Islam di Timbuktu

Dengan demikian, pemikiran Islam mulai menyebar di Timbuktu. Kota ini menjadi pusat pembelajaran dan menghasilkan jumlah tertinggi buku-buku Islam langka. Musafir Muslim terkenal seperti Ibnu Batutah dan Hasan al-Wazan juga mengunjungi Timbuktu.

Mereka kagum pada tingkat tinggi bahan studi dalam bahasa Arab. Mereka juga mengapresiasi kecintaan masyarakat terhadap Kitab Suci Al Quran. Hasan al-Wazan  menulis dalam bukunya: ‘Di sini dijual beragam naskah atau buku tertulis, yang harganya lebih mahal daripada barang dagangan lainnya.’

Kota ini adalah titik peristirahatan utama bagi orang yang ingin ke Makkah. Sehingga menjadi titik pusat bagi para ulama untuk  berziarah. Hal ini mengakibatkan penyebaran pengetahuan dan gagasan Islam menyebar dengan pesat. Ada banyak buku dan naskah yang menggambarkan sejarah dan kondisi sosial budaya Islam di kota ini.

Saat ini, banyak karya-karya hebat ini digali dari koleksi pribadi. Kemudian karya-karya ini disimpan di pusat dokumentasi. Sebagai contoh, Ahmad Baba Centre memulai koleksinya sekitar tahun 1970. Tempat ini dinamai dari salah satu ulama terbesar di Timbuktu.

Masjid-masjid di Timbuktu juga merupakan pusat pendidikan

Ada banyak masjid di Timbuktu. Cakrawala kota selalu didominasi oleh menara masjid. Masjid-masjid ini terkenal di dunia karena sejarah dan fitur unik mereka.

Misalnya, di bagian utara kota terletak Masjid Sankore. Masjid ini memiliki menara berbentuk piramida dengan balok kayu. Masjid ini merupakan bekas bangunan Universitas Sankore yang dulunya menampung ribuan mahasiswa. Tentu saja, universitas itu menghasilkan beberapa sarjana besar Afrika.

Di masa kejayaannya, Universitas Sankore mengajarkan Sejarah Islam, Sosiologi, Politik, Kedokteran, Quran dan sebagainya. Di kuartal barat, terletak Masjid yang dibangun oleh Mansa Musa. Sekarang dianggap sebagai masjid tertua yang berdiri di Afrika Barat. Masjid ketiga adalah Masjid Sidi Yahia yang dibangun pada abad ke-14.

Timbuktu adalah bukti masa lalu budaya yang kuat dan kaya. Kota ini juga memberikan catatan tentang warisan besar Islam tentang pembangunan di negara-negara Afrika.

Bahkan hingga sekarang, kekayaan sejarah kota ini dapat membantu Afrika untuk bangkit menuju kejayaan lagi. Sejarah ini sangat penting bagi Afrika untuk berkembang di kemudian hari.