Toha Hussein – redupnya mata, tajamnya pena  

Dunia Arab Muhammad Walidin 02-Nov-2020
en.qantara.de_tahahussein
Toha Hussein © en.qantara.de

Toha Hussein (atau Taha Hussein) lahir pada tanggal 14 November 1889 di sebuah desa pedalaman Mesir dekat kota Magaga. Desa ini terletak di pinggiran sungai Nil sebelah kiri propinsi Menia. Beliau adalah anak ke tujuh dari tiga belas bersaudara. Ayahnya Hussein Ali, adalah pegawai rendahan pada suatu serikat perkebunan tebu.

Saat dewasa, Toha mengalami kebutaan total. Hal ini dikarenakan infeksi ringan pada matanya ketika ia masih kecil (tiga tahun). Sayangnya, ia dirawat oleh praktisi medis lokal yang kurang ahli sehingga membutakan matanya untuk selamanya.

Meskipun buta, jalur pendidikannya sangat baik

Meskipun buta, Toha dianugerahi kecerdasan, ketajaman pikiran, dan daya ingat yang sangat kuat. Oleh karena itu, perjalanan pendidikannya mampu ditempuh dengan jalur pendidikan normal.

Pendidikan pertama dimulai di madrasah al-Kuttab, dengan materi pelajaran hafalan al-Quran. Setelah hafal al-Quran, ia melanjutkan dengan menghafal Majmu’ al-Mutun dan membaca sebagian buku dan puisi Arab lama sebagai persiapan untuk masuk ke al-Azhar. Pada usia 13 tahun, ia telah belajar di al-Azhar.

Di al-Azhar, beliau mendalami ilmu pengetahuan agama dan bahasa Arab. Ia dikagumi oleh Syekh Sayyid al-Marshafi, guru sastra yang membimbingnya dalam mengkaji buku-buku al-Kamil karya al-Mubarrad, al-Amali karya Abu Ali al-Qali, dan Hammasah karya Abu Tamam.

Beliau aktif dalam gerakan reformasi yang diserukan oleh murid-murid Muhammad Abduh. Semisal Qasim Amin yang menyerukan emansipasi wanita, dan Luthfi Sayyid yang mulai menyerukan tolok ukur baru dalam masalah politik, etika, dan sosial. Ia pun beralih menjadi murid setia Abduh dan menimba banyak ilmu darinya.

Pada tahun 1908 dibuka universitas swasta al-Jamiah al-Ahliyah. Toha Hussein masuk ke universitas tersebut dan menimba ilmu dari para dosen dari Mesir, seperti Syekh al-Mahdi, Muhammad al-Khudari, dan Hifni Nashif.

Selain itu, beliau juga menimba ilmu dari para dosen orientalis, seperti Nalino dan Juwaidi. Mereka banyak andil dalam membuka cakrawala barunya di bidang kajian dan penelitian sastra. Ia menguasai banyak metode ilmiah dalam kritik sastra yang diserap dari para guru besar Eropa.

Toha Hussein  berusaha keras mempelajari bahasa Perancis pada sekolah-sekolah malam sehingga ia mampu memahami kuliah-kuliah yang disampaikan dengan bahasa tersebut. Kecerdasan dan ketekunannya membuahkan hasil. Beliau meraih gelar Ph.D pada tahun 1914 di universitas al-Jamiah al-Ahliyah.

Redupnya mata, tajamnya pena

Atas kecemerlangannya itu, pihak universitas mengirimnya ke Perancis untuk mengkaji ilmu pengetahuan sejarah di universitas yang ada di Monville. Beliau tinggal di sana selama setahun. Setelah pulang selama tiga bulan berada di Mesir, ia dikirim kembali ke Perancis, tepatnya di Paris. Di tempat itu ia mengikuti kuliah tentang pelbagai ilmu dari para sejarawan dan sastrawan pada Universitas Sorbone dan Colledge de Franca.

Di tengah-tengah kesibukannya mengikuti kuliah, Toha menyempatkan diri untuk mempelajari bahasa Yunani dan Latin. Kegiatannya itu ditemani oleh seorang gadis Perancis, Suzana, yang kemudian menjadi istri, penasehat, asisten, dan ibu bagi anak-anaknya. Toha Hussein pernah menyatakan bahwa sejak ia mendengar suara manis Suzana, ia tidak pernah lagi merasakan kesedihan.

Toha Hussein menulis disertasinya pada tahun 1917 dengan kajian tentang Ibnu Khaldun, seorang sejarawan Arab abad ke-14. pada tahun 1918, beliau memperoleh gelar Ph.D yang kedua kalinya dalam bidang filsafat sosial dari Universitas Sorbone, Paris.

Sekembalinya dari Perancis, Toha aktif memberi kuliah, menulis, dan menjadi redaktur sastra, serta juga aktif di banyak organisasi. Pada tahun 1919, ia ditetapkan sebagai professor di bidang sejarah oleh Universitas Mesir.

Toha Hussein mentransfer pengetahuan Yunani pada para mahasiswanya, seperti Drama Sophocles dan Aeschylus. Toha Hussein sangat dikagumi dan disegani atas ilmunya sehingga banyak memperoleh Doktor Honoris Causa dari banyak universitas. Di antaranya adalah Roma, Athena, Leon, Madrid, dan Oxford.

Beliau meninggalkan karya di bidang sastra, seperti antologi cerpen berjudul ‘Al-Mu’azabun fil Ardh, Rihalat ar-Rabb, al-Wa’d al-Haq, Jannat al-Hayawan. Di samping itu, ia menulis novel terkenal yang berisi otobiografi berjudul al-Ayyam (1929) dan dimuat secara bersambung dalam majalah al-Hilal yang didirikan oleh George Zaidan.

Toha Hussein meninggal dunia pada tahun 1973. Setelah kematiannya, Suzana menulis buku Bersamamu. Buku ini menceritakan kehidupan mereka bersama.