Tradisi Bekarang Iwak

Asia Kkartika Sustry
Pilihan oleh Kkartika Sustry
Tradisi Bekarang Iwak
Tradisi Bekarang Iwak © kumparan.com

Bekarang Iwak kata yang jarang terdengar bagi masyarakat umum, tetapi di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) ini menjadi suatu keunikan. Tradisi Bekarang Iwak merupakan tradisi menangkap ikan yang dilakukan oleh sebagian warga khususnya daerah yang memiliki sungai di daerah Sumsel.

‘Bekarang’ yaitu menangkap, ‘Iwak’ adalah ikan. Dengan demikian, Bekarang Iwak berarti ‘kegiatan mencari ikan di sungai’.

Tradisi Bekarang Iwak di Sumatera Selatan

Menurut salah satu akademisi di Sumsel, Pak Ibrahim (warga asal desa Seraka, Kecamatan Babat Toman, Sekayu) bahwa tradisi Bekarang Iwak juga dilakukan pada musim kemarau ketika air sedang surut, tanpa dikomandoi pemerintah setempat masyarakat secara langsung berbondong ke sungai.

Dengan alat yang digunakan berupa tangkul besar yang terbuat dari jaring-jaring lembut atau peralatan lain masyarakat nyemplung ke sungai. Namun, pada september tahun lalu di salah satu desa di Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin juga mengadakan tradisi Bekarang Iwak.

Ini diintroduksikan langsung oleh Bupati Muba, Bapak Dodi Reza sebagai bentuk apresiasi terhadap tradisi warga yang mencari ikan namun tidak merusak lingkungan. Selain itu, merupakan ajang promosi terhadap pariwisata yang ada di Muba yaitu Danau Siarak.

Tradisi Bekarang Iwak ini dijadikan salah satu cara mensyukuri kekayaan alam terkhusus daerah perairan. Warga yang mendapat banyak ikan tentu merasa senang. Selain itu tepatnya di desa Gandus, Palembang juga ketika menyelenggarakan tradisi ini.

Pemerintah setempat yang memantau hasil panen warga akan mengselektif ikan-ikan yang besar untuk dijual. Sementara uang hasil menjual tersebut digunakan untuk membantu keperluan umum seperti membuat jalan, jembatan, membangun masjid dan sebagainya.

Tradisi yang mengajarkan kita selalu menjaga alam

Islam mengajarkan untuk tidak melakukan sesuatu hal yang berlebihan, termasuk urusan makan dan minum hendaklah sekedarnya saja. Manusia seringkali tidak puas dengan apa yang telah diperoleh, di antaranya dalam hal menangkap ikan.

Bahkan sering terjadi pencemaran terhadap sungai dengan mengambil ikan secara berlebihan menggunakan bahan kimia. Oleh karena itu, penting sekali bagi setiap warga untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Jika sungai tidak tercemar ikan-ikanpun akan tetap sehat sekalipun air sungai sedang surut. Tradisi Bekarang Iwak seperti ini mengajarkan kepada kita untuk selalu menjaga alam sehingga bisa menghasilkan hasil panen yang sehat dan tetap memupuk kebersamaan antar warga.

Tradisi ini hendaknya dilakukan dengan tetap dalam pengawasan pemerintah setempat agar terhindar dari tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab dalam mencemari ekosistem sungai.

Wilayah Sumsel memang memiliki air yang cukup sehingga setiap kota dan kabupaten yang dialiri sungai panjang atau juga memiliki danau yang besar memiliki tradisi Bekarang Iwak. Di antaranya Palembang, Sekayu (Muba), Muara Enim, Lahat dan wilayah perairan lainnya.