Transformasi puasa dalam kehidupan

Wanita di akhir Ramadan, di Nusa Penida-Bali © Vladislav Jirousek - Dreamstime.com

Puasa ditinjau secara bahasa berasal dari kata ‘shaama,’ ‘yashuumu’ dan ‘shauman’ yang artinya mencegah atau menahan. Artinya orang yang berpuasa atau shaum sedang belajar menahan diri dari rasa lapar, secara emosional juga menahan dari bebagai godaan untuk melakukan kejahatan.

Seperti yang semua tahu, puasa Ramadan yang lalu merupakan puasa wajib bagi seluruh umat Islam selama satu bulan penuh. Sebagaimana dalam firman-Nya, dalam Quran, surah al-Baqarah, ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Ayat tersebut jelas  sekali perintahnya dari Allah SWT dengan indikator ketika kita telah menyelesaikan puasa kita menjadi orang-orang yang bertakwa.

Puasa Ramadan disebut sebagai bulan maghfirah atau bulan diampunkan dosa. Hal ini tercantum dalam hadis sahih no 233, yang diriwayatkan oleh Muslim. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Dari salat (ke salat) yang lima waktu, dari jumat ke jumat, dari Ramadan ke Ramadan, semua itu dapat menghapus (dosa-dosa) di antara waktu tersebut, jika menjauhi dosa-dosa besar.”

Tentu merugi sekali jika kita mengabaikan kesempatan untuk mendapat pengampunan Allah SWT. Bulan Ramadan juga disebut bulan tarbiyah (Pendidikan). Bagaimana tidak, coba kita renungkan selama satu tahun tubuh kita tidak istirahat sama sekali dari mengkonsumsi atau dari hal-hal dunia, tubuh kita seperti mesin cpu yang dioperasikan berbulan-bulan maka yang akan terjadi justru meledak. Begitu pula sengan tubuh kita, maka dari itu Allah sudah menyiapkan waktu yang tepat untuk kita bermuhasabah diri, mengistirahatkan lambung dan memberi asupan energi positif pada rohani kita.

Ketika kita melewati satu bulan penuh dengan suka cita dan mengharapkan keridaan-Nya. Tentu kita akan merasakan hikmah dari puasa tersebut dan bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari bahkan mendapat gelar mukmin yang bertakwa.

Bulan Ramadan yakni bulan pendidikan. Banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran dari berpuasa diantaranya: pertama, meningkatkan kecerdasan intelektual. Para mukmin yang sedang berpuasa akan memanfaatkan kesempatan untuk mendengarkan tausiah, ceramah agama dan pelatihan tentang bagaimana menjadi insan yang baik. Apalagi saat tekhnologi yang sudah canggih media sosial yang menayangkan ilmu  lebih banyak.

Kedua, meningkatkan kecerdasan emosional. Bagaimana tidak, dengan diberikan petunjuk dan aturan yang baku tentang puasa dan hal hal yang mengurangi pahala. Para shaim juga akan terbiasa menahan diri untuk tidak berbuat keji mulai dari menahan marah, menahan ghiba, fitnah, iri, dengki, sombong bahkan menahan untuk berbuat syahwat, hati kitapun menjadi lebih lembut dan lebih penyayang.

Ketiga meningkatkan kecerdasan sosial. Selama satu bulan penuh para shaim juga banyak berbagi dengan sesama. Para shaim juga tahu bulan Ramadan adalah bulan berkah. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW berikut ini: ” Barang siapa yang menunaikan sholat di malam lailatul qadar dengan keimanan dan mengharap rid a Allah  SWT maka akan diampuni dosa-dosa yang terdahulu. Dam barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharap ridha Allah maka diampuni dosa-dosa yang terdahulu.” (Hadis riwayat Bukhari)

Dengan banyaknya kabar gembira dari Rasulullah SAW para shaimpun semakin yakin untuk berbuat kebaikan. Berlomba-lomba dalam menunaikan kebaikan salah satunya bersedekah dan berzakat. Orang yang berpuasa sebulan penuh akan merasakan menahan lapar tentunya dia juga merasakan bagaimana para pengemis yang tidak makan berhari-hari. Sehingga jiwa sosial mereka terpanggil untuk berbagi kepada yang membutuhkan.

Keempat, meningkatkan kecerdasan spiritual. Hal ini tentu paling dominan ketika seseorang melakukan puasa dengan keimanan dan sungguh sungguh mengharap rida Allah SWT. Rohani terbiasa mendengarkan tausiah dan lisan terbiasa mengucap zikir juga bertadarus al-Quran tentu menjadikan kita pribadi yang damai jiwanya. Energi positif dari psikologi pun menjadi baik.

Kelima meningkatkan kesehatan tubuh. Orang yang terbiasa puasa menjadi pintar mengatur pola makan. Lambungnya jadi sehat dan menurunkan konsumsi makanan yang banyak kolestrol. Nikmat berpuasa tentu membuat kita selalu berbahagia ketika berbuka, tetapi kita tidak akan sanggup mengkonsumsi lebih dari satu piring. Sehingga lambung akan tetap teratur pola makannya.

Pembaca yang dirahmati Allah SWT, jika kita istikamah melakukan hal-hal baik selama bulan Ramadan dan tetap dijalankan pada bulan selanjutnya, insya Allah kita mendapat hidayah dari Allah. Sayang sekali jika kita lupakan perbuatan baik tersebut seiring berakhirnya bulan Ramadan, kita akan menjadi orang yang merugi.