Tuanku Tambusai, pejuang heroik dari Riau

Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai di Kampar, Riau, Indonesia © facebook.com/groups/169487290217309

Berdasarkan data Wikipedia dan catatan para sejarahwan, Tuanku Tambuasi  berdarah Mandailing marga Harahap.  Pejuang kelahiran Dalu-dalu, Nagari Tambusai, Rokan Hulu, Riau, 5 November 1784, dengan nama asli Muhammad Saleh. Ayahnya berasal dari Rambah dan merupakan seorang guru agama Islam keturunan Mandailing bermarga Harahap. Ibunya berasal dari Tambusai yang bersuku Kandang Kopuh.

Tuanku Tambusai dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama. Sedari kecil sudah terbiasa dengan kegiatan mengaji dan belajar tentang agama. Karena semangatnya yang tinggi, beliau sempat  belajar agama ke Bonjol dan Rao di Sumatera Barat. Ia berguru ke ulama-ulama tersohor, seperti Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piobang, dan Tuanku Nan Renceh.

Di sana ia banyak menimba ilmu dari ulama-ulama Islam yang berpaham paderi. Sehingga ajaran paderi begitu memikat hatinya. Dan ajaran ini disebarkan di tanah kelahirannya dan diterima luas oleh masyarakat.  Semangatnya sangat tinggi dalam berjuang, dengan kegigihannya ia banyak mendapat pengikut dan turut mengobarkan semangat perlawanan kepada Belanda.

Melihat sepak terjang dan riwayat kehebatan Tuanku Tambusai , julukan “Harimau Paderi dari Rokan” (De Padrische Tijger Va Rokan) yang diberikan oleh Belanda tidaklah berlebihan. Bahkan, tokoh yang memiliki nama kecil Muhammad Saleh ini layak menyandang sebutan itu. Kemenangan demi kemenangan yang berhasil dicapai oleh Tuanku Tambusai dalam banyak pertempuran dengan Belanda tidak terlepas dari kepiawan dan ketegasan beliau dalam memimpin pasukannya.

Hal itulah yang membuat Belanda sangat keteteran dalam menghadapi Tuanku Tambusai. Tercatat dalam sejarah Tuanku Tambusai termasuk pejuang yang lama bertahan dalam menghadapi penjajahan Belanda. Seorang ilmuan yang juga peneliti bernama Rusli Amran yang berasal dari Sumatera Barat pernah menyatakan dalam suatu seminar bahwa Tuanku Tambusai adalah pahlawan nasional yang tidak pernah berhasil ditipu atau ditangkap oleh musuh.

Tuanku Tambusai memiliki semangat juang yang tinggi, pantang menyerah dan tidak mengenal putus asa. Selain ahli strategi perang, ia juga dikenal sebagai tokoh agama yang sangat dekat dengan rakyatnya. Sehingga ia menjadi rujukan dalam belajar agama di tanah kelahirannya.

Menghadapi kekalahan demi kekalahan dalam menghadapi Tuanku Tambusai beserta pasukannya, tak membuat Belanda menyerah. Mereka mengatur strategi demi strategi agar dapat menangkap atau membunuh Tuanku Tambusai. Sampai akhirnya Belanda memutuskan menyerang Dalu-Dalu sebagai tempat kelahiran Muhammad Saleh sekaligus pusat pertahanan pasukannya. Serangan dilakukan oleh Belanda secara mendadak ketika itu kondisi Tuanku Tambusai beserta pasukannya dalam kondisi tidak lengkap.

Tepat pada 28 Desember 1838 banyak pejuang yang gugur di tangan Belanda. Melihat kondisi ini, Tuanku Tambusai memutuskan untuk mundur dan mengungsi ke Malaysia dengan tujuan mengatur strategi balasan. Namun rencana tersebut tidak terealisasi, karena Allah SWT berkehendak lain. Tepat pada 12 November 1882 di usia 98 tahun Tuanku Tambusai menghadap Ilahi dan dimakamkan di Negeri Sembilan, Malaysia. Atas jasa-jasanya kepada negara, Tuanku Tambusai diberi gelar Pahlawan Nasional melalui SK Presiden Republik Indonesia No 071/TK/Tahun 1995, 7 Agustus 1995.

Kini beliau sudah tiada, perjuangan yang beliau torehkan adalah jatidiri dan  kebanggaan negeri ini, dehingga sepantasnyalah kita menjadikan Tuanku Tambusai sebagai sosok teladan dalam perjuangan dan mengisi pembangunan. Dan seharusnya, generasi muda hari ini lebih mengenal sejarah Tuanku Tambusai  dan pahlawan  nasional lainnya yang jelas kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.