Ujian kesabaran Urwah bin Zubair r.a

Kepercayaan Sanak 19-Agu-2020
Kastel Urwah bin Zubair r.a yang telah dipugar, di lembah Al-Aqeeq, Madinah © islamiclandmarks.com

Dialah tokoh yang dikelilingi orang-orang istimewa. Ayahnya Zubair bin Awwam r.a, pembela Rasulullah SAW sedangkan ibunya, Asma binti Abu Bakar yang membantu Baginda sewaktu dikejar kaum Quraisy ketika Hijrah ke Madinah. Urwah bin Zubair r.a namanya, cucu dari Khalifah Islam yang pertama.

Urwah r.a tidak seberutung kakaknya, Abdullah bin Zubair r.a yang mendapat gelar sahabat karena berjumpa dengan Rasulullah SAW. Meskipun begitu beliau bukanlah tabiin biasa, tetapi tokohnya para ulama di zamannya. Kedalaman ilmu menjadikannya salah satu dari penasehat pribadi khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Kefakihannya berdasar. Ketika orang semasanya berlajar dengan Abu Hurairah r.a, dia lebih memilih berguru pada Aisyah r.a, bibinya sekaligus istri Rasulullah SAW. Beliau juga terkenal rajin beribadah. Merutinkan puasa sunah dan mengkhatamkan Al-Quran dalam empat malam. Selain itu beliau juga senantiasa menjaga salat malam dan tidak pernah meninggalkannya kecuali satu kali saja. Malam itu ketika kakinya diamputasi.

Masa itu ia hidup di pemerintahan Al-Walid bin Abdul Malik, khalifah Bani Umayyah.  Suatu saat khalifah mengundang Urwah r.a ke kediamannya. Anaknya yang kebetulan ikut memilih bermain di kandang kuda istana. Qadarullah, buah hatinya itu terkena tendangan kuda hingga meninggal dunia. Urwah yang mendengar kabar duka itu menerima dengan lapang dada.

Ketika dia memakamkan anaknya, tanpa disadari kakinya terkena sesuatu yang menggerogoti tubuh dari dalam. Seketika kakinya membusuk dan terus menjalar ke organ lainnya. Tabib istana kewalahan mengobati penyakit tersebut dan memutuskan untuk mengamputasi kaki Urwah. Sebelumnya mereka menyarankan agar ulama itu meminum khamar supaya tidak merasakan kesakitan.

Namun permintaan itu ditepis Urwah r.a. Ia meminta tabib memotong kakinya ketika salat. Begitu khusyuk salatnya sehingga beliau tidak merasakan apa-apa.Ternyata pengobatan itu belum selesai, darah yang mengalir dari tubuhnya harus dihentikan dengan minyak yang dididihkan. Sungguh menyakitkan.

Khalifah menghibur Urwah r.a atas musibah yang bertubi-tubi, kehilangan anak dan kaki diamputasi. Kepada beliau didatangkan seorang yang buta matanya dari bani ‘Abs. Orang buta itu bercerita, bahwa dahulu ia dalam keadaan normal dan memiliki banyak harta. Di tengah malam, tiba-tiba banjir besar datang yang menghanyutkan segalanya.

Begitu banjir berlalu, tidak ada yang tersisa kecuali seekor unta dan bayinya. Unta itu berlari  saat ia dekati, di saat yang sama ternyata bayinya telah dimangsa serigala. Hatinya begitu teriris melihat pemandangan itu. Lantas ia pun memutuskan untuk mengejar untanya kembali.

Namun, ketika jarak antara dirinya dengan unta tersebut sudah dekat, hewan itu tiba-tiba memberontak lalu menendang kepalanya hingga ia menjadi buta. Akhirnya lengkap sudah, ia kehilangan keluarga, harta, dan matanya dalam satu malam saja.

Urwah r.a pun menjadi semakin ikhlas setelah mendengar cerita tersebut. Seraya memuji Allah SWT, kepada orang-orang ia mengatakan. Allah mengambil satu anaknya dan masih ada enam anak yang ia miliki. Allah mengambil satu anggota badannya dan masih ada tiga yang tersisa.

Allah SWT yang mengambil namun Dia jua yang memberi. Allah yang mendatangkan ujian sebagaimana selama ini Dia yang memberi kesehatan. Seberat apapun ujian yang menimpa, yakinlah Allah akan bersama orang-orang yang sabar.