Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Ujub termasuk penyakit hati?

Filsafat 16 Feb 2021
Opini oleh Tholhah Nuhin
Ujub termasuk penyakit hati?
Ujub termasuk penyakit hati? © Gwmb2013 | Dreamstime.com

Setiap nikmat yang kita miliki, harusnya kita syukuri untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat dan berfaedah. Bukan sebaliknya, ujub dan merasa bangga terhadap nikmat fisik, ilmu, harta, keluarga, jabatan dan nikmat yang lain di hadapan manusia.

Tak satu pun yang kita miliki di dunia kecuali bahwa itu milik Allah Taala. Apapun yang dianugerahkan kepada kita berupa keindahan rupa yang dapat membuat orang lain terpesona, jangan sampai membuat kita ujub, geer dan bangga diri yang hanya akan melahirkan sifat angkuh dan sombong.

Nikmat kesempurnaan fisik yang Allah SWT berikan ini bahkan membuat banyak orang lupa daratan dan bermaksiat kepada Sang Pencipta. Ia tak menyadari bahwa suatu saat nanti tubuhnya akan renta dan rupanya menjadi buruk.

Apa itu ujub?

Secara etimologi, kata ‘ujub mempunyai arti  sebagai berikut.

Pertama: Kegembiraan atau kebahagiaan. Makna ini seperti yang terdapat dalam ungkapan ‘a’jabahul amru’ artinya adalah ‘sarrhu’ (hal yang menggembirakannya atau membahagiakannya).

Kedua: Pengagungan atau membesarkan. Makna ini ada dalam ungkapan ‘a’jabahul amru’ artinya adalah ‘adhuma indhahu atau kabura ladaihi’ (Sesuatu itu agung atau  besar di sisinya).

Adapun makna ujub dalam pendekatan terminologi adalah sebagai berikut.

Ujub adalah rasa bahagia dan gembira terhadap apa yang terjadi pada dirinya serta sesuatu yang muncul darinya, baik berupa perkataan atau pun perbuatan. Hal ini dilakukan tanpa melakukan tindakan dzalim terhadap orang lain, baik dalam perkataan atau perbuatan, dalam keadaan baik atau buruk, terpuji  atau tercela.

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam masalah ujub ini adalah sikap gembira yang berlebihan. Sikap ini akan berujung pada sikap merasa paling hebat sendiri, sehingga dia akan melahirkan penyakit baru yang bernama sombong.

Sebab, orang yang merasa dirinya hebat biasanya punya kecenderungan meremehkan orang lain.

Sebab-sebab ujub

Oleh karena itu, Rasululullah SAW memerintahkan kepada siapa saja yang memiliki penyakit ini agar melakukan uzlah yaitu pengasingan diri untuk berzikir dan bertafakur kepada Allah SWT. Sebab, penyakit ini akan menguburkan sikap tolong-menolong, bantu membantu, dan pola hidup berjamaah atau kolektif.

Setiap penyakit hati muncul pada diri seseorang, pastilah ada hal-hal yang menghantarkannya menuju penyakit itu. Sebagai contoh, lingkungan keluarga dan nasab (keturunan).

Hal ini bisa membuat seseorang merasa ujub. Sehingga terkadang kita temukan betapa seseorang begitu bangga dengan keturunannya, bersikap seakan jalur keturunannya itulah yang menyelamatkannya dalam kehidupan.

Adapun faktor-faktor lain yang menjadikan seseorang  ujub adalah sebagai berikut:

  • Sanjungan atau pujian yang berlebihan dari orang lain
  • Berinteraksi dengan orang-orang yang mempunyai sifat ujub
  • Terpesona dan tergiur dengan kenikmatan, tetapi melalaikan yang memberi nikmat
  • Lalai dan tidak tahu akan hakekat jiwa
  • Berlebihan dalam memberikan penghormatan
  • Lalai terhadap dampak yang dimunculkan oleh sifat ujub