Ukirlah kisah indah diri sendiri

Iman Roni Haldi Alimi 05-Okt-2020
dreamstime_s_137764265
Ukirlah kisah indah diri sendiri © Thanakorn Suppamethasawat | Dreams

‘Ukirlah kisah indah diri sendiri’ – intipati tajuk artikel kali ini terkait dengan cerita tangisan Imam Nawawi. Pada suatu hari, Yahya bin Syaraf an-Nawawi (631-676 Hijriah/1233-1277 Masehi) – yang kelak dikenal dengan Imam Nawawi – sedang menyampaikan kajian di hadapan para jamaah. Saat membaca surat al-Hijr, ayat 49-50, tiba-tiba sang penyusun Riyadhush-Shalihin itu menangis.

Tangisannya semakin menjadi hingga para jamaah pun dibuat keheranan. Setelah tangisan reda, salah satu jamaah memberanikan diri bertanya,“Wahai Imam, apa yang menjadi penyebab tangisanmu?” Imam Nawawi menjawab, “Tidakkah kalian perhatikan dengan seksama, betapa agung, besar dan luasnya pengampunan dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala?”

Allah SWT Maha Pengampun

Firman Allah ta’ala:

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.”

(Surah al-Hijr, 15 : 49-50)

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan sebab turunnya ayat tersebut. Diriwayatkan Musa bin ‘Ubaidah dari Mush’ab bin Tsabit bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati sejumlah orang dari para shahabat yang sedang tertawa.

Maka, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ingatlah Surga, dan ingatlah Neraka!” Lalu turunlah ayat tersebut. Demikian Ibnu Abi Hatim meriwayatkan hadis ini, dengan derajat hadis adalah mursal.

Perhatikanlah ketika Allah ta’ala menisbatkan pengampunan dan rahmat-Nya kepada Dzat-Nya sendiri sesuai firman-Nya bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Ini menunjukkan bahwa memberi pengampunan dan memberi rahmat merupakan sesuatu yang Dzati, yang menyatu dengan Dzat Allah ta’ala.

Seakan Allah SWT hendak menjelaskan bahwa Dzat yang memberi pengampunan dan rahmat dalam arti yang sebenarnya adalah Allah subhanahu wa ta’ala semata. Inilah pengokoh nilai akidah dan peniada kebergantungan manusia kepada makhluk.

Ampunan dan rahmat milik Allah SWT semata

Sementara itu, saat menjelaskan tentang azab-Nya, Allah ta’ala menjadikan bahwa azab itu sebagai mamluk, yakni sesuatu yang dimiliki oleh Allah dan tidak menyatu dengan Dzat-Nya. Sebab, ayatnya menyatakan (dan bahwasanya azab-Ku), dan Allah tidak berfirman: Sesungguhnya saya yang mengazab.

Yakinkan diri kita bahwa ampunan dan rahmat adalah milik Allah ta’ala semata. Tangisan Imam Nawawi jadikanlah teladan nan terpuji. Jangan pernah jadikan Firaun sebagai contoh diri. Sebab, Firaun merasa diri memiliki kuasa dan posisi – ditambah lagi ditakuti – yang kemudian berlaku zalim terhadap sesama makhluk Allah.

Ukirlah kisah indah diri kita sendiri. Agar bahagia di tempat yang hakiki. Kiranya penting untuk merenungi kata-kata yang pernah disampaikan K.H. Wahid Hasyim berikut:

“Tak ada satu pun di dunia ini yang kekal. Maka, ukirlah cerita indah sebagai kenangan. Karena dunia memang sebuah cerita.”