Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Umar r.a – tekad membunuh yang akhirnya tersentuh

Sejarah 23 Nov 2020
Tombstone_of_Umar_(r.a)_by_mohammad_adil_rais
Makam Umar r.a di sebelah makam Rasulullah SAW dalam Masjid Nabawi © By Mohammad Adil CC BY-SA 3.0, Link

Suatu ketika orang-orang Quraisy berkumpul dan bermufakat untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Umar bin Khathab r.a yang hadir dalam pertemuaan tersebut menawarkan diri untuk melakukan misi ini.

Keresahan hati melihat perpecahan di tengah kaum membuat tekadnya terbendung.

Umar r.a mencari Rasulullah SAW

Umar r.a pun keluar di tengah mentari sedang terik-teriknya sembari menghunuskan pedang. Tujuannya ingin membunuh Rasulullah SAW beserta para sahabat setia seperti Abu Bakar r.a, Ali r.a, Hamzah r.a dan mereka yang tidak pergi berhijrah ke Habsyah.

Dia begitu percaya diri dan yakin akan melenyapkan para penolong agama Allah SWT itu sendirian. Sungguh keberanian yang tak terbantahkan.

Di tengah perjalanan menuju rumah Darul Arkam, Umar r.a bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah Annahham. Melihat gelagat yang tidak baik, Nu’aim pun bertanya, “Mau kemanakah engkau Umar?”

Umar menjawab, “Aku ingin mencari orang yang berpindah agama ini. Yang telah memecah belah bangsa Quraisy, mencela impian dan tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya.”

Mereka berdua terus berdialog hingga saling menaikkan suara. Demi melindungi Rasulullah SAW, Nu’aim mengatakan bahwa adik Umar, Fatimah telah masuk Islam. Suatu rahasia yang membuat Umar semakin meradang. Segera ia ke rumah adiknya untuk membuktikan perkataan tersebut.

Aroma kemarahan tercium oleh Fatimah ketika Umar bin Khathab sampai di rumahnya. Seketika ia membanting Said bin Zaid, suami Fatimah hingga tergelegak di tanah. Tak cukup sampai di situ, Umar menginjak dan  menduduki dada Zaid.

Menunjukkan hati yang telah tersentuh

Fatimah berusaha mendorong tubuh jawaranya kota Mekah itu. Namun, serta merta Umar memukul wajahnya hingga berdarah.

Nyali Fatimah bangkit seraya berkata, “Wahai musuh Allah! Apakah engkau memukulku karena mentauhidkan Allah?”

Dengan datar, Umar menjawab, “Iya.”

“Kalau begitu, lakukan apa yang kamu mau. Aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan Muhammad utusan Allah.”

Umar terdiam. Melihat wajah adik yang bersimbah darah melembutkan hatinya. Hati itu semakin tersentuh ketika ia membaca lembaran yang berisi potongan ayat dalam surah Thaha. Ayat demi ayat terasa agung olehnya hingga sampailah ia membaca ayat 14.

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada ilah selain Aku, maka sembahlah aku dan dirikanlah salat untuk mengingatKu.”

Umar merenung kemudian yakin akan keesaan Allah SWT. Tak lama berselang beliau bersegera menemui Rasulullah SAW. Bukan untuk membunuh tetapi ingin menunjukkan hatinya telah tersentuh.