Ummu Aiman r.a, ibu asuh manusia teladan

Kepercayaan Sanak 04-Sep-2020
dreamstime_s_56833799
Ibu dan anak © Hongqi Zhang (aka Michael Zhang) | Dreamstime.com

Setelah diasuh Ibunda Halimah r.a selama empat tahun, Muhammad SAW kecil kembali kepada Aminah r.a, wanita yang melahirkannya. Namun kegembiraan bersama ibu kandung tak bertahan lama, dua tahun kemudian sang ibu berpulang ke rahmatullah. Keyatiman Rasulullah, sempurna.

Dalam situasi yang menyakitkan ini, tampillah sosok Ummu Aiman r.a yang menjadi pengasuh Nabi Muhammad SAW di bawah tanggungan kakek Abdul Muthallib r.a. Perempuan itu menjaga, mengurus, dan menggantikan kasih sayang orang tua yang telah hilang.

Namanya adalah Barakah binti Tsa’labah Al-Habasyiyah, seorang budak peninggalan Abdullah r.a, ayah Rasulullah SAW. Beliau dimerdekakan tatkala Nabi Muhammad memperistri Khadijah binti Khuwalid r.a, kemudian ia menikah dengan Ubaidullah bin Haris Al-Khazraji r.a. Dari pernikahan ini beliau melahirkan Aiman r.a, yang syahid pada perang Hunai.

Ummu Aiman r.a senantiasa berkhidmat kepada Muhammad SAW dari kecil hingga dewasa. Rasa cinta dan kelemahlembutannya betul-betul berbekas di hati Nabi Muhammad SAW sehingga beliau sering mengunjunginya dan memanggilnya dengan kata, “Wahai Ibu, ….”, seperti dikatakan dalam sebuah hadis yang berbunyi: “Beliau (Ummu Aiman) termasuk ahli baitku.” Baginda juga bersabda, “Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku.” (Hadis Riwayat Muslim)

Setelah suami pertamanya meninggal, Rasulullah SAW menikahkan Ummu Aiman r.a dengan Zaid bin Haritsah r.a. Lengkap sudah, ibu asuh dan anak angkat Baginda berkumpul menjadi satu keluarga. Maka wajar anak mereka berdua, Usamah bin Zaid r.a sangat dicintai Baginda.

Ummu Aiman r.a memiliki sifat-sifat yang terpuji, rajin puasa dan termasuk wanita yang berhijrah angkatan pertama. Ketika dalam perjalanan ke Madinah ia sangat kehausan, tiba-tiba ada ember di atasnya yang menjulur dari langit dengan tali berwarna putih. Lalu, Ummu Aiman meminum air yang di dalamnya hingga kenyang. Ummu Aiman berkata, “Saya tidak pernah lagi merasakan haus sesudah itu.”

Selain itu, beliau juga berjihad di jalan Allah SWT. Dalam perang Uhud, ia memberikan minum bagi pasukan Muslim dan mengobati yang terluka. Ia juga menyertai perang Khaibar dan Hunain bersama Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar r.a dan Umar r.a merutinkan mendatangi Ummu Aiman r.a sebagaimana Rasul selalu mengunjunginya. Ummu Aiman wafat pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan r.a, tepatnya dua puluh hari setelah terbunuhnya Umar.

Semoga Allah SWT merahmati Ummu Aiman r.a, pengasuh manusia teladan dan pemimpin anak Adam.