Usaha meraih bahagia menurut Al-Farabi

Pernikahan Roni Haldi Alimi
Opini oleh Roni Haldi Alimi
Usaha meraih bahagia menurut Al-Farabi
Usaha meraih bahagia menurut Al-Farabi © Odua | Dreamstime.com

Kebahagiaan adalah dambaan semua manusia. Ia dicari diusahakan. Bahkan kebahagiaan juga kerap dijadikan alasan banyak orang tatkala melakukan sesuatu.

Sederhananya, semua bisa dilakukannya demi meraih kebahagiaan.

Usaha meraih bahagia menurut al-Farabi

Konsep bahagia bukanlah barang baru. Pembahasannya telah lama dikaji diteliti oleh tokoh ahli dibidangnya, salah satunya adalah al-Farabi. Dalam karangannya yang berjudul ‘al-Tanbih al-Sa’adah’, beliau mendefinisikan kebahagiaan sebagai kebaikan yang diinginkan oleh kebaikan itu sendiri.

Pemahamannya adalah ketika seseorang melakukan kebaikan maka tindakan itu didasari oleh keinginannya sendiri dan ia suka melakukan kebiasaan itu tanpa paksaan ataupun tekanan. Tak ada motif lain disebalik itu.

Alasan seseorang itu melakukan kebaikan karena semata-mata ia mencintai kebiakan. Dan ketika ia melakukan suatu kebaikan, maka lahirlah kebahagiaan dalam dirinya.

Sebaliknya, ketika kebaikan tak jadi dilakukannya, maka kesusahan dan penyesalan yang ia rasakan. Al-Farabi sepertinya hendak mengatakan kepada kita yang mencari kebahagiaan, bahwa kebahagiaan itu adalah kondisi kejiwaaan dalam diri seseorang.

Kondisi di mana jiwa dan dirinya telah sampai pada derajat kesempurnaan iman, jauh dari ketergantungan pada materi keduniaan. Dan awal dari kebahagiaan itu adalah melakukan kebaikan yang bermuara pada hasil berupa kebaikan pula.

Usaha untuk wujudkan kebahagiaan

Dalam kehidupan berumah tangga, bahagia itu merupakan bagian dari tujuan hidupnya. Lalu, apa usaha yang hendaknya dilakukan oleh sepasang suami istri agar bahagia dimiliki mereka? Al-Farabi dalam karyanya Tahsil al-Sa’adah menyebutkan ada usaha hendaknya dilakukan bersama jika ingin meraih memiliki kebahagiaan.

Usaha itu adalah memiliki niat yang kuat membaja agar kuat menghadapi pancaroba hati. Niat yang baik tentu akan menuntun membimbing pelakunya agar selalu terjaga pada koridornya tak keluar dari garis tujuannya.

Menikah adalah bagian dari ibadah yang dimuliakan Allah Ta’ala. Buktinya menikah disebut terang dalam firman-Nya sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Dalam surat Ar-Rum, ayat 21:

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenang dan tentram kepadanya. Dan dijadikan diantara kami rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Dalam tafsirnya, Imam al-Qurthuby mengatakan:

“Rasa sakinah dan ketentraman akan dimiliki oleh sepasang suami istri dalam rumah tangganya terlahir dari adanya mawaddah wa rahmah (cinta kasih dan sayang). Beliau menambahkan: Mawaddah adalah rasa cinta kasih seorang suami kepada istrinya, sedangkan rahmah adalah kasih sayang seorang suami yang hanya diperuntukkan kepada istrinya dalam bagaimana pun kondisinya.”

Sepasang suami istri mesti meniatkan dalam hati dan mentekadkan dalam diri masing-masing bahwa menikah adalah bagian dari upaya menjemput bahagia pemberian dari Allah ‘Azza wa jalla.

Sebelum melangkah untuk menikah, perbaiki niat terlebih dahulu agar dimudahkan meniti jalan menuju bahagia yang dijanjikan Allah SWT.