Uwais al-Qarni dengan ibunya dan Rasulullah SAW

Jiwa Kkartika Sustry 16-Sep-2020
dreamstime_s_179550106
Kontribusi nilai karakter Uwais al-Qarni © Paulus Rusyanto | Dreamstime.com

Lembaga pendidikan yang tersebar saat ini sudah menggaungkan program pembentukan karakter anak agar melahirkan anak-anak yang berakhlak. Namun, masih saja belum berhasil secara menyeluruh, ada tragedi anak yang menuntut hak warisan dari orang tua, ada anak yang masih belum berbakti.

Perilaku seperti ini bukanlah yang patut dibanggakan oleh seorang anak. Sekalipun kita menang dari gugatan dengan orang tua tetaplah kita kalah dari ridanya. Maka sebagai umat Islam, kita patut melihat bagaimana nilai karakter seorang anak yang disampaikan dari kisah Uwais al-Qarni r.a.

Berikut nilai-nilai karakter yang mesti kita teladani dari Uwais al-Qarni r.a:

Cinta Rasul

Uwais al-Qarni r.a merupakan lelaki yang disebut Rasulullah SAW tetapi Uwais tidak sempat bertemu Rasulullah. Bukti cinta Uwais kepada Baginda, ketika ia mendengar berita dakwah Rasulullah, Uwais segera ingin bertemu dengan Baginda. Perjalanan Uwais untuk menemui Rasulullah ternyata tidak mendapatkan hasil, dikarenakan Baginda sedang di medan perang.

Namun ia tetap menitipkan salam melalui Sayyidah Aisyah r.a istri Baginda. Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Muslim r.a dari Umar bin Khattab r.a: “Aku mendengar Rasulullah bersabda (sebaik-baik tabi’in adalah seorang yang disebut dengan Uwais dan memiliki seorang ibu).”

Berbakti pada orang tua

Diriwayatkan dalam kisahnya melalui Al-Hakim dalam Al-Mustadroknya, Abu Ya’la dan Ibnu Mubarok, Uwais al-Qarni r.a pemuda dari Yaman, yatim. Dia seorang fakir di dunia tetapi namanya terkenal di langit. Uwais al-Qarni sangat menginspirasi banyak orang bisa dilihat dari cara bagaimana ia menjadi anak yang berbakti kepada ibunya. Uwais lelaki Yaman yang patuh merawat ibunya sedang lumpuh.

Suatu ketika ibunya meminta untuk berangkat haji, Uwais r.a berusaha untuk memenuhi hajat ibunya sampai ia disebut orang gila karena berusaha mengendong seekor anak lembu naik turun bukit. Orang-orang di sekeliling tidak paham apa tujuan ia melakukan hal tersebut. Ternyata Uwais sedang melatih diri agar ototnya kuat untuk menggendong ibunya sampai ke tanah Mekkah supaya menunaikan keinginan ibu untuk berhaji. Ini merupakan bukti ketaatan Uwais yang fakir kepada ibunya.

Tawaduk

Uwais r.a memang tidak banyak dikenali orang, bukan suatu alasan. Ini memang kehendaknya, ketika suatu ketika Rasulullah SAW berpesan kepada Umar dan Ali dalam hadisnya: “Carilah ia (Uwais al-Qarni), dan mintalah kepadanya agar memohonkan ampun untuk kalian.” (Hadis riwayat Muslim)

Ketika Rasulullah SAW telah wafat, Umar r.a dan Ali r.a mencari Uwais r.a, dengan ciri-ciri yang disampaikan Baginda bahwa ia memilik bekas penyakit kulit di lutut berwarna putih. Maka bertemulah Umar dan Ali dengan Uwais kemudian memintanya untuk memohonkan ampunan bagi keduanya. Kemudian Uwais mendoakan kedua sahabat tersebut, Umar r.a akhirnya berfikir untuk memberikan bantuan kepada Uwais yang ingin ke Kuffah, tetapi Uwais dengan sifat tawaduk enggan menerima bahkan ia tidak ingin dikenali banyak orang.

Hingga akhir wafatnya, tidak banyak diketahui orang tetapi ada ribuan malaikat yang Allah SWT kirim untuk berebut memandikannya, mengkafani hingga ke alam kuburnya. Salah seorang penduduk heran, karena Uwais r.a hanya dikenal sebagai orang fakir biasa saja tetapi banyak yang mengurus jenazahnya yang tidak mereka temui sebelumnya.  Terjawablah keheranan tersebut, orang-orang tersebut adalah jelmaan malaikat yang mendoakan Uwais.

Mendahulukan kepentingan orang lain

Sifat yang mesti kita teladani dari Uwais al-Qarni r.a adalah selalu mementingkan urusan orang lain. Kisah yang paling populer tentang kecintaanya kepada sang ibu. Sesampai di Mekkah ia menggendong ibu dengan kesulitan bahkan yang dilakukannya di Mekkah adalah mendoakan ibunya.

Ibunya heran dan menangis, “Kenapa engkau tidak berdoa meminta ampun atas dosamu?” Uwais r.a menjawab, “Dengan Allah SWT mengampuni dosa ibu, maka rida ibu yang akan membawaku ke Surga.” Inilah bentuk sikap Uwais yang mementingkan urusan orang lain daripada dirinya sendiri.

Bersungguh-sungguh

Satu hal yang sudah diketahui, bahwa Uwais al-Qarni r.a adalah orang yang bersunguh-sungguh dalam menjalankan sesuatu. Keinginan untuk memenuhi hajat ibunya berhaji ia lakukan dengan sungguh-sungguh. Uwais sadar ia bukan dari kalangan kaya raya yang memiliki unta maka hal yang dilakukan dengan melatih diri menjadi kuat untuk ibunya.

Pembaca yang dirahmati Allah SWT, inilah contoh anak yang berbakti pada orang tua ketika semasa hidupnya Allah tolong ia dan disembuhkan dari penyakitnya. Bahkan Rasulullah SAW pun menyebut namanya kepada para sahabat.