Virus COVID-19 adakah obatnya?

Jalan Letnan Jenderal S. Parman, Jakarta Barat © Hanciong | Dreamstime.com

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW), Baginda bersabda: “Allah tidak akan menurunkan penyakit melainkan menurunkan obatnya juga.” (Hadis riwayat Bukhari)

Hadis di atas mengandung perintah untuk berobat. Berobat tidaklah bertentangan dengan tawakkal. Sebagaimana halnya ketika kita menolak rasa lapar, rasa dahaga, rasa panas, dan rasa dingin dengan hal-hal yang menjadi kebalikannya. Bahkan, hakikat tauhid itu hanya sempurna dengan melakukan sebab musabab yang memang telah Allah SWT jadikan sebagai hukum sebab akibat, baik dalam ajaran syariat-Nya maupun menurut takdir-Nya, demikian  Ibnu Qayyim menjelaskan.

Menurut Ibnu Qayyim, ungkapan Nabi ‘Sstiap penyakit pasti ada obatnya’ memberikan dorongan kepada orang yang sakit dan juga dokter yang mengobatinya, selain juga mengandung anjuran untuk mencari obat dan menyelidikinya. Sebab, kalau orang sakit sudah merasakan keyakinan bahwa ada obat yang akan dapat menghilangkan sakitnya, ia akan bersemangat untuk berikhtiar dan bisa menghindarkannya dari keputus asaan.

Terkait penyakit fisik, Al Quran mengajarkan tidak semua yang diinginkan harus dimakan, tetapi konsumsilah yang menyehatkan tubuh dan cari dengan cara yang benar. Sedangkan penyakit akal bisa disembuhkan dengan membaca dan mencari ilmu pengetahuan, itulah nutrisinya. Sedangkan ruh tidak banyak dipelajari. Ketika zaman Nabi, ada yang bertanya kepada Rasul. “Ya Muhammad apa itu ruh, bagaimana sifatnya apa nutrisinya? Maka turunlah Surah Al-Isra’ ayat 17: “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.

Menurut ustaz Adi Hidayat dai kondang pendiri Akhyar TV saluran dakwah Islam,  yang menjadi konsumsi ruh adalah ibadah dan hal hal yang berhubungan dengan spiritual. Seseorang jika fisiknya sakit tetapi ruhnya sehat, itu boleh jadi daya tahan tubuhnya tetap kuat. Dalam arti dia masih bisa menjalani kehidupan dengan baik. Akan tetapi jika ruhnya sakit meskipun fisiknya terlihat sehat sesungguhnya dia dalam keadaan lemah dalam menjalani kehidupan. Maka itulah mengapa  kita diperintahkan salat, mengaji, shalat tahajjud, baca Al Quran dan memperbanyak zikir kepada Allah SWT serta bersyukur.

“Menyangkut virus Corona ini, ustaz Adi Hidayat membagi menjadi dua bagian. Pertama, secara fisik apa yang disampaikan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan agar diikuti, bagaimana berperilaku hidup sehat, menjaga kebersihan dan mencari makanan yang dibutuhkan untuk imun tubuh. Ini ikhtiar. Kedua, ada bagian yang sangat penting menyangkut ruh. Karena jika ruhnya lemah akan berpengaruh terhadap kondisi fisik dan akan terlihat dalam kesehariannya tidak lagi bergairah.

Adapun ketika kita tidak dalam keadaan sakit, maka kata Nabi Muhammad SAW jangan datang ke tempat keramaian atau majelis. Dan juga bagi yang tidak sakit jangan berkunjung ke daerah yang terkena penyakit. “Yang sedang sakit flu, batuk-batuk dan sebagainya  tinggal di rumah saja. Tetapi keyakinan perlu dibangun bahwa ajal itu tidak terkait dengan penyakit, tapi ajal terkait dengan maut,” Demikian ustaz Adi Hidayat menerangkan.

Seseorang yang ditimpa penyakit belum tentu meninggal, karena banyak orang sehat juga mati seketika. Al Quran mengabarkan bahwa setiap umat ada batas waktu hidupnya. Apabila terkena penyakit atau divonis menjadi bagian dari penyakit itu misalnya terkena Corona dan penyakit lainnya silakan membaca ayat ini penuh keikhlasan dan permohonan kuat kepada Allah SWT.

Ustaz Adi Hidayat mengajarkan tiga surah sekaligus yang insya Allah, jika dibacakan dengan benar di situ ada janji Allah SWT sebagaimana janji Allah kepada Nabi Ayyub a.s bahwa penyakit apapun selain kematian, Allah akan berkenan menyembuhkannya. Berikut ayatnya:

1. Al-Quran, surah Al-Isra’ ayat 82. “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Quran itu) hanya akan menambah kerugian.”

2. Al-Quran, surah Al-Anbiya ayat 83-84. “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.”

Apabila ingin berdoa bisa membaca kalimat di bawah ini:’Allahumma Annii Massaniyadh-dhurru wa Anta Arhamur Roohimiin’ Artinya: Ya Allah Tuhanku, sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.

3. Ditutup dengan surah Al-Fatihah, ayat 1-7.

Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan bahwa ini sebagai obat (as-Syifa). Sebagaimana dikisahkan seorang kepala suku tersengat kalajengking dan medis mengatakan tidak mungkin sembuh. Akhirnya dibacakan surah Al-Fatihah dan Allah SWT memberikan kesembuhan.

Demikian beberapa ikhtiar yang bisa kita jalankan agar Allah SWT berkenan menjauhkan kita dari penyakit corona dan penyakit lainnya. Atas izin Allah semua ini sangat mungkin jika Allah sudah berkehendak.