Walladah binti al-Mustakfi – penyair muslimah Umayyah

Eropa 08 Feb 2021 Muhammad Walidin
Muhammad Walidin
Walladah binti al-Mustakfi - penyair muslimah Umayyah di Barat
Walladah binti al-Mustakfi - penyair muslimah Umayyah di Barat © CC BY-SA

Ada sorang wanita cantik bermata biru di Cordoba. kulitnya putih bak pualam. Rambutnya dibiarkan tergerai bila berjalan. Ia berbeda dengan wanita lain pada umumnya yang menutup rambutnya dengan kerudung.

Langkahnya tidak bisa dihentikan oleh siapa saja, sebab ia istimewa. Ia adalah seorang penyair terkenal yang menjadi role model bagi perempuan merdeka. Ia juga adalah putri semata wayang Muhammad III yang bergelar al-Mustakfi, Penguasa dinasti Umayyah di Spanyol. Wanita ini bernama Walladah binti al-Mustakfi (1001-1091).

Biografi Walladah binti al-Mustakfi

Walladah yang juga terkenal sebagai Princess Wallada, lahir di Cordoba tahun 1001 Masehi. ia merupakan putri penguasa Umayyah di Cordoba Spanyol: Muhammad bin Abdurrahman bin Ubaidillah (Muhammad III) dari tahun 1024-1025.

Masa pemerintahan ayahnya memang tidaklah lama karena permasalahan politik. Ayahnya sebelumnya menggantikan Abdurrahman V yang memerintah juga setahun (1023-1024) .

Kemudian ia digantikan oleh Hisyam III (1027-1031). Ayahnya wafat pada usia 50 tahun karena diracun.  Walladah sendiri berumur cukup panjang, yakni 92 tahun. Ia meninggal pada 26 Maret 1091.

Walladah dan kisah cinta tak sampai

Di dalam kehidupan percintaan Walladah, banyak pria yang menaruh hati kepadanya tersebab kecantikan secara fisik, kemandirian, dan pengetahuannya. Namun, ada dua pria yang sanggup mencuri perhatiannya.

Mereka adalah Ibnu Zaydun (1003-1071) seorang penyair terkenal Cordoba dan Sevilla, dan ibnu Abdus seorang menteri kaya dari dinasti Umayyah. Namun, ia tidak menikah dengan keduanya. Ia tetap melajang hingga akhir hayatnya.

Hubungan Walladah dengan Ibnu Zaydun sebenarnya rumit. Hubungannya ini dapat diketahui dari syair-syair yang dilayangkan untuk Ibnu  Zaydun. Dapat dikatakan bahwa Ibnu Zaydun adalah pria di balik untaian puisi Walladah. Jadilah kedua penyair ini saling melempar puisi untuk menunjukkan ketertarikan masing-masing.

Ada banyak sumber yang mengatakan bahwa cinta Walladah terhalang aliran politik Ibnu Zaydun yang anti-Umayyah sehingga Walladah tidak mau melanjutkan kisah cintanya.

Percintaan Walladah dengan Ibnu Zaydun

Ada juga cerita bahwa Ibnu Abdus, mantan teman Ibnu Zaydun memasang intrik untuk memutus hubungan mereka dengan menghasut Abu al-Hazm ibnu Jahwar (pemimpin politik Ibnu Zaydun) sehingga ia dipenjarakan.

Ada sumber mengatakan bahwa Ibnu Zaydun berselingkuh dengan budak perempuan berkulit hitam, tergambar dalam puisi Walladah berjudul ‘Kegelapan’. Hubungan yang rumit antara Walladah dengan Ibnu Zaydun dimanfaatkan oleh Ibnu Abdus untuk menarik hati Walladah. Ia mendukung Walladah dan menguntungkan Walladah.

Betapapun rumit cinta segi tiga para tokoh ini, masyarakat Spanyol lebih mendukung percintaan Walladah dengan Ibnu Zaydun. Hal ini digambarkan dengan sebuah monumen dua tangan berjabat hangat bernama ‘The Lovers’ di Plaza Campo Santo de Los Martires, tepat di jantung kota Cordoba.

Monumen ini mengingatkan para pencinta, bahwa walau kadang cinta tak harus bersatu, namun kasih tak harus beralih.

Walladah dan aktivitas kesusastraan

Walau tak sukses menjalin cinta, tapi Walladah sukses dalam dunia kepenyairannya. Karyanya tersimpan dalam buku al-Ima wa al-Sawair dan Ensiklopedia al-Aghani (20 jilid) yang ditulis oleh Abu al-Faraj al-Isyfahani.

Kitab ini menjadi patron untuk ribuan syair dari masa Arab Jahily hingga abad ke sembilan belas. Kesuksesan Walladah tak ingin dinikmati sendiri. Ia mendirikan sekolah sastra di Istana Cordoba. Muridnya ia cari sendiri.

Sekolahnya sering didatangi oleh penyair besar dan cendikiawan untuk sekedar bertukar ilmu. Berkat bimbingannya, seorang budak bernama Muhya Binti al-Tayyani menjadi penulis besar wanita di Andalusia.

Walladah….kisahmu mengharu biru!