Wisata belanja kain Jumputan di Palembang

Jumputan-Palembang
Wisata belanja kain Jumputan di Palembang © travel.detik.com

Di Palembang, ada sebuah kampung di tepi sungai Ogan yang bernama Tuan Kentang. Janganlah mencari kentang di sini, sebab anda hanya akan menemukan warna-warni kain Jumputan yang elok untuk dipandang dan disandang.

Jumputan adalah salah satu kekayaan tekstil masyarakat Palembang selain Songket yang adiluhung. Bila songket terkesan formal, maka jumputan bisa lebih santai saat dipakai.

Jumputan adalah jenis tekstil yang didapatkan dari proses ikat dan celup (tie dye). Kain-kain (biasanya sutra) diikat dengan benang lalu dikerutkan/rekatkan pada bagian yang diinginkan, lalu celupkan pada pewarna alam atau sintetis.

Mengambil dengan ujung jari tangan

Hasilnya, jadilah kain yang sangat indah dan elegan. Sebagai bagian dari kain batik,  kain Jumputan juga diproses secara manual. Bila pada kain batik digunakan canting dan malam untuk menutup warna, pada kain jumputan digunakan tali/benang untuk tujuan tersebut.

Jumputan berasal dari kata Jumput dalam bahasa Jawa, artinya adalah ‘Mengambil dengan ujung jari tangan’. Karena berasal dari Jawa, berarti tradisi membuat kain jumputan juga populer di pulau Jawa dengan nama Batik Jumputan. Daerah lain yang juga mengenal tradisi batik jumputan ini, seperti Kalimantan Selatan, Bali, dan tentu saja Palembang.

Wilayah Tuan Kentang tak jauh dari jembatan Ampera, kota Palembang. Anda hanya perlu mengarahkan kendaraan anda ke Stasiun Kertapati. Sebelum jembatan Ogan, belokkan kendaraan anda ke kiri, dan anda sudah masuk ke wilayah Tuan Kentang. Datanglah ke sini pada jam 08.00-14.00 sore. Biasanya semua toko akan buka.

Tak hanya itu, anda juga akan menemui jemuran kain Jumputan yang berwarna warni di halaman rumah penduduk. Di galeri sepanjang jalan, Kain-kain ini ditawarkan dengan beragam harga yang terjangkau.  Banyak juga kain yang sudah dijahit sehingga menjadi blus, jilbab, kemeja lelaki, slayer, dll.

Tuan Kentang dan rumah kembar

Kami sempatkan melihat sebuah galeri kain Jumputan di sisi sungai Ogan. Seorang tukang parkir yang ramah malah menjadi guide kami untuk menuju icon wilayah ini, di tepi sungai. Sebuah darmaga dengan tulisan TUAN KENTANG menjadi latar belakang yang bagus untuk berfoto. Tulisan ini bisa dilihat dari jembatan Ogan untuk pengendara transportasi darat, dan tentu akan lebih jelas bagi pengendara transportasi air.

Spot wisata ini juga memiliki ikon lain, yaitu sepasang rumah kembar yang dibangun sejak tahun 1918 oleh H.M. Mahmud bin Tedjo, seorang saudagar ternama saat itu. Rumah kembar ini berasitektur identik dengan gaya Eropa dan tradisional Palembang.

Secara historis, rumah ini juga turut menjadi saksi perjuangan Indonesia melawan Jepang, karena dijadikan tempat persembunyian bagi para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Saat ini rumah kembar ini dihuni oleh keturunan H.M Mahmud bin Tedjo yang tetap menjadi rumah ini kokoh dan bernilai sejarah.

Di rumah kembar, selain anda bisa mengamati keindahan eksterior dan interior bangunan, anda juga bisa menyewa pakain pengantin adat Palembang yang anggun. Saya dan istri juga mencoba menyewa sepasang baju pengantin. Harganya sangat murah, yaitu Rp.15.000/pakaian lengkap. Setelah kami didandani oleh pemilik rumah, giliran berikutnya kami berpose di spot-spot terbaik yang bisa bisa didapatkan.

Sebuah lagu asli Palembang ‘Melati Karangan’ mengalun menyusup relung  hati. Dengan pakaian pengantin nuansa merah, kami berdiri di tepian sungai Ogan. Oh tuhan, kami serasa penganti baru lagi di usia perkawinan yang ke 15 tahun.