Yakinlah, impian akan menjadi kenyataan!

Lingkungan Hidup Sanak
Opini oleh Sanak
Yakinlah, impian akan menjadi kenyataan!
Yakinlah, impian akan menjadi kenyataan! (foto: Matahari terbenam di puncak Gunung Marapi) © Zikry Syah | Dreamstime.com

Saya lahir di Kota Wisata nan indah. Tempat itu seperti dibentengi bukit barisan dengan dua gerbang, Gunung Marapi dan Singgalang. Hamparan sawah berjenjang-jenjang dengan degradasi warna hijau kuning yang sepadan. Di pusat kotanya berdiri gagah menara yang terkenal seantero dunia dengan nama Jam Gadang.

Penduduknya taat beragama. Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Semboyan ini menegaskan islamisasi budaya dalam kehidupan masyarakat.

Sebuah mimpi

“Duaarr…”

Suara yang begitu menggelegar, menggemeretakkan kaca, menggetarkan bumi. Seisi kelas berlari keluar. Wajah siswa sekolah dasar pucat pasi melihat nun jauh di sana. Gunung Marapi.

Mereka sudah biasa melihat kepulan awan putih yang keluar dari kepundannya. Namun sekarang berbeda. Asap itu mengepul sangat pekat. Membumbung tinggi ke angkasa, menyapu apapun yang berada di sekitarnya. Mengerikan.

Peristiwa tersebut terjadi  ketika saya masih berada di kelas dua SD.  Takut dan takjub menghinggapi perasaan di kala itu. Takut terkena amukannya, takjub menyaksikan keindahannya.

Berbeda dengan Gunung Singgalang, cadas Merapi memiliki daya tarik tersendiri. Bagian ini tidak bervegetasi sehingga mengkilat di waktu siang dan memantul ketika malam. Pesonanya tak kalah dengan puncak gunung bersalju di pegunungan Eropa. Sungguh saya begitu teropsesi menginjakkan kaki di sana.

Tapi apakah seorang anak manja, anak ke sembilan dari sembilan orang bersaudara bisa melakukannya. Hanya waktu yang bisa menjawab sebuah impian menjadi kenyataan.

Impian yang menjadi nyata

Tanggal 3 Juli 2019, saya berada di Puncak Merpati. Titik tertinggi di Gunung Marapi, Sumatera Barat. Haru. Seorang sahabat menyalami saya kemudian kami berpelukan. Tak terbayang rasanya, menginjakkan kaki di sini ketika usia akan genap empat puluh tahun. Air mata serasa akan tumpah. Saya berusaha keras menahan karena terlalu banyak orang.

Pandangan mata bisa melihat sempurna tiga ratus enam puluh derajat. Kawah yang sedikit berasap, gunung Singgalang yang menantang, deretan kota dan desa yang terlihat kecil di bawah sana, serta danau Singkarak yang tampak indah dengan awan tipis di atasnya.

Saat yang ditunggu pun tiba. Sunrise. Meskipun tak tepat di cakrawala, mentari pagi menyapa. Panasnya menghangatkan raga, sinarnya menerangi jiwa. Kesendirian di tengah keramaian, mengingatkan saya pada awal perjalanan ini.

Keinginan dan doa

Gurauan. Hanya sebuah guruan. Ketika itu, saya menemani salah seorang sahabat menonton sebuah filem dokumenter di sebuah situs penyedia video terbesar di dunia maya.

Video tersebut menceritakan sosok tokoh utama bersama teman-temannya dalam perjalanan mendaki gunung. Mereka seperti membongkar alam kemudian menikmati setapak demi setapak keindahannya. Meskipun proses pendakian melalui jalanan penuh rintangan tetapi sangat mengesankan.

Puncaknya ketika sampai di titik tertinggi. Subhanallah, pemandangan yang menggetarkan. Negeri di atas awan. Sungguh tidak adil jika keindahan ini hanya milik kelompok pecinta alam atau komunitas pemerhati lingkungan.

Reflek lidah saya mengatakan ingin sekali ke sana. Bagai gayung bersambut, ucapan saya direspon kawan-kawan dengan antusias. Walau sempat mengalami kendala yang berarti, saya akhirnya bisa mewujudkan mimpi.

Saya menyadari, semustahilnya mimpi, ia akan menepi. keinginan akan menjadi kenyataan ketika hanya berharap kepada Allah Taala. Yakinlah, Allah mengetahui semua keinginan hamba-Nya, meski hanya terbetik di dalam hati. Karenanya, berdoalah.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.