Yang paling berat? Masalah dan dialog

Masyarakat 01 Mar 2021 Komiruddin
Pilihan oleh Komiruddin
Yang paling berat? Masalah dan dialog
Yang paling berat? Masalah dan dialog © korawat tainjun | Dreamstime.com

Kehidupan ini tidak pernah sepi dari masalah,  baik masalah kita dengan diri kita sendiri atau kita dengan orang lain. Ada masalah orang tua dengan anak, masalah ketua dan anak buah, masalah pemimpin dengan rakyat,  dan masalah atasan dengan bawahan.

Apapun bentuk masalah harus ada solusinya. Membiarkan masalah tanpa solusi sama dengan membiarkan api kecil yang berada di dalam sekam. Bila ada angin bertiup akan membesar.

Yang paling berat – masalah dan dialog

Masalah yang paling berat adalah masalah antara para Rasul a.s dengan kaumnya. Hal ini karena para Rasul selalu mendapatkan penentangan dari kaumnya atas ajakan tauhidnya.

Tapi jika kita perhatikan, maka metode dialog adalah merupakan pendekatan utama para Rasul.  Semua rasul memulai dakwahnya dengan dialog yang ditopang dengan hujjah yang kuat.

Inilah Nabi Ibrahim a.s,  ia berdialog kepada Namrud tentang kekuasaan Allah Taala:

 “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

(Quran surah al-Baqarah, 2:258)

Dan Nabi Yusuf a.s ketika menjelaskan tentang keesaan Allah SWT.

 “Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?”

(Quran surah Yusuf, 12:39)

Mendahulukan dialog dan mengkesampingkan ego

Metode dialog inilah yang kita pahami ketika kita membaca surah Hud, surah al-A’raf,  surah Yunus dan lainnya,  bahwa seluruh Rasul a.s memanggil kaumnya dengan kata ‘Ya qaumi’ yang artinya ‘Wahai kaumku’.

Bahkan Allah Taala  pun berdialog kepada Iblis ketika terjadi mukhalafah (pembangkangan) darinya, saat ia diperintahkan Allah untuk sujud kepada Adam a.s.

Allah SWT berfirman:

“Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?”. Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”

(Quran surah al-Hijr, 15:32-33)

Membaca ayat di atas, kita dapat memahami, jika terhadap Iblis saja Allah Taala membuka ruang dialog padahal babnya adalah mukhalafah (pembangkangan), maka seharusnya terhadap sesama aktifis dakwah, ruang dialog dapat lebih terbuka apalagi masih dalam bab khilafiyah (perbedaan pendapat).

Demikianlah hendaknya kita menyikapi setiap masalah. Hendaknya kita mendahulukan dialog dan mengkesampingkan ego dalam memecahkan problem dan mencari solusi.