Yang tersirat dari ucapan

Islam Komiruddin
Terbaru oleh Komiruddin
Yang tersirat dari ucapan
Yang tersirat dari ucapan © Liderina | Dreamstime.com

Hal yang tersirat dari ucapan kadang lebih dahsyat dari yang tersurat. Perasaan benci akan terlihat dari ucapan. Apa yang tersimpan di dada jauh lebih besar dan dahsyat dari yang keluar dari bibir.

 “Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi….”

(Surah Yusuf, ayat 118)

Yang tersirat dari ucapan

Perasaan dengki dan benci itu kadang tak pernah berhenti menyala, walau yang dibenci dan didengki sudah cedera. Ketika piala raja didapatkan pada karung milik Bunyamin, saudaranya Nabi Yusuf a.s, perhatikan komentar saudaranya yang lain tentang ia dan Yusuf.

 “Mereka berkata: “Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum.”

(Surah Yusuf, ayat 77)

Dari sini kita dapat memahami, mengapa Allah SWT mengungkapkan kalimat yang menunjukan perbuatan bodoh (jahil) mereka dengan kata kata ‘Idz antum jaahiluun’ bukan “idz kuntum jaahiliin“, walau perbuatan bodoh mereka terhadap Yusuf sudah lama berlalu.

Seolah-olah Yusuf dengan kata ‘Idz antum’ mengatakan, ‘Dari semenjak kalian perlakukan saya, saat kalian memasukan saya ke dalam sumur sampai sekarang kalian tetap jahil, tidak mengerti dan tidak sadar’.

Beda dengan Idz kuntum yang artinya ‘dulu’ menunjukan kejadian yang lalu.

Kemuliaan Rasulullah SAW di tengah para pengikutnya

“Yusuf berkata: Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui atau jahil (akibat perbuatanmu itu?).”

(Surah Yusuf, ayat 89)

Sifat itu tidak akan hilang, sampai para pendengki itu melihat yang didengki mencapai martabat mulia. Saat itu baru dia sadar atas perbuatan salahnya. Maka bersabarlah. Suatu saat Allah SWT akan bukakan jalan dan saat itu engkau melihat orang orang yang membencimu akan tunduk mengakui kemulianmu.

 “Mereka berkata: Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).”

(Surah Yusuf, ayat 91)

Betapa bencinya Abu Sofyan kepada Rasulullah SAW. Ini ia buktikan dengan memimpin langsung setiap peperangan. Dan kebencian itu belumlah hilang hingga Abu Sofyan melihat sendiri betapa mulianya Rasulullah berada di tengah para pengikutnya dan besarnya pasukan Baginda yang datang menuju kota Mekah.

Baru setelah itu hatinya terbuka untuk memeluk Islam dan menghabiskan sisa umurnya dalam pengabdian. Kisah akan terus berulang dengan pemeran yang berbeda. Selalu ada orang yang mendengki dan kedengkiannya tidak akan hilang sampai suatu hari kita menolongnya saat ia jatuh terpuruk.