Yusuf Siba’i: Brigadir Jenderal, politikus, dan sastrawan

Budaya 24 Nov 2020 Muhammad Walidin
prabook.com-YusufSibai
Yusuf Siba'i © prabook.com

Sastrawan kita kali ini sangat unik karena lahir dari barak militer – Yusuf Mohammed Al-Sibai. Ia lulus dari Akademi Militer Mesir tahun 1937. Karirnya di militer cukup cemerlang. Ia mengajar di Akademi Kaveleri, menjadi professor di bidang sejarah militer (1943), menahkodai Museum Militer (1949), dan mencapai pangkat Brigadir Jenderal.

Pada tahun 1973, ia menjadi Menteri Kebudayaan di zaman Anwar Sadat. Hebat bukan?

Dari barak militer ke novel dan cerpen best sellers

Ihwal kepenulisan Siba’i dimulai dari masa kecilnya. Ayahnya adalah seorang penulis kreatif yang gandrung kepada sastra. Oleh karena itulah, bakat menulis telah tampak sejak awal kehidupannya. Bahkan saat di sekolah menengah, cerpen pertamanya telah terbit di majalah Majallati.

Menginjak usia matang, karya-karyanya menjadi best seller. Beberapa novelnya diadaptasikan ke banyak film. Sebanyak 22 cerpen dan tulisan novel telah ia tulis. Pada tahun 1973, ia mendapat penghargaan di bidang seni dari pemerintah Mesir. Sebelumnya, Ia telah menerima penghargaan dari pemerintah Italia  (1963). Ia dihargai sebagai penulis yang unik serta politisi yang cerdas dan canggih.

Sebagai penulis dengan gaya realisme, ia dikenal sebagai penulis yang tidak bersembunyi di menara gading. Melainkan selalu hadir di pasar-pasar, keluar masuk lorong dan berbagai jalan. Ia sangat lihai memtoret realitas sosial di lingkunganya.

Ia bisa mendeskripsikan masyarakat paling bawah dengan segala persoalannya. Di samping itu, Ia juga pandai mengespresikan visi politik dan sosial yang terjadi di Mesir. Kisah hidupnya yang serba berwarna ini akhirya difilmkan di serial TV Mesir dengan judul The Romantic Knight.

Salah satu jenis kritik sosialnya dapat dilihat dari novelnya yang berjudul Naib Izrail (1947). Novel ini menceritakan tentang kematian dengan segala bentuknya, bahkan menggambarkan Malaikat Izrail dengan sosok yang tampan dan halus layaknya manusia.

Novel ini  penuh dengan sindiran dan kritik sosial atas krisis moral yang dialami anak manusia. Semua diterpa krisisi, dari masalah rakyat jelata, hingga para pemimpin umat, dari pedagang kaki lima hingga konglomerat. Para pemuka agama, penulis dan intelektual pun tak luput dari sindiran Siba’i.

Dunia kesusastraan dan warisan karya

Siba’i ikut memainkan peranan efektif dalam dunia kesusastraan sejak tahun 1951. Peranannya itu dimulai dengan usahanya bersama-sama  dengan novelis dan jurnalis Ihsan Abdul Quddus dengan mendirikan Nadi al-Kuttab, Lembaga Rijal al-Adab, dan kemudian Naqqabah al-Kuttab al-Arab.

Selain itu ia juga turut andil dalam mengawasi pendirian beberapa surat kabar sastra, seperti al-Udaba’ al-Arab, ar-Risalah al-Jadidah, dan al-Qissah.  Ia juga aktif menjadi anggota Jam’iyah al-Qissah wa ar-Riwayah.

Yusuf yang lahir di distrik as-Sayidah Zaenab, Kairo pada tanggal 17 Juni 1917 akhirnya meninggal pada tahun 1978 dengan warisan karyanya sebagai berikut: Naib ‘Izrail (1947), Ardl an-Nifaq (1949), Inny Rahilah (1950), as-Saqamat (1952), Fidyatuka ya Lail (1953), al-Bahs ‘an Jasad (1953), Bain al-Atlal, Raddu Qalby (1954), Tariq al-Audah (1956), Nadiyah (1960) Jaffat ad-Dumu’ (1962), Lail lahu Akhir (1963), Nahnu La Nazra’ asy-Syauk (1969), Lasta Wahdaka (1970), Ibtisamah ‘Ala Syataihi (1971), dan al-Umru Lahzah (1973)

Di samping novel, ia juga meninggalkan antologi cerpen: Ya Ammah Dhahaktu (1948), Atyaf (1948) Baina Abu Rais wa Janinah Namisy (1950), Syekh Za’rab wa Akharun (52).

Peninggalannya juga dilengkapi dengan naskah drama: Istnata ‘Asyrah Imra’ah (1948), Khabaya as-Sudur (1948), Istna ‘Asyara Rajulan (1949), Ummu Ratibah (1951), Fi Maukib al-Hawa (1949), Min al-Alam al-Majhul (1949) Haza an-Nufus (1950), Mabka al-‘Assyaq (1950) dan Aqwa min az-Zaman (1965). Terima kasih Jenderal!