Zaid bin Amr; pengikut terakhir Nabi Ibrahim a.s

Sejarah Sanak
Pilihan oleh Sanak
Zaid bin Amr; pengikut terakhir Nabi Ibrahim a.s
Zaid bin Amr; pengikut terakhir Nabi Ibrahim a.s © Corradobarattaphotos | Dreamstime.com

Kaum Quraisy yang notabene keturunan Nabi Ibrahim a.s mempercayai Allah Ta’ala adalah Tuhan mereka. Ironinya, mereka menambahkan patung dan berhala sebagai sesembahan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tentu perbuatan ini merupakan kesyirikan yang nyata. Itulah dosa terbesar yang diperbuat manusia.

Di tengah kesesatan yang telah merata, ada beberapa orang yang diriwayatkan masih memiliki keyakinan yang lurus (hanif), salah satunya Zaid bin Amr bin Nufail r.a.

Agama Hanif

Ibnu Umar r.a meriwayatkan bahwasanya suatu ketika Zaid r.a pernah pergi ke Syam untuk mencari agama untuk diikutinya. Saat itu ia bertemu dengan orang Yahudi dan ingin menjadi pengikut agama tersebut.

Namun jawaban orang Yahudi sungguh di luar dugaan, “Kamu tidak diperkenankan memeluk agama kami sampai Allah murka kepadamu.”

Zaid r.a tidak habis pikir, ia berharap lari dari murka Allah SWT sedangkan Yahudi mengundangnya. Ketika Zaid mengungkapkan ketidak-mauannya, orang Yahudi menyarankan agar ia memeluk agama hanif.

Di waktu yang lain, Zaid r.a berjumpa dengan tokoh agama nasrani untuk menyatakan hal yang sama. Namun jawaban pendeta tersebut di luar nalar, “Kamu tidak diperkenankan memeluk agama kami hingga Allah melaknatmu.”

Zaid r.a tentu menolak persyaratan yang entah bersumber dari mana. Selanjutnya, pimpinan gereja itu menyarankan Zaid agar memeluk agama hanif. Setelah ia pelajari agama hanif adalah agamanya Nabi Ibrahim a.s. Bukan Yahudi dan Nasrani, tetapi agama yang hanya menyembah Allah SWT semata.

Menyerah dan pasrah

Saat keyakinan sudah muncul di hatinya, Zaid r.a mengangkat tangan seraya berdoa:

“Ya Allah, sesungguhnya aku bersaksi bahwa diriku berada di atas agama Ibrahim.”

(Hadis riwayat Bukhari)

Semenjak saat itu, Zaid r.a memproklamerkan agamanya. Ketika menyandarkan diri di dinding Kakbah, beliau menyeru kaum Quraisy untuk tidak mensyerikatkan Allah SWT dengan apapun.

Selain itu ia juga menasehati kaumnya itu agar tidak mengubur hidup-hidup anak perempuan. Paman Umar bin Khathab r.a itu pun bersedia memenuhi kebutuhan anak perempuan tersebut hingga dewasa.

Zaid r.a mencela orang yang menyembilih hewan qurban untuk selain Allah SWT. Beliau menunjukkan ketidak-sukaan dengan tidak memakan daging hewan ternak tersebut. Atas kekokohan imannya ini, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya ia akan dibangkitkan sendirian dalam keadaan bahagia.”

(Hadis Riwayat Ahmad)