Zaid bin Tsabit r.a, penulis al-Quran

Al-Quran Kkartika Sustry
Terbaru oleh Kkartika Sustry
Zaid bin Tsabit r.a, penulis al-Quran
Zaid bin Tsabit r.a, penulis al-Quran © Edwardgerges | Dreamstime.com

Al-Quran merupakan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Di awal perkembangan Islam ketika itu pasca wafat Rasulullah SAW, para sahabat kehilangan panutan besar sehingga membuat kekhawatiran terhadap penjagaan ilmu dan hukum agama yang telah diajarkan Rasulullah dan terpenting, pemeliharaan kitab suci al-Quran.

Memikirkan penyusunan al-Quran

Ditambah lagi banyaknya para pembaca dan penghafal al-Quran yang berguguran di medan perang. Juga menghindari adanya ajaran yang menyimpang sehingga bisa menyesatkan umat Islam setelah wafatnya Rasululullah SAW.

Oleh karena itu, Umar bin Khattab r.a dan Abu Bakar as-Shiddiq r.a memikirkan penyusunan al-Quran yang masih berserakan. Kesepakatan Umar dan Abu Bakar sebagai ikhtiar untuk menyelamatkan wahyu Allah SWT dengan menyusun al-Quran dengan ditulis dengan jelas menjadi mushaf.

Ketika itu dipanggilah seorang  sahabat Nabi bernama Zaid bin Tsabit r.a untuk menyusun dan menuliskan al-Quran. Namun, sebelumnya Zaid menolak perintah khalifah Abu Bakar r.a, karena pada masa Rasulullah SAW belum pernah dilakukan dan ditakutkan menyimpang dari ajaran.

Tugas yang diberikan baginya sangatlah berat, bahkan ia membandingkan urusan ini seperti menggeserkan gunung lebih mudah daripada menulis al-Quran. Akan tetapi setelah dijelaskan maksud dari penyusunan ini, barulah Zaid r.a menerima perintah tersebut.

Zaid bin Tsabit r.a, penulis al-Quran

Zaid bin Tsabit bin adh-Dhahak al-Anshori rodhiallahu anhu seorang sahabat Anshor yang berasal dari bani Najjar. Beliau juga merupakan pemuda yang cerdas, dengan hafalannya yang baik.

Ia mulai mengumpulkan ayat-ayat al-Quran yang pernah ditulis di tulang-tulang, kulit binatang, lempengan batu, daun lontar dan pelepah kurma. Kemudian ia mendatangi para penghafal al-Quran sembari menyimak hafalan mereka untuk ditulis.

Tetapi Zaid r.a sangat berhati-hati juga dijadikan para sahabat yang lain penghafal al-Quran sebagai saksi untuk memastikan kebenarannya. Zaid sebagai penulis al-Quran sangat berhati-hati dalam menjaga kemurnian al-Quran.

Zaid r.a sangat ingat urutan al-Quran yang kemudian ditulis dengan rapi di kulit binatang. Melalui sahabat Nabi Muhammad SAW ini dan berkat keikhlasan beliau, kita bisa tetap membaca al-Quran dengan tulisan yang benar.

Kita patut bersyukur atas kekuasaan Allah SWT melalui wasilah dan jerih payah para sahabat dalam menjaga keaslian al-Quran. Saat ini kita tidak harus menulis ulang al-Quran, hanya saja kita sebagai muslim tentunya sangat diharapkan kontribusinya dalam mengamalkan isi kandungan dari al-Quran.