Zakat untuk masyarakat dalam Islam

dreamstime_s_184727210
Zakat sistem jaminan sosial dalam Islam © Sukarman _ | Dreamstime.com

Salah satu konsep pengelolaan dana zakat yang telah dilakukan oleh lembaga amil zakat pada umumnya adalah  yang biasa disebut zakat produktif. Fokusnya adalah dengan memahami bahwa menolong golongan miskin tidak memberi ‘ikan’ melainkan dengan memberi ‘kail’.

Kalau zakat diberikan semata-mata untuk konsumtif, maka pertolongan ini bersifat sementara. Tapi kalau diberikan untuk membantu yang bersangkutan untuk produksi atau usaha, maka pertolongan itu akan bisa membantu yang bersangkutan untuk keluar dari situasi kemiskinan itu sendiri. Di sinilah zakat bisa menjadi jaminan sosial bagi masyarakat yang fakir atau miskin.

Sebagai sistem jaminan sosial dalam Islam, dapat kita lihat hikmah  disyariatkannya zakat kepada umat Islam, yakni  merupakan perwujudan ketundukan, ketaatan dan rasa syukur atas karunia Allah SWT, sebagaimana penegasan dalam al-Quran surah aAt-Taubah, ayat 103.

Zakat juga merupakan hak mustahik (orang yang menerima zakat) yang berfungsi untuk menolong, membantu dan membina mereka ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera, agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak dan dapat beribadah kepada Allah SWT.

Yang tidak kalah penting, zakat sebagai sumber dana bagi pembangunan sarana maupun prasarana yang harus dimiliki umat Islam, seperti sarana ibadah, pendidikan, kesehatan, sosial maupun ekonomi sekaligus sarana pengembangan kualitas sumber daya manusia.

Dalam upaya memberikan jaminan sosial kepada masyarakat (mustahik), pola pemberdayaan yang tepat sasaran sangat diperlukan, dan bentuk yang tepat adalah dengan memberikan kesempatan kepada kelompok miskin untuk merencanakan dan melaksanakan program ekonomi keluarga yang telah mereka tentukan.

Di samping itu. masyarakat juga diberikan kekuasaan untuk mengelola dananya sendiri, baik yang berasal dari pemerintah maupun pihak amil zakat, inilah yang membedakan antara partisipasi masyarakat dengan pemberdayaan masyarakat.

Beberapa upaya agar pemberdayaan ekonomi masyarakat bisa dijalankan melalui dana zakat, yaitu  pertama, mempersiapkan pribadi masyarakat menjadi wirausaha. Karena kiat Islam yang utama dalam mengatasi masalah kemiskinan adalah dengan bekerja. Dengan memberikan bekal pelatihan merupakan bekal yang amat penting ketika akan memasuki dunia kerja.

Program pembinaan untuk menjadi seorang wirausaha ini dapat dilakukan melalui beberapa tahap kegiatan. Pertama, memberikan motivasi moril berupa penerangan tentang fungsi, hak dan kewajiban manusia dalam hidupnya yang pada intinya manusia diwajibkan beriman, beribadah, bekerja dan berikhtiar dengan sekuat tenaga sedangkan hasil akhir dikembalikan kepada dzat yang maha pencipta.

Yang kedua, pelatihan usaha, di mana melalui pelatihan ini setiap peserta diberikan pemahaman terhadap konsep-konsep kewirausahaan dengan segala macam seluk beluk permasalahan yang ada di dalamnya. Sehingga dapat menumbuhkan motivasi terhadap masyarakat untuk berwirausaha. Yang ketiga, permodalan bisa dalam bentuk uang atau sarana usaha yang merupakan salah satu faktor penting dalam menggerakkan usaha.

Setelah dilakukan pembinaan, langkah selanjutnya adalah menyiapkan pendampingan (fasilitator) Untuk memastikan program pemberdayaan masyarakat miskin melalui dana zakat dapat berhasil, ternyata peran pendamping sangatlah penting. Amil zakat atau Badan Amil Zakat yang ada perlu memastikan agar pelatihan yang telah dijalankan oleh para mustahik, ditindaklanjuti dengan penyaluran modal usaha atau hal lain yang menunjang usaha mustahik dapat berjalan, dan proses dalam kegiatan tersebut idealnya melibatkan pendamping.

Di samping itu, pendampingan yang dilakukan tidak hanya sebatas hal yang terkait program usaha yang dijalankan tapi juga pendampingan dari sisi  spiritual, di mana setiap mustahik yang tersentuh program pemberdayaan juga diharuskan mengikuti pertemuan pekanan atau bulanan.

Selain membahas tentang perkembangan usaha pada pertemuan tersebut juga diisi dengan siraman rohani keagamaan. Dengan upaya ini diharapkan tumbuh kesadaran untuk berusaha secara maksimal dan secara bersamaan tumbuh pula kesadarannya untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.